Individu yang hidupnya biasa. Hidupnya bak air mengalir, mengikuti kemana arus menggiring. Kesitulah ia akan melaju. Hidupnya tak terukur. Tak ada rencana harian, pekanan apalagi bulanan terlebih tahun-tahun berikutnya. Tak ada tantangan. Hidup datar-datar saja. Ia akan menjalani hari ini bagai hari kemarin. Pekan ini seperti pekan lalu bahkan tahun lalu sama saja tahun ini dan mungkin tahun esok pun tak jauh beda. Yang berbeda hanya jatah umur yang semakin menipis.
Seorang pemimpi sejati. Memiliki arah jelas, terukur dan terencana. Harinya penuh aktivitas positif. waktunya tak berlalu begitu saja. Jadwal harian menghiasi catatanya. Rencana pekanan tertera jelas di agendanya. Kegiatannya mencerminkan target jangka pendek yang menjadi jalan menuju target jangka panjang meraih mimpi BESAR. Tantangan menghiasi jalannya, bergelombang tak datar. Meski itu seorang ibu yang menghabiskan harinya di rumah, bukan berarti aktivitasnya tak biasa saja.
Sebagai seorang muslim, Rasulullah telah mengajarkan untuk memimpikan surga tertinggi, Jannatul Firdaus, surga yang terletak dibawah ArsyNya Allah 'Azza Wajalla. Yang tak diraih dengan hidup biasa saja atau menunggu hasil keringat orang lain. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah menginginkan umatnya bukan individu yang biasa saja. Tapi yang punya mimpi besar dan berusaha meraihnya dengan tak berleha-leha. Berupaya menggapai mimpi dengan peluh perjuangan yang tak sedikit. Memaksa diri melaluinya. Keluar dari zona nyaman. Yang hanya mampu dilalui oleh pemimpi dan pejuang sejati. Yang tak mudah jatuh hanya karena perkara kecil. Yang menyadari sepenuhnyai bahwa surgaNya tidak murah.
Hidup itu ibarat bersafar mencari alamat kampung halaman. Seseorang akan berusaha menemukan arah yang tepat menuju tempat itu. Menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan. Perbekalan mental dan fisik ia kerahkan semaksimal mungkin. Kompas, peta dan juga tak malu bertanya pada orang yang faham tentang arah terbaik menuju tempat yang dituju. Bukan malah sok tahu tentang arah yang kabur baginya.
Jika hidup diibaratkan bermukim. ia akan dilalui seadanya. Selama kebutuhan primer terpenuhi, ia tak perlu memimpikan pulang kampung. Ia tak perlu berpeluh menyusun target-target dan mengeksekusinya demi mencari jalan kembali pulang. Sebab ia terlanjur jatuh cinta pada hidupnya yang biasa saja. Namun sayangnya pada akhirnya ia harus pulang kampung karena hakikatnya ia bukan pemukim sesungguhnya. Hanya seorang imigran.
Jika Ramadhan kemarin sama saja dengan Ramadhan akan datang. Shalat, puasa, tadarus, ibadah begitu-begitu saja tanpa ada peningkatan kuantitas ataupun kualitas. Pergantian Ramadhan hanya sebuah persoalan waktu bukan peningkatan kualitas diri. Kualitas ibadah sebelum Ramadhan sama saja setelahnya. Tak ada efek menanjak dari ramadhan yang merupakan “pesantren diri” untuk berbenah. Maka mungkin itu salah satu indikator bahwa kita orang biasa, bukan pemimpi besar.
Padahal jelas dalam hadist Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ ُحُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.
“
“
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang mubarak (diberkahi). Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia *tidak memperoleh apa-apa* .” (HR. Nasa`i dan Ahmad serta dinyatakan shahih oleh Albani).
Berbeda dengan seorang seorang pemimpi besar, ia tak mencukupkan diri pada perkara mubah untuk loba. Ia akan rakus mencari kesibukan positif terkait jaring-jaring mimpi besarnya, Jannatul Firdaus dan memandang wajah Sang Pemilik Arsy.
Pertanyaannya adalah, yang manakah diri ini?
#UmmuZaki
*Belajar bermimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar