Selasa, 24 September 2019

Mengenalkan Kemandirian Finansial Sejak Dini


Setandan pisang kepok muda senantiasa  menjadi oleh-oleh wajib tiap pulang dari kampung halaman sang suami. Kali ini sang bibi dari suami yang memberikan  hasil kebun pisangnya. Ada rasa iba bercampur kekaguman, dengan keterbatasan finansial tapi mereka masih bisa berbagi hasil kebun.

Sesampai di rumah, anak-anak memberikan ide untuk membuat kripik pisang. Dibantu mereka, setengah tandan pisang ludes menjelma menjadi kripik  rasa coklat dan balado. Si sulung memboyong sebagian besar produksi hari itu ke pondok sebagai modal cemilan.

"Bu, saya mau jual kripik pisang di sekolah,  boleh kan, Bu?". Ungkap anak ketiga di keluarga itu. "Boleh". Jawab sang ibu. Gadis kecil yang duduk di kelas 3 SD ini memang memiliki jiwa enterpreneur, setiap kali ia makan cemilan rumah yang menurut takaran lidahnya lezat, maka akan terbesit untuk menjualnya. Tak mau ketinggalan kakaknya yang duduk di bangku SD kelas 6 pun ikut mengepak untuk ia jual pada teman-temannya. Sang ibu akan senantiasa mendukung dan memfasilitasi. Tak lupa ia ajarkan  sistem bagi hasil, modal usaha dan persentase laba yang ia peroleh pada tiap bungkusnya.

Pelajaran kehidupan seperti ini ia anggap perlu ia bekali pada anaknya. Bukan bermaksud mengeksploitasi anak tetapi kini tuntutan zaman meminta kreativitas dalam persaingan global. Jika ia tak terbangun sejak dini. Maka tak heran saat mereka telah baligh atau bahkan telah menyelesaikan studi dan harusnya telah  mulai berfikir berpijak diatas kakinya sendiri, namun kenyataannya tak jarang kemandirian finansial masih tak jua nampak. Minimal mereka merasakan betapa sulitnya kepingan-kepingan rupiah diperoleh. Ia membutuhkan usaha dan perjuangan. Keringat dan peluh mewarnai proses itu serta belajar mengabaikan gengsi yang menjadi benteng utama menuju kemandirian finansial. Begitu fikirnya.

Pulang sekolah, mereka berkisah betapa jualan mereka diminati hari itu, sampai beberapa temannya tak kebagian. Sang emak menyimak keseruan mereka berkisah kemudian berkata "memang untuk memulai sebuah usaha, kita harus mengabaikan rasa malu. Jika ia halal maka tak ada yg perlu digengsikan. Gengsi hanya akan mengubur kreatifitas kalian yang mungkin bisa sangat bermanfaat bagi diri dan lingkungan . Jika tak mau mencoba kalian tak akan tahu rasanya."

"Bu, saya masih mau jualan ah, nanti saya yang kerja sendiri" sang gadis kecil menimpali. "Boleh. Masih ada setengah tandan pisang, jika kalian ingin mendapatkan presentasi laba lebih dari yang hari ini, kalian harus berusaha sendiri dari proses awal hingga akhir". "Yuhuiii!" respon mereka kompak. Menaikkan presentase bagi hasil seperti ini tak ayal melecutkan semangat mereka. Sedari sore hingga malam usai melaksanakan kewajiban harian tentunya, mereka berkutat di dapur memproduksi kripik masing-masing. Sang emak hanya memantau bak seorang mandor hilir mudik di dapur.

Kemandirian tidak selalu hadir begitu saja, ia melalui proses penempaan yang terkadang harus mengabaikan rasa iba pada buah hati sendiri. Kamandirian tak jarang hadir dari kesulitan-kesulitan. Jika sang anak tak menemukannya tersebab berbagai kemudahan dari orangtuanya, maka menyengaja menghadirkan kesulitan itu sendiri menjadi sebuah keharusan demi kuatnya pijakan kaki mereka saat masanya telah tiba kelak.

*Ummu Zaki

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...