Minggu, 31 Maret 2019

Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya.

Ahad, 31 Maret 2019
Aula Al-Ikhlas Pinrang

Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya. Maka sebuah nikmat jika Allah memilih kita. Dan kesempatan seperti ini tidak diberikan Allah kecuali ia dicintaiNya. Jika kita tidak memanfaatkannya berarti kita tidak mensyukuri nya bisa jadi Allah mencabutnya dan kita tidak lagi terlihat dalam kebersamaan bersama dgn orang2 yang mengusung perjuangan. Sejarah telah mencatat ada org2 yang berguguran dalam jalan dakwah, tidak lagi dalam kafilah dakwah diantara sebabnya adalah…
Dakwah adalah nikmat dan merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena pekerjaan para nabi dan rasul-Nya.

Sungguh kami telah mengutus seorang rasul dan rasul tersebut menyeru untuk mentauhidkan Allah saja.

Rasulullah sebagai nabi terakhir maka tak ada lagi nabi setelahnya tetapi para da’i yang mewarisinya.

“Dan para nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu”.

Rasulullah dalam mendakwahkan Islam melakukan berbagai macam metode. Dan wasa'il dakwah (sarana) bersifat ijtihadiyah bukan tauqifiyah. Boleh berijtihad untuk melihat apa lagi sarana dakwah yang bagus tidak terbatas  pada apa2 saja yang pernah dilalui Rasulullah. Boleh seseorang berijtihad didalam sarana2 dakwah karena dia sifatnya Flexibel. Diantara metode Rasulullah adalah membuat perumpamaan.

ضرب الله مثلا
Dharaballahu matsalan. Betapa banyak Bahasa Al Qur'an menggunakan ini. Ini agar bisa lebih berkesan ketika disampaikan berupa permisalan-permisalan.

Yaasin:13
Allah SWT berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا أَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ
"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;"
(QS. Ya Sin: Ayat 13)

ولقد بعثنا في أمة رسولا

suatu kaum tidak diazab jika meninggal dalam kekafiran karena tidak ada pemberi peringatan padanya.

Allah SWT berfirman:

إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوٓا إِنَّآ إِلَيْكُمْ مُّرْسَلُونَ
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."
(QS. Ya Sin: Ayat 14)

Ayat ini  menunjukkan bahwa jumlah didalam dakwah sesuatu yang penting. Pada zaman nabi Musa ada nabi Harun. Kekurangan nabi Musa tidak fasih dalam berbicara maka Musa dikuatkan dengan nabi Harun yang memiliki kepandaian berbicara. Semakin banyak da'i lebih baik. Selain meningkatkan kualitas da'i tapi jg berusaha menambah jumlah para da'i karena Medan dakwah ini banyak. Sebanyak apapun seorang da'i masih lebih banyak yang mau didakwai.

Ketika Rasulullah pindah ke Madinah dan membangun masyarakat Islam disana jumlah kaum muslimin masih sedikit.

Pada Fathu’ Mekkah 10.000 orang pada tahun 8 Hijriyah meningkat, Pada tahun 10 Hijriyah pada haji wada’ juga meningkat menjadi 28.000 orang (dikoreksi KL salah dengar dan catat) . Ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kuantitas sambil memperkuat kualitas. Jika dirasa kurang maka perlu untuk menambah kan personil untuk memperkuat dakwah tersebut.

Seorang da’i hanya berdakwah karena Allah. Karena yang memerintahkan nabi dan Rasul-nya dan tidak mendakwahkan kecuali yang telah dicontohkan dan ditetapkan Allah dalam kitabnya.

Allah tidak pernah mengutus Seorang rasul kecuali mereka akan mendapatkan tantangan. Bahkan dibunuh terutama Bani Israil karena mereka dianggap sebagai pemecah persatuan kehidupan mereka. Demikianlah dakwah pasti akan mendapatkan perlawanan dari yang didakwai nya.

Kalian adalah seperti kami, Allah tidak memberikan keistimewaan kepada kamu melebihi kami. Demikianlah kalimat yang diberikan untuk melemahkan semangat. Begitu juga seorang da'i. Kadang dikatakan kita ini selevel, kalian pendusta. Demikian para nabi, Rasulullah yang dikenal sebagai as shodiqul amin. Mereka tetap mengatakan kamu Muhammad sebagai pembohong. Meski  julukan itu mereka sendiri sematkan diawal . Jika Rasulullah saja bgt maka wajar jika para da'i juga memiliki tantangan kadang dikatakan baru belajar, anak baru kemarin dsb.

Da'i harus tsiqoh terhadap apa yang dia yakini. Karena jika tidak. Ketika mendapat ungkapan2 yang bisa melemahkan maka ia bisa futur karena dia tidak tsiqoh terhadap apa yang ia usung. Maka harus kita percaya bahwa apa yang kita dakwahkan ini adalah sebuah kebenaran sehingga tidak mudah lemah dengan ungkapan2 yang memang bertujuan melemahkan.

