Senin, 24 Desember 2018

Ketika Keteguhan Teruji

By: Ummu Zaki

Pertama kali dalam sejarah keluarganya, sebutlah Hajar. Anak-anaknya yang telah berumur sekolah tak ikut serta dalam acara akhir semester. Disebabkan sakit yang menyerang mereka secara bersamaan. Si sulung tak jadi ikut rihlah camping di pegunungan pinus Malino bersama kawan-kawan pondoknya. Kedua anaknya yang duduk di bangku SD tak turut serta dalam acara makan-makan yang dirangkaikan dengan penerimaan raport semester gasal. Demikian pula  yang duduk di bangku TK, juga tak bisa hadir. Padahal sepekan sebelumnya mereka sudah request dibuatkan kebab panganan khas timur tengah dengan kulit kebab terbuat dari tepung yang diuleni, dikenal dengan tortilla kemudian diisi dengan sayuran dan daging, lalu dipanggang tak lupa saus sambal dan mayonais menambah gurih rasanya. Memang setiap kegiatan makan-makan seperti ini, sang ibu selalu memberi pilihan pada mereka untuk memutuskan. Dan PR besar baginya youtubing dan Googling cara memasaknya.

Namun kali ini mereka harus bersabar dan mengubur dalam harapan untuk ikut pada kegiatan yang hanya terjadi sekali dalam 6 bulan tersebut. Sang ibu tentunya merasa iba menyaksikan mereka dalam kondisi sakit yang berusaha mengabaikan harapannya. Ia kini kembali menanamkan  pada mereka tentang konsep takdir. Bahwa tak semua yang disukai akan berlaku bagi kehidupan. Tapi satu hal bahwa segala yang berlaku adalah yang terbaik bagi diri dan kehidupan karena ia terjadi atas iziNya. Hanya saja akal tak mampu mencerna seketika. Hikmah biasanya baru terasa usai berlalu beberapa waktu.

Allah subhanahu Wata'ala berfirman:

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216).

Tak lupa ia mengajarkan tentang adab ketika sakit, termasuk meminimalisir keluhan dan menggantinya dengan zikir. Bahwa keluhan tak membuat kondisi membaik. Bukankah setiap ucapan dicatat oleh malaikat? dan mengeluh bukanlah hal positif bahkan bisa terjatuh pada tidak ridhanya kita dengan ketentuan Allah subhanahu Wata'ala.

Diwaktu bersamaan pula, sang ayah pun harus dengan berat hati meninggalkan anak-anaknya yang berjejer di ruang tengah terbaring sakit. Mengandalkan sang istri dan bantuan Sang Penyembuh untuk mengatasi segalanya. Ia harus memenuhi panggilan undangan kegiatan berskala Nasional yang terbatas hanya bagi ketua-ketua itu selama 3 hari di ibukota. Awalnya ia ragu dan berencana mendelegasikannya pada orang lain. Meski segala persiapan dan dokumen yang diperlukan telah siap. Namun entah mengapa kali ini sang istri meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Sebaiknya ia tetap nemenuhi undangan itu sebagai tanggung jawab moral. Jikapun terjadi sesuatu diluar kendali, ia pasti akan dihubungi. Padahal biasanya ia tak setegar itu juga.

Saat sang suami masih dalam perjalanan menuju ibukota. Keteguhan sang istri kembali diuji. Iapun akhirnya harus tertular virus flu yang telah menyerang kelima anak-anaknya. Ia tumbang di pembaringan. Syukurnya anak sulungnya sudah mulai pulih dan telah kembali beraktivitas di rumah Allah saat waktu shalat tiba. Maka harapan itu selalu ada.  Tak ada yang kebetulan terjadi dimuka bumi ini. Anak sulungnya itu ia yakin bisa menggantikan posisi sang ayah terutama mengurusi soal kampung tengah. Maka dimulailah wisata kuliner keluarga ini. Bukan karena materi yang melimpah, bukan pula sekedar memenuhi selera lidah saja. Tapi karena chef besar keluarga mereka saat ini cuti sakit. Tak bisa beraktivitas di dapur. dibanding biaya masuk rumah sakit, wisata kuliner saat perawatan di rumah ini jauh lebih hemat. Maka ia mengabaikan borosnya pengeluaran kali ini, yang ia pikirkan bagaimana perut anak-anaknya tetap bisa terisi.

