Terkadang orang tua memuji anaknya sebagai wujud apresiasi atas pencapaian yang telah dilakukan. Sebaliknya akan mengkritisi jika melakukan hal negatif. Kalau di keluarga kami, seringkali kalimat “pintarnya anak Sholeh/sholehahku” terucap sambil memeluk, mengusap kepala atau punggung Nisa saat memujinya. Rasanya hanya kalimat apresiasi ini menjadi andalan kami selama ini. Namun setelah berkenalan dengan komunikasi produktif di institut Ibu profesional, metode ini sepertinya perlu direvisi meski tak berarti sepenuhnya keliru.
Pujian hendaknya jelas. Dengan kata lain kita tak sekedar memuji individu sang anak tetapi lebih pada usaha yang ia lakukan. Seperti saat Nisa hari ini sukses melakukan tugasnya tanpa diingatkan lagi. Maka kalimat “ Maa SyaaAllah, anak sholehahku kali ini bekerja dengan ikhlas, good job” bisa menjadi pujian yang tepat sasaran. Tak lupa sentuhan fisik mewakili bahasa tubuh disertakan sebagaimana hasil penelitian Albert Mehrabian menyatakan bahwa 55% bahasa tubuh berpengaruh besar pada hasil komunikasi dibanding perasaan yang hanya 7% atau intonasi 38%.
Anak akan memahami bahwa sikap ikhlas yang mungkin ia maknai melakukan pekerjaan tanpa diingatkan dan tanpa menggerutu merupakan hal positif yang tak sekedar menghadirkan rasa senang bagi orang lain tapi juga menjadi sikap positif yang mesti dibangun.
Demikian pula dalam memberikan kritikan. Mengkritisi individu sang anak hanya akan melahirkan sikap antipati yang bisa berkepanjangan. Seyogyanya jika anak melakukan hal yang keliru, perbuatan itulah yang dikritisi bukan personalnya. Seperti saat Nisa mengucapkan kalimat negatif pada adiknya pagi tadi, saya mencoba mengkritisi perbuatannya bukan personnya dengan mengatakan “Nak, ucapan yang tadi itu tak baik. Perkataan negatif seperti itu hanya akan menjadi pemicu pertengkaran dan tidak ada manfaatnya, bukankah kakak hafal hadistnya bahwa berkata baik atau diam?” Nisa hanya terdiam mendengarkan. Akan berbeda responnya andai saja saya mengatakan “ aduh Nisaa..., kamu itu betul-betul menjengkelkan, selalu saja memicu pertengkaran dengan adik!”. Maka Nisa akan merasa bahwa dirinyalah yang negatif bukan kalimatnya.
Mengkritisi personal bisa menciptakan label negatif pada sang anak. Sehingga dia akan cenderung bersikap demikian meski secara sadar ia mengetahui bahwa hal itu keliru. Hal itu akan melekat di benaknya hingga ia enggan berusaha merubah sikap karena terlanjur berfikir “tak ada gunanya, toh tetap saja saya dianggap demikian”. Lebih parah jika merasa “memang saya begitu,kog”.
Maka jelas dalam memuji dan mengkritisi, insyaaAllah akan dikenang sang anak kelak sebagai sebuah pendidikan attitude yang akan melekat hingga dewasa.
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar