Selasa, 31 Desember 2019

Istri Tak Pernah Salah, itu Keliru

Khanza termangu memikirkan antara dua pilihan, ikut suami berlibur di hari satu-satunya kesempatan keluarga mereka berkumpul di liburan kali ini, tersebab si sulung akan kembali mondok tiga hari kedepan, demikian pula sang suami akan bersafar diwaktu yang sama, ataukah ia memilih tinggal untuk menunaikan amanahnya di sebuah perkumpulan sebagai ketua. Menghadiri musyawarah yang jarang ia tunaikan terlebih dia akhir tahun jelang pertanggungjawaban. Pergolakan batin terus terjadi sepanjang hari itu. Antara amanah dan ikut suami.

Usai penerimaan raport anak-anaknya, suami pun pulang ke rumah. Ia sampaikan masalahnya pada suami yang cukup membuatnya mupeng, sesulit menyelesaikan e-raport yang baru saja usai (segitunya hhh). Kali ini ditengah kebingungannya antara amanah dan suami, pelan2 ia sampaikan. Meminta pendapat darinya. Sang suami memintanya ikut secara tersirat. Bukan berarti suaminya tak faham tandzim. Hanya saja, kedatangannya kali ini ke kampung halaman begitu dinantikan. Khansa dan anak-anaknya dikenal maniak mangga, terlebih mangga khas Bugis yang harum nan semerbak yang tak bisa disembunyikan, mangga macan. Sekarung mangga jenis apapun, kan bersih dari pandangan dalam 2 hari di keluarga ini, hebat kan?  Mangga ini tiap tahunnya melimpah di kampung suaminya. Sekeranjang pemberian tetangga telah dibuang percuma karena lelah menunggu sang mangga lovers ini yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Begitu kata mertuanya via telp.

Meski sang suami memaparkan pandangannya, tanpa memberi instruksi jelas untuk melakukan satu pilihan. Namun Khanza menyimpulkan dari raut suaminya bahwa ia harus ikut kali ini, mengabaikan amanah lembaga di pundaknya dan memilih berkhidmat pada sang suami. Berat, namun itulah hidup, memilih adalah hak dan menjalankan pilihan dengan ikhlas adalah sebuah keniscayaan sebagai bagian dari garis tangan yang telah termaktub 50 ribu tahun sebelum bumi tercipta. Ah, yang ini sih semua pasti sudah faham teorinya. Prakteknya kadang amburadul termasuk penulis yang juga manusia biasa.

Sebelumnya keluarga ini telah merencanakan untuk _dinner_ di pinggir jalan dalam perjalanan pulang. Qadarullah, nasi dan lauk telah terbungkus rapi, namun piring dan kawan-kawannya terlupakan. Ada raut kecewa di wajah khanza, ia merasa perjalanannya sedikit terganggu. Kecerdasan bahasanya dan stok 20.000 kata-katanya meluncur bak air deras. Sang suami menawarkan meminjam peralatan makan saudara Khanza yang akan dilewati, lagi2 mereka keluar kota. Beruntung Khanza teringat salah satu rumah rekan kerjanya yang akan ia lalui. Maka ia pun menghubunginya. Binar bahagia terpancar dari matanya, temannya itu sedang di rumah. Dan takdir Allah selalu baik. Selain peralatan makan, mangga andalan keluarganya disodorkan sang rekan sebagai buah tangan sekaligus cemilan perjalanan. Karena sang rekannya ini sangat mafhum bahwa Khanza penyuka mangga. Dan dalam hal ini mereka punya kemiripan. Tak lupa ucapan _jazaakillahu Khairan_ terlantun pada rekannya, semoga saja Allah menggantinya dengan lebih baik. Baunya yang semerbak meliputi ruang mobil tak menyurutkan semangat perjalanan keluarga ini. Dan kerinduan memakan  buah ini pun terbayar dalam perjalanan pulang.

_Qadarullah walhamdulillah_. ketertinggalan peralatan makan yang sempat ia keluhkan, dinanti oleh takdir yang lebih baik dariNya. Begitu kata sang suami. Ah, Betapa manusia itu makhluk yang suka mengeluh. Banyak2 khanza beristigfar, semoga ia diampunkan.

Dalam perjalanan, Khanza merasa kepalanya agak pening. "Ah, mungkin cuma kurang istirahat. Esok pagi akan sembuh juga". Batinnya.

Mereka akhirnya sampai di kampung suami tepat jelang jam sepuluh malam.  Saat penghuni rumah sebagian besar telah terlelap. Sengaja perjalanan kali ini dipilih malam, berbeda dari biasanya. Karena kajian bulanan berakhir jelang Maghrib. Sedangkan jika mereka memilih esoknya, waktu berlibur akan semakin ringkas. Seperti sebelumnya, jika mereka hanya datang numpang buang angin di kampung, sang mertua akan terlihat berat memahami. Di umurnya yang telah sepuh, rasanya sang suami ogah mengulang perjalanan singkat itu terlebih di pekan liburan. Ibunya mana faham tentang lembaga yang dipimpin anaknya yang akan berpengaruh pada kunjungan mereka, atau kegiatan musyawarah Khanza yang bertepatan dengan jadwal liburan mereka.

Di tengah malam, Khanza terbangun, merasakan pening kepalanya bertambah berat. Hingga keesokan harinya, demam menggigil mulai terasa. Namun, berkali-kali ia mengucap syukur, akan "teguran" Sang Pemilik takdir.  Sekiranya saja ia memilih pilihan pertama dan tak ikut berlibur kali ini, toh keadaan tetap akan sama, ia tetap akan absen dari musyawarah, berjuang sendiri dengan sakitnya tanpa keluarga tercinta. Sekaligus kekecawaan pada anak, suami dan mertua dikampung akan ketidakhadirannya menyicipi hasil kebun yang hampir habis. Khanza tak henti hentinya beristigfar sebanyak-banyaknya. Rasa sakit yang ia derita ia syukuri sebagai sebuah pembelajaran besar, bahwa suami memang untuk ditaati dan sekaligus mematahkan opini tentang "istri tak pernah salah".

Seorang insan yang berpeluh dosa
@⁨Ummu Zaki

Pergilah Anakku

Liburmu telah usai, anakku
Saatnya melepasmu lagi
Tuk menapaki jalan hidupmu
Menjadi bagian kisahmu nanti

Pergilah meraih impian, anakku
Yang tak  sebatas bintang di langit
Tapi melampaui tujuh lapisan langit
JannahNya, hingga meraih cita tertinggi
Menatap wajahNya di kehidupan abadi
Impian kita bersama, anakku.

Kembalilah meraup ilmu , anakku.
Agar langkahmu menyisakan jejak berberkah
Suci nan terpelihara seperti sematan doa
yang tersisip di namamu.

Pergilah, anakku.
Kami ikhlash demi penjagaan aqidahmu
Di penghujung waktu yang sarat fitnah
Agar kau mampu menghimpun ibrah

Pulanglah, anakku.
Saat bekalmu telah memenuhi kalbu
Hingga kau menjelma menjadi qurrota a'yun
Di akhir zaman yang semakin tak anggun.

Pinrang, 31-12-2019
@Ummu Zaki

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...