Mari belajar agama yang baik supaya kita tidak menyampaikan sesuatu yang meragukan. Terutama masalah aqidah karena tidak ada khilafiyah dalam persoalan ini. Berbeda dengan persoalan fiqh yang memang banyak khilafiyah didalamnya. Tapi aqidah para ulama tak berbeda karena tauqifiyah. Untuk kemudian mengajarkan pada orang lain dan tidak mudah goyah karena ada perkataan miring atau syubhat yang dilontarkan untuk melemahkan.

Begitulah sunnatullah tabiat manusia jika mereka tidak menerima apa yang didakwakan padanya mereka akan mencari cara untuk menggagalkan dakwah tersebut.
Para Quraisy selalu menghalangi dakwah Rasulullah, mulai dari ejekan kemudian, siksaan fisik, rencana pembunuhan dan peperangan.

Demikian da’i akan mendapatkan berbagai macam tantangan.

Kalau kalian tidak mau berhenti dari dakwah kalian dan kami akan merajam kalian dan sungguh kalian akan mendapatkan azab dari kami. Begitu ancaman dari kaum Musa. Jika kekufuran dikedepankan maka ia tidak akan mau menerima kebenaran meski kebenaran itu jelas baginya.

Kesialan yang menimpa kalian itu disebabkan oleh tangan-tangan kamu sendiri. Tak ada kata-kata “gara2 kamu saya begini begitu, itu namanya thayhayyur dan semua sudah ditakdirkan Allah.

Istidraj. Sebagian orang melakukan kesyirikan dan usaha lancar. Dan ini ujian yang sangat besar. Sebab jika diberikan nikmat kemudian dicabut dia akan muhasabah sedangkan jika diberikan nikmat dan makin meningkat dia akan menganggap dirinya benar. Naudzubillah.

Orang biasa datang dari pelosok desa datang kepada kaumnya karena mendengar bahwa orang Israil akan membunuh Para rasulnya. Mengatakan “wahai kaumku ikutilah para rasul ini” ini memberikan pelajaran bahwa siapa  pun kita kita harus memiliki peran dalam dakwah. Sebagai laki2 yang disebutkan dalam ayat ini.
Adab seorang da’i mengatakan kata-kata yang lembut. “Wahai kaumku” adalah kata2 yang menunjukkan dirinya bagian dari kaum itu.

Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk ikhlas. Para ulama banyak mengarang buku2. Dan buku2 mereka tidak sampai  pada kita. Imam Nawawi mengarang buku karena keikhlasannya sehingga bukunya sampai pada kita. Imam yang empat, mereka adalah ulama yang paling menonjol pendapatnya dan dikumpul kan dalam satu kitab tertentu. Itu karena keikhlasan mereka.

Allah adalah satu-satunya  yang telah memberikan Rezki kepada kita. Allah mengaitkan antara beribadah dengan kenapa kita menyembah Allah karena dialah yang menciptakan kita dan memberikan rezeki. Inilah dalil akal. Bolehnya berdalil dengan akal jika tidak bertentangan dengan syariat. Tapi jika bertentangan tidak boleh.

Ketika Ibrahim menghancurkan patung2 dan menyisakan patung besar. Dan ketika kaumnya datang dan bertanya “siapa yang merusak patung ini?”. Mereka menjawab  “kami mendengar seorang pemuda bernama Ibrahim yang selalu mencela patung kita”. Maka ia dipanggil dan ditanya. “Apakah engkau yang menghancurkannya”. Ibrahim berkata “coba kalian  bertanya pada patung yang paling besar itu barangkali dia bisa menjawabnya”. Mereka menjawab “bagaimana bisa dia menjawab kalau tak bisa bicara”. Ibrahim berkata “bagaimana kalian menyembahnya sedangkan berbicara saja tidak mampu”. Maka Ibrahim pun diperintahkan untuk dibakar.

Seorang pemuda yang menjadi korban pertama dibunuh oleh kaumnya sendiri yang datang dari pelosok itu. Dan ketika ia sudah meninggal dia diperlihatkan tempatnya di surga. Sekiranya kaumku mengetahui apa yang saya rasakan sekarang ini supaya mereka mau beriman. Ini menunjukkan seorang da'i harus memiliki kecintaan kepada kaumnya tersebut supaya orang yang didakwai mau mengikuti apa yang didakwakan kepadanya. Sehingga mereka sangat mencintai jika orang-orang tersebut mengijabah dakwahnya. Lihatlah bagaimana ia berkata

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
"Dikatakan (kepadanya), Masuklah ke surga. Dia (laki-laki itu berkata, Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,"
(QS. Ya Sin: Ayat 26)

Meski telah meninggal tapi  masih memikirkan kaumnya. Itulah seseorang yang kisahnya dalam Alquran. Perumpamaan yang diberikan Allah dalam Alquran bukan untuk umat Muhammad saja tapi pada seluruh manusia bahkan makhluk lainnya juga (jin).

Source: ustadz Syahrir, Lc
Noted by UZ


Sabtu, 30 Maret 2019

Menapaki Tangga Izzah


TABLIGH AKBAR

