Jumat, 17 Juli 2020

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi best seller. Dimasa pandemi inj saat pembelajaran online diberlakukan, maka pembelajaran memanusiakan manusia ini benar-benar diharapkan oleh  orang tua dan peserta didik sebagai subjek pembelajaran bukan malah menjadi objek pembelajaran.

Mengapa dikatakan pembelajaran di masa pandemi lebih mengedepankan kemanusiaan?

Telah difahami bersama bahwa akibat pandemi ini maka hampir seluruh aktivitas  dilaksanakan secara daring terutama bidang pendidikan. Dan itu sangat berbeda dengan tatap muka. Jika dalam pembelajaran tatap muka peserta didik secara mandiri datang kesekolah dan bertatap muka langsung dengan guru maka dimasa pandemi terjadi sebaliknya, terutama  anak-anak yang berada  pada jenjang sekolah dasar yang tentu porsi pendampingan orang tua jauh lebih besar dibanding jenjang berikutnya.

Persoalannya kemudian adalah jika sang orang tua merupakan pekerja yang sejak pagi hingga sore harus berada di kantor dimasa new normal ini.  Maka tentu mereka akan kesulitan mendampingi sang anak. Terlebih jika anak yang harus didampingi lebih dari satu. Belum lagi saat tiba di rumah pada sore hari sang anak tidak begitu respon langsung menerima beban tugas dari guru melalui lisan orang tua. Maka ini akan menjadi masalah jika sang guru tak menerapkan toleransi tinggi yang mengedepankan kemanusiaan dan kebijaksanaan dalam durasi pengumpulan tugas hari itu.

Disamping itu, handphone yang merupakan satu-satunya media pembelajaran online dengan mengandalkan komunikasi di medsos tentu memiliki keterbatasan. Terlebih jika sang orangtua menggunakan hp yang sama dalam komunikasinya sendiri. Maka jam standby hp pun akan berpengaruh. Seharian di kantor dengan hp yang standby belum lagi jika handphone yang sama digunakan dalam bekerja, maka bisa saja terjadi baterai habis saat tiba di rumah dan berakibat tugas anaknya hari itupun tak tertunai. Yang risau tentu bukan sang anak semata namun terjadi kerisauan bersama antara orang tua dan anak. 

Maka jika sang guru tidak mengedepankan toleransi durasi waktu pengumpulan tugas maka hal ini akan menyulitkan bagi mereka dan bukan tak mungkin memicu tingkat stress berlebih dimasa yang seharusnya imunitas tubuh diperkuat dengan tak lupa bahagia.

Pembelajaran online lebih mengedepankan konteks bukan konten. Hal ini tak berarti pengabaian terhadap silabus yang menjadi acuan pembelajaran. Sebagaimana pernyataan menteri pendidikan bahwa "dimasa pandemi ini guru dan siswa tidak  wajib mengejar ketuntasan kompetensi inti dan dasar" . [1]

Oleh karena itu,  guru dituntut kreatif memilah materi pembelajaran yang esensial yang lebih kontekstual dalam membekali peserta didik menghadapi kehidupan nyata bukan kehidupan maya ataupun khayalan yang tercatat hebat di atas kertas namun payah dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya sendiri. 

Pembelajaran lebih bermakna dan konkret bukan teoritis dan abstrak. Intinya  guru perlu melakukan penyederhanaan materi. Sebagaimana himbauan bapak menteri tentang pembelajaran dimasa pandemi yang hanya terfikus pada tiga hal, literasi, numerasi dan pendidikan karakter.[1]

*Husnul Khatimah Ummu Zaki
Pendidik dan ibu dari 4 anak sekolah daring 

Sumber:[1] https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/edu/read/2020/07/03/120021871/mendikbud-jelaskan-3-fokus-penyederhanaan-kurikulum-selama-pandemi







Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...