Pertama kali dalam sejarah keluarganya, sebutlah Hajar. Anak-anaknya yang telah berumur sekolah tak ikut serta dalam acara akhir semester. Disebabkan sakit yang menyerang mereka secara bersamaan. Si sulung tak jadi ikut rihlah camping di pegunungan pinus Malino bersama kawan-kawan pondoknya. Kedua anaknya yang duduk di bangku SD tak turut serta dalam acara makan-makan yang dirangkaikan dengan penerimaan raport semester gasal. Demikian pula yang duduk di bangku TK, juga tak bisa hadir. Padahal sepekan sebelumnya mereka sudah request dibuatkan kebab panganan khas timur tengah dengan kulit kebab terbuat dari tepung yang diuleni, dikenal dengan tortilla kemudian diisi dengan sayuran dan daging, lalu dipanggang tak lupa saus sambal dan mayonais menambah gurih rasanya. Memang setiap kegiatan makan-makan seperti ini, sang ibu selalu memberi pilihan pada mereka untuk memutuskan. Dan PR besar baginya youtubing dan Googling cara memasaknya.
Namun kali ini mereka harus bersabar dan mengubur dalam harapan untuk ikut pada kegiatan yang hanya terjadi sekali dalam 6 bulan tersebut. Sang ibu tentunya merasa iba menyaksikan mereka dalam kondisi sakit yang berusaha mengabaikan harapannya. Ia kini kembali menanamkan pada mereka tentang konsep takdir. Bahwa tak semua yang disukai akan berlaku bagi kehidupan. Tapi satu hal bahwa segala yang berlaku adalah yang terbaik bagi diri dan kehidupan karena ia terjadi atas iziNya. Hanya saja akal tak mampu mencerna seketika. Hikmah biasanya baru terasa usai berlalu beberapa waktu.
Allah subhanahu Wata'ala berfirman:
عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216).
Tak lupa ia mengajarkan tentang adab ketika sakit, termasuk meminimalisir keluhan dan menggantinya dengan zikir. Bahwa keluhan tak membuat kondisi membaik. Bukankah setiap ucapan dicatat oleh malaikat? dan mengeluh bukanlah hal positif bahkan bisa terjatuh pada tidak ridhanya kita dengan ketentuan Allah subhanahu Wata'ala.
Saat sang suami masih dalam perjalanan menuju ibukota. Keteguhan sang istri kembali diuji. Iapun akhirnya harus tertular virus flu yang telah menyerang kelima anak-anaknya. Ia tumbang di pembaringan. Syukurnya anak sulungnya sudah mulai pulih dan telah kembali beraktivitas di rumah Allah saat waktu shalat tiba. Maka harapan itu selalu ada. Tak ada yang kebetulan terjadi dimuka bumi ini. Anak sulungnya itu ia yakin bisa menggantikan posisi sang ayah terutama mengurusi soal kampung tengah. Maka dimulailah wisata kuliner keluarga ini. Bukan karena materi yang melimpah, bukan pula sekedar memenuhi selera lidah saja. Tapi karena chef besar keluarga mereka saat ini cuti sakit. Tak bisa beraktivitas di dapur. dibanding biaya masuk rumah sakit, wisata kuliner saat perawatan di rumah ini jauh lebih hemat. Maka ia mengabaikan borosnya pengeluaran kali ini, yang ia pikirkan bagaimana perut anak-anaknya tetap bisa terisi.
Kabar tentang sang kakak dari Hajar yang sedang dirawat di rumah sakit akibat stroke hanya bisa disimak lewat grup wa keluarga. Ia tak mampu lagi ikut berpartisipasi membuatkan makanan meski sebelum berangkat ke ibukota, sang suami telah memenuhi isi kulkas untuk diolah. Qadarullah, bahkan untuk lauk keluarga pun ia hanya mengandalkan bantuan si sulung untuk membelikan atau jasa pesan antar. Sesuatu yang bukan menjadi kebiasaannya. Sebab ia selalu yakin masakan keluarga jauh lebih higienis, sehat dan enak. Namun kali ini pilihan itu harus berlaku.
Demikian pula kabar duka dari ayah tetangga yang dinding rumahnya bahkanbersambungan dengannya, terpaksa ia abaikan. Aqiqah dan walimah juga ia lewatkan. Hanya bisa mengirim do'a dan permohonan maaf atas ketidakhadirannya. Berharap masih ada permakluman dari mereka.
Menyaksikan anaknya sakit disaat ia harus merasakan hal yang sama sekaligus menjadi dokter keluarga mereka, bukan hal mudah. Sebelumnya iapun tak pernah berfikir mampu menanggulanginya sendiri. Namun keyakinan bahwa ia pasti bisa dengan bantuan sang Khaliq, membuatnya mencoba tetap terlihat kuat dimata anak-anaknya, harus tetap menjadi emak-emak setrong. Ia mencoba berbagai usaha minum herbal mulai dari air hangat, madu, susu Kefir, kurma, air rebusan meniran, air jahe, pegagan. Alhamdulillah berangsur kondisi mereka mulai pulih dan rumah kembali ramai dengan celoteh dan pertengkaran mereka. Meski disela-selanya masih diselingi batuk yang bersahutan. Allah Subhana wa Ta'ala adalah sang Penyembuh dan akan menunjukkan jalannya kepada hambanya meraih kesembuhan selama sang hamba meyakini bukan usaha semata yang menjadi penentu lebih dari itu ada keterlibatanNya dalam setiap ikhtiarnya.
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِيَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu.” (QS At Taghaabun: 11)
*Seorang ibu yang belajar memaknai kehidupan bersama anak-anaknya.