Kabar tentang sang kakak dari Hajar yang sedang dirawat di rumah sakit akibat stroke hanya bisa disimak lewat grup wa keluarga. Ia tak mampu lagi ikut berpartisipasi membuatkan makanan meski sebelum berangkat ke ibukota, sang suami telah memenuhi isi kulkas untuk diolah. Qadarullah, bahkan untuk lauk keluarga pun ia hanya mengandalkan bantuan si sulung untuk membelikan atau jasa pesan antar. Sesuatu yang bukan menjadi kebiasaannya. Sebab ia selalu yakin masakan keluarga jauh lebih higienis, sehat dan enak. Namun kali ini pilihan itu harus berlaku.

Demikian pula kabar duka dari ayah tetangga yang dinding rumahnya bahkanbersambungan dengannya, terpaksa ia abaikan. Aqiqah dan walimah juga ia lewatkan. Hanya bisa mengirim do'a dan permohonan maaf atas ketidakhadirannya. Berharap masih ada permakluman dari mereka.

Menyaksikan anaknya sakit disaat ia harus merasakan hal yang sama sekaligus menjadi dokter keluarga mereka, bukan hal mudah. Sebelumnya iapun tak pernah berfikir mampu menanggulanginya sendiri. Namun keyakinan bahwa ia pasti bisa dengan bantuan sang Khaliq, membuatnya mencoba tetap terlihat kuat dimata anak-anaknya, harus tetap menjadi emak-emak setrong. Ia mencoba berbagai usaha minum herbal mulai dari air hangat, madu, susu Kefir, kurma, air rebusan meniran, air jahe, pegagan. Alhamdulillah berangsur kondisi mereka mulai pulih dan rumah kembali ramai dengan celoteh dan pertengkaran mereka. Meski disela-selanya masih diselingi batuk yang bersahutan. Allah Subhana wa Ta'ala adalah sang Penyembuh dan akan menunjukkan jalannya kepada hambanya meraih kesembuhan selama sang hamba meyakini bukan usaha semata yang menjadi penentu lebih dari itu ada keterlibatanNya dalam setiap ikhtiarnya.


مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِيَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghaabun: 11)

*Seorang ibu yang belajar memaknai kehidupan bersama anak-anaknya.


Ayah, Bawa Aku ke Mesjid.

By: Ummu zaki

Saat kecil sekitar 5 tahunan, sebutlah Musa sang anak pertama dari Amir pernah menoreh kisah fantastis saat diikutkan ayahnya ke mesjid. Saat shalat sedang berlangsung dan ia ingin buang air tapi tak tau harus kemana, karena biasanya selalu diantar ke WC.  Walhasil ia pun terpaku di mimbar persis depan sang imam. Aroma kotoran tercium. Dia buang air besar di celananya, diatas mimbar pula. Usai shalat sang ayah mendadak jadi cleaning service. Membersihkan dan menyikat bekas kotoran itu dan memastikan aroma jamban tak lagi terdeteksi dari lantai mimbar yang terbuat dari kayu itu.Pastinya jama'ah hari itu memperoleh kisah lucu untuk diceritakan.

Memang menjadi kebiasaan Amir mengikutkan anak sulungnya ke mesjid setiap  waktu shalat tiba. Meski sebenarnya perintah untuk mengajari sang anak shalat setelah berumur 7 tahun tapi beberapa kisah dari Rasulullah yang cucunya Hasan dan Husain anak Fathimah Radhiyallahu Anha yang menyebabkan sujud Rasulullah menjadi lama karena keduanya menaiki punggung beliau sat beliau mengimami para shahabat. atau Umamah anak Zainab  Radhiyallahu Anha yang menjadi sebab adanya contoh shalat sambil menggendong anak. Dan juga kisah shalat shubuh Rasulullah yang memendekkan bacaan karena mendengar tangisan bayi dari shaf perempuan. Semua itu menunjukkan bolehnya anak ikut ke mesjid di saat belum genap 7 tahun.

