Saat menemani si kecil 1y melihat ikan di kolam sekolah tempat Khanza mengabdi, tiba2 hpnya berdering.
“ Umm, nak Ali….” suara dari seberang telpon terbata menahan Isak mengisyaratkan hal buruk terjadi. Dengan nada cemas dan ragu.
“Knp, Bu?” Perasaan Khanza mulai tak enak, terbayang hal buruk menimpa Ali, anak keempatnya yang kini sedang dibangku TK.
“Kepala Ali umm, bocor, habis dilempari batu sama temannya di depan sekolah” lanjut suara yang terdengar berat dibalik hp yang tak lain adalah salah satu guru Ali.
“ Jadi kondisinya bagaimana? Apakah lukanya sobek butuh dijahit?” tanya Khanza khawatir.
“ Sepertinya umm, kami bawa ke puskesmas ya, umm?
“Iya, Bu dibawa saja, sambil saya mencari cara agar bisa kesana segera”.
Khanza menghela nafas panjang,mencoba menenangkan diri. Bahwa semua atas izinNya. Takdir sedang berlaku, semua terjadi bukan kebetulan. Yah...dengan fikiran seperti itu ia bisa menghilangkan kecemasan dirinya. Menenangkan hatinya dan berfikir mencari solusi. Sebab saat ini ia tak bisa segera meluncur ke sekolah Ali. Sang suami sedang ada jadwal khutbah di luar kota, sehingga jemputan 1 jam lebih lagi. Sedang ia tak mengendarai motor hari itu.
Ia teringat sebelum Ali kesekolah pagi tadi, berkali-kali ia mengingatkan “ Nanti pulang sekolah, Ali jangan keluar dari TK, ya? Didalam saja sambil tunggu jemputan ayah”. Ali hanya mengangguk. “ Aisyah, jagain adek nanti, ya? Ingatkan agar tak keluar dari TK”. Pinta Khanza pada anak ketiganya yang kini duduk di bangku SD kelas 2. Mereka memang biasanya menunggu jemputan di lokasi TK tempat Ali menimba ilmu. Dengan kejadian itu, Ia bisa menduga jika Ali mengabaikan peringatan yang ia berikan tadi pagi. Karena lemparan batu hanya bisa terjadi di luar area sekolah.
Khanza teringat salah satu rekan mengajarnya yang biasanya ke kantor nyetir sendiri. Mungkin ia bisa membantu mengantar ke puskesmas. Qadarullah, hari itu ia diantar suaminya. Mobil dinas sekolah terparkir namun semua supir sedang ke mesjid menunaikan sholat Jumat. Rekannya menelpon hendak menawarkan tumpangan motor tapi ia terlanjur telah menelpon langganan ojek perempuan yang biasa ia gunakan jasanya.
Khanza mencoba menghubungi suaminya, tapi berkali-kali tak diangkat. Ia melirik jam, memang saatnya jelang shalat Jumat. Tiba2 ia mendapatkan chat guru Ali bahwa darahnya telah berhenti mengalir. Ia telah diberi pertolongan pertama. Namun Ali menolak dibawa ke puskesmas tanpa ibunya. “Alhamdulillah, jazaakillahu Khairan (semoga Allah membalasnya dengan lebih baik)”. Khanza sedikit bisa bernafas lega.
Si Bu ojek pun tiba. Dengan menggendong anaknya yang masih 16 bulan, Khanza membawanya serta. Dalam perjalanan, Bu ojek berkisah kalau hari itu motornya sedang masuk bengkel jadi yang dia pakai saat ini adalah motor pinjaman. Ia bertutur jika dua penumpangnya terpaksa diturunkan dijalan.
Tiba2 Khanza teringat. Tadi pagi ia sempat berfikir untuk menghubungi bu ojek agar menjemput Aisyah dan Ali untuk diantar ke kantornya supaya sang suami sekali jemput mereka disana. Cerita bu ojek semakin menegaskan bahwa kecelakaan Ali memang sudah diskenariokan olehNya. Memang ia ditakdirkan dengan kejadian itu. Sekiranya ia jadi menelpon di pagi tadi, bisa jadi Bu ojek tak bisa tersebab motornya yang lagi di bengkel.
Sampai di lokasi TK, Khanza langsung mendekati Ali yang menangis dengan kepala dibalut perban dan hanya mengenakan celana sebab bajunya basah usai disiram air untuk menghilangkan bercak darah. Ia mencoba mengorek keterangan kejadian sebenarnya. Sang guru mengisahkan jika ia dilempar batu tapi sebabnya bermula dari Ali sendiri. Khanza pun hanya bisa berkata “oh, kalau begitu, itu kesalahan Ali karena memancing kemarahan orang lain, meski melempar batu tidak bisa dibenarkan juga.
Ia kemudian mencoba membujuk Ali agar mau ke puskesmas tapi Ali menolak keras. Ia takut dijahit. “ Tak sakit nak, kan dokternya kasih obat agar tak terasa saat di jahit”. “Tak mauuu” Teriak Ali bercucuran air mata. Khanza merubah posisi. Ia berjongkok dihadapan Ali yang sedang duduk di kursi, mencoba menatap matanya. “ Kalau tak dijahit, nanti sembuhnya lama bahkan bisa sampai membusuk dan berulat kalau infeksi, lagian ndak sakit, kog. dokter kasih obat bius. Tapi kalau dijahit, lukanya tertutup sehingga kuman jahat tak bisa masuk dan tak akan berulat selain itu akan cepat sembuh. Ali pilih yang mana?”
“ Tak mauuu”. Jawab Ali lagi namun dengan nada yang tak sekeras sebelumnya. “ Kalau kepala Ali membusuk tak ada yang mau berteman, termasuk ibu guru, kan? Sambil Khanza menoleh ke gurunya. “Iya, ibu juga enggan mendekat kalau kepalanya Ali berulat”. Tangisan Ali mulai reda.
Yesss!, akhirnya Ali melunak. Ia pun mengangguk saat kembali diminta memilih kepalanya dijahit. “ Anak sholehku memang jago!” sambil Khanza mengusap kepalanya.Khanza kini lega. Semoga saja kejadian ini menjadi ilmu kehidupan bagi putranya bahwa nasehat baik orang tua harus ditunaikan, bahwa konsekuensi dari sebuah perilaku buruk bisa fatal. Khanza berharap kisah itu terekam dalam memori jangka panjangnya yang akan ia jadikan sebuah pelajaran berharga. Biarlah ia memetik hikmah sendiri agar kelak menjadi bekal pijakannya untuk lebih menguat diatas kakinya sendiri.
#UmmuZaki
(Yang belajar mendidik diri dan buah hatinya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar