Ahad, 31 Maret 2019
Aula Al-Ikhlas Pinrang
Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya. Maka sebuah nikmat jika Allah memilih kita. Dan kesempatan seperti ini tidak diberikan Allah kecuali ia dicintaiNya. Jika kita tidak memanfaatkannya berarti kita tidak mensyukuri nya bisa jadi Allah mencabutnya dan kita tidak lagi terlihat dalam kebersamaan bersama dgn orang2 yang mengusung perjuangan. Sejarah telah mencatat ada org2 yang berguguran dalam jalan dakwah, tidak lagi dalam kafilah dakwah diantara sebabnya adalah…
Dakwah adalah nikmat dan merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena pekerjaan para nabi dan rasul-Nya.
Sungguh kami telah mengutus seorang rasul dan rasul tersebut menyeru untuk mentauhidkan Allah saja.
Rasulullah sebagai nabi terakhir maka tak ada lagi nabi setelahnya tetapi para da’i yang mewarisinya.
“Dan para nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu”.
Rasulullah dalam mendakwahkan Islam melakukan berbagai macam metode. Dan wasa'il dakwah (sarana) bersifat ijtihadiyah bukan tauqifiyah. Boleh berijtihad untuk melihat apa lagi sarana dakwah yang bagus tidak terbatas pada apa2 saja yang pernah dilalui Rasulullah. Boleh seseorang berijtihad didalam sarana2 dakwah karena dia sifatnya Flexibel. Diantara metode Rasulullah adalah membuat perumpamaan.
ضرب الله مثلا
Dharaballahu matsalan. Betapa banyak Bahasa Al Qur'an menggunakan ini. Ini agar bisa lebih berkesan ketika disampaikan berupa permisalan-permisalan.
Yaasin:13
Allah SWT berfirman:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا أَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ
"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;"
(QS. Ya Sin: Ayat 13)
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا أَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ
"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;"
(QS. Ya Sin: Ayat 13)
ولقد بعثنا في أمة رسولا
suatu kaum tidak diazab jika meninggal dalam kekafiran karena tidak ada pemberi peringatan padanya.
Allah SWT berfirman:
إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوٓا إِنَّآ إِلَيْكُمْ مُّرْسَلُونَ
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."
(QS. Ya Sin: Ayat 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa jumlah didalam dakwah sesuatu yang penting. Pada zaman nabi Musa ada nabi Harun. Kekurangan nabi Musa tidak fasih dalam berbicara maka Musa dikuatkan dengan nabi Harun yang memiliki kepandaian berbicara. Semakin banyak da'i lebih baik. Selain meningkatkan kualitas da'i tapi jg berusaha menambah jumlah para da'i karena Medan dakwah ini banyak. Sebanyak apapun seorang da'i masih lebih banyak yang mau didakwai.
Ketika Rasulullah pindah ke Madinah dan membangun masyarakat Islam disana jumlah kaum muslimin masih sedikit.
Pada Fathu’ Mekkah 10.000 orang pada tahun 8 Hijriyah meningkat, Pada tahun 10 Hijriyah pada haji wada’ juga meningkat menjadi 28.000 orang (dikoreksi KL salah dengar dan catat) . Ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kuantitas sambil memperkuat kualitas. Jika dirasa kurang maka perlu untuk menambah kan personil untuk memperkuat dakwah tersebut.
Seorang da’i hanya berdakwah karena Allah. Karena yang memerintahkan nabi dan Rasul-nya dan tidak mendakwahkan kecuali yang telah dicontohkan dan ditetapkan Allah dalam kitabnya.
Allah tidak pernah mengutus Seorang rasul kecuali mereka akan mendapatkan tantangan. Bahkan dibunuh terutama Bani Israil karena mereka dianggap sebagai pemecah persatuan kehidupan mereka. Demikianlah dakwah pasti akan mendapatkan perlawanan dari yang didakwai nya.
Kalian adalah seperti kami, Allah tidak memberikan keistimewaan kepada kamu melebihi kami. Demikianlah kalimat yang diberikan untuk melemahkan semangat. Begitu juga seorang da'i. Kadang dikatakan kita ini selevel, kalian pendusta. Demikian para nabi, Rasulullah yang dikenal sebagai as shodiqul amin. Mereka tetap mengatakan kamu Muhammad sebagai pembohong. Meski julukan itu mereka sendiri sematkan diawal . Jika Rasulullah saja bgt maka wajar jika para da'i juga memiliki tantangan kadang dikatakan baru belajar, anak baru kemarin dsb.
Da'i harus tsiqoh terhadap apa yang dia yakini. Karena jika tidak. Ketika mendapat ungkapan2 yang bisa melemahkan maka ia bisa futur karena dia tidak tsiqoh terhadap apa yang ia usung. Maka harus kita percaya bahwa apa yang kita dakwahkan ini adalah sebuah kebenaran sehingga tidak mudah lemah dengan ungkapan2 yang memang bertujuan melemahkan.
Mari belajar agama yang baik supaya kita tidak menyampaikan sesuatu yang meragukan. Terutama masalah aqidah karena tidak ada khilafiyah dalam persoalan ini. Berbeda dengan persoalan fiqh yang memang banyak khilafiyah didalamnya. Tapi aqidah para ulama tak berbeda karena tauqifiyah. Untuk kemudian mengajarkan pada orang lain dan tidak mudah goyah karena ada perkataan miring atau syubhat yang dilontarkan untuk melemahkan.
Begitulah sunnatullah tabiat manusia jika mereka tidak menerima apa yang didakwakan padanya mereka akan mencari cara untuk menggagalkan dakwah tersebut.
Para Quraisy selalu menghalangi dakwah Rasulullah, mulai dari ejekan kemudian, siksaan fisik, rencana pembunuhan dan peperangan.
Demikian da’i akan mendapatkan berbagai macam tantangan.
Kalau kalian tidak mau berhenti dari dakwah kalian dan kami akan merajam kalian dan sungguh kalian akan mendapatkan azab dari kami. Begitu ancaman dari kaum Musa. Jika kekufuran dikedepankan maka ia tidak akan mau menerima kebenaran meski kebenaran itu jelas baginya.
Kesialan yang menimpa kalian itu disebabkan oleh tangan-tangan kamu sendiri. Tak ada kata-kata “gara2 kamu saya begini begitu, itu namanya thayhayyur dan semua sudah ditakdirkan Allah.
Istidraj. Sebagian orang melakukan kesyirikan dan usaha lancar. Dan ini ujian yang sangat besar. Sebab jika diberikan nikmat kemudian dicabut dia akan muhasabah sedangkan jika diberikan nikmat dan makin meningkat dia akan menganggap dirinya benar. Naudzubillah.
Orang biasa datang dari pelosok desa datang kepada kaumnya karena mendengar bahwa orang Israil akan membunuh Para rasulnya. Mengatakan “wahai kaumku ikutilah para rasul ini” ini memberikan pelajaran bahwa siapa pun kita kita harus memiliki peran dalam dakwah. Sebagai laki2 yang disebutkan dalam ayat ini.
Adab seorang da’i mengatakan kata-kata yang lembut. “Wahai kaumku” adalah kata2 yang menunjukkan dirinya bagian dari kaum itu.
Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk ikhlas. Para ulama banyak mengarang buku2. Dan buku2 mereka tidak sampai pada kita. Imam Nawawi mengarang buku karena keikhlasannya sehingga bukunya sampai pada kita. Imam yang empat, mereka adalah ulama yang paling menonjol pendapatnya dan dikumpul kan dalam satu kitab tertentu. Itu karena keikhlasan mereka.
Allah adalah satu-satunya yang telah memberikan Rezki kepada kita. Allah mengaitkan antara beribadah dengan kenapa kita menyembah Allah karena dialah yang menciptakan kita dan memberikan rezeki. Inilah dalil akal. Bolehnya berdalil dengan akal jika tidak bertentangan dengan syariat. Tapi jika bertentangan tidak boleh.
Ketika Ibrahim menghancurkan patung2 dan menyisakan patung besar. Dan ketika kaumnya datang dan bertanya “siapa yang merusak patung ini?”. Mereka menjawab “kami mendengar seorang pemuda bernama Ibrahim yang selalu mencela patung kita”. Maka ia dipanggil dan ditanya. “Apakah engkau yang menghancurkannya”. Ibrahim berkata “coba kalian bertanya pada patung yang paling besar itu barangkali dia bisa menjawabnya”. Mereka menjawab “bagaimana bisa dia menjawab kalau tak bisa bicara”. Ibrahim berkata “bagaimana kalian menyembahnya sedangkan berbicara saja tidak mampu”. Maka Ibrahim pun diperintahkan untuk dibakar.
Seorang pemuda yang menjadi korban pertama dibunuh oleh kaumnya sendiri yang datang dari pelosok itu. Dan ketika ia sudah meninggal dia diperlihatkan tempatnya di surga. Sekiranya kaumku mengetahui apa yang saya rasakan sekarang ini supaya mereka mau beriman. Ini menunjukkan seorang da'i harus memiliki kecintaan kepada kaumnya tersebut supaya orang yang didakwai mau mengikuti apa yang didakwakan kepadanya. Sehingga mereka sangat mencintai jika orang-orang tersebut mengijabah dakwahnya. Lihatlah bagaimana ia berkata
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
"Dikatakan (kepadanya), Masuklah ke surga. Dia (laki-laki itu berkata, Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,"
(QS. Ya Sin: Ayat 26)
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
"Dikatakan (kepadanya), Masuklah ke surga. Dia (laki-laki itu berkata, Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,"
(QS. Ya Sin: Ayat 26)
Meski telah meninggal tapi masih memikirkan kaumnya. Itulah seseorang yang kisahnya dalam Alquran. Perumpamaan yang diberikan Allah dalam Alquran bukan untuk umat Muhammad saja tapi pada seluruh manusia bahkan makhluk lainnya juga (jin).
Source: ustadz Syahrir, Lc
Noted by UZ