Musa memang selalu merengek sampai menggunakan jurus pamungkas nangis kencang pengen ikut ke mesjid. Jadilah sang ayah terenyuh terlebih kasih sayang masih terfokus tersebab anak sulung nan semata wayang. Maka ia akan senantiasa mengikutkannya ke mesjid. Tak lupa ia akan mengingatkan Musa  agar tak mengganggu dan berlarian di dalam mesjid. Tapi namanya juga anak-anak yang otaknya belum bersambungan sempurna. Ia akan selalu amnesia dengan pengakuannya itu. Maka tak jarang sang ayah pulang membawa laporan kepada sang istri tentang kelakuan Musa di mesjid.

Namun seiring dengan pengulangan peringatan agar tak mengganggu suasana mesjid dan makin bertambahnya umur Musa,  ia pun makin pandai membawa diri saat berada di rumah Allah. Sejak umur 7 tahun, shalat shubuh di mesjid nyaris alpa. Hingga saat berumur 10 tahunan, Ia pun sudah tak diingatkan lagi agar memenuhi panggilan sumber suara adzan.

Kini Musa telah berada pada masa remaja awal. Berada jauh dari kedua orangtuanya. Mondok disebuah pesantren membawa harapan besar kedua ibu ayahnya agar kelak menjadi qurratu a'yun, penyejuk mata dan menjadi salah satu investasi jariyah yang akan terus mengalir meski raga kedua orangtuanya telah dihimpit bumi.

Musa yang pernah berlarian didalam mesjid yang bahkan pernah buang kotoran di mimbar, kini telah menjadi imam shalat bahkan telah mengimami manusia yang pertama kali mengajarkannya a ba ta, sosok yang mengajaknya ke mesjid tanpa lelah, yang berlapang dada jika ulahnya dimesjid membuat orang lain memandang aneh padanya. Kini ia tak lagi berlarian, tak ada lagi teriakan girang yang “mengganggu” jama’ah dan tak ada lagi rengekan minta ikut ke mesjid. Namun kisah yang sama kini mulai berulang pada adiknya yang hingga kini telah 2 kali pipis dalam mesjid saat terlelap mengikuti ayahnya taklim dan sekali buang air besar di teras mesjid saat ayahnya sedang shalat berjamaah. Entah bagaimana kisah adiknya setelah 8 tahun kemudian. Namun sang ayah berharap kelak jejak-jejak memori sang penerus di Rumah Allah terekam kuat menjadi salah satu dari 7 golongan yang memperoleh naungan di hati kiamat kelak, sang pemuda yang hatinya senantiasa terpaut dengan rumah Allah.


*Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun! Dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat)! Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!

*Jika suatu masa kelak kamu tak lagi mendengar suara bising dan gelak tawa riang anak-anak diantara shaf-shat shalat di mesjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan generasi muda kalian dimasa itu. (Muhammad al-Fatih sang penakluk konstantinopel)



TAKDIR

*By: Ummu Zaki

Salah satu rukun iman adalah beriman pada takdir, baik itu buruk maupun baik menurut takaran manusia. Keimanan seseorang tak akan sempurna tanpa meyakini bahwa segala yang terjadi bagi dirinya maupun lingkungannya adalah telah tercatat di lauhul Mahfudz 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.

Hanya saja pada prakteknya seringkali kita terjebak mengabaikan rukun iman ini. Tak jarang kita dapati dalam keseharian, kita berandai meski bermaksud bergurau. Misal kita mengatakan “andai saya pergi, saya akan dapat hadiah juga, sembari diikuti tawa lebar. Padahal hakikatnya candaan pun dicatat malaikat.

Terlebih saat musibah melanda. Tak jarang kita sibuk mencari sebab dan berlarut menyesalinya seolah takdir baik akan berpihak jika sebab itu tak muncul. Lebih parah lagi jika sebab itu ditimpakan pada individu diluar diri kita. Menganggap bahwa karena  prilakunya, hal buruk terjadi. Maka tak jarang kalimat menyalahkan mengalir deras dari lisan kita atau bahkan kehadirannya membuat kita menjadi illfill, tak nyaman atau bahkan menghindar darinya. Segala yang dilakukannya terlihat salah meski tak sepenuhnya keliru. Sifat pemaaf dan keimanan pada takdir pada kasus ini teruji.

Selain itu, ungkapan-ungkapan penyesalan yang biasanya diikuti dengan kalimat pengandaian menjadi salah satu indikator keimanan pada takdir masih perlu dibenahi. Kalimat pengandaian sebagai akibat dari penyesalan akan musibah yang menimpa, dihukumi haram oleh jumhur ulama. Terlebih jika ia telah menyentuh ranah syariat. Mengandaikan sesuatu yang telah diharamkan/diwajibkan menjadi kenyataan yang sebaliknya juga dihukumi haram.  Misalnya perkataan “andaikan tak ada riba, maka saya akan kaya” dan kalimat2 semisal.

Rasulullah shalallahu alayhi wasallam bersabda:

احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء، فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا، ولكن قل قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان

Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR. Muslim 2664

Berlapang dada terhadap kenyataan yang tak semanis harapan adalah sikap yang sangat dianjurkan dan perlu dilatih dengan tekun terlebih jika basic pendidikan keluarga terbiasa dengan sikap menyalahkan telah tertanam kuat. Maka belajar tentang tauhid dan hakikat takdir adalah sebuah keniscayaan agar tak terjerumus dalam penyesalan berkepanjangan.

Di dalam kitab Al-Fawaid, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah bertutur, jika seseorang ditimpa musibah salah satu dari 6 sikap yang dilakukan adalah:

الأوّل: مشهد التوحيد، وأن الله هو الذي قدّره وشاءه وخلقه، وما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن

Pertama:  Pandangan (kaca mata) Tauhid. Bahwa Allahlah yang menakdirkan, menghendaki dan menciptakan kejadian tersebut. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan  segala sesuatu yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.
sumber:
https://muslim.or.id/24546-tips-ibnul-qayyim-dalam-menghadapi-takdir-yang-buruk.html

Sabar juga merupakan sikap terpuji yang sangat terkait dengan rukun iman keenam ini. Sabar diawal musibah, sebab jika di pertengahan ataupun diakhirnya maka itu bukanlah sabar tetapi sebuah kepasrahan. Hanya jiwa yang sabar  saat mendapatkan musibah akan berucap “qadarullah wa maa sya a fa'la” ini takdir Allah dan apa yang diinginkanNya akan terjadi.

Penyesalan yang berkelanjutan hanya akan menyesakkan jiwa, membuat hati makin keruh karena ia akan mengundang sifat tercela lainnya. Kecewa, putus asa, mengumpat, sedih berlebihan dsb. Dan hal itu pun tak akan merubah takdir dan membuat keadaan lebih baik. Akan jauh neanfaat jika kitaendahulukan prasangka baik pada Allah subhanahu Wata'ala dan menapaki hari esok dengan semangat dan harapan  semoga semua itu menambah catatan amal sholih kita kelak di hari perhitungan.

Jika daun yang gugur saja terjadi atas kehendak Allah subhanahu Wata'ala, maka terlebih pada perkara yang lebih besar dari itu.

Maka wahai diri, berusalah berlapang dada atas takdirmu, gunakan kaca mata tauhid atas setiap perkara yang menimpamu, berlatihlah bersabar atas ujian yang menghampirimu. Karena hidup ini sebuah perjuangan meraih impian tertinggi JANNATUL FIRDAUS. Karena surga itu mahal dan istirahatmu dari perjuangan hidup insyaaAllah berakhir di JannahNya. Semoga engkau termasuk insan yang disambut malaikat di pintu surga dengan kalimat “Assalamu’alaikum bimaa shobartum” Selamat sejahtera  atas kesabaranmu (QS.13:24). Aamiin.

*Dari seorang insan yang senantiasa belajar  berbenah diri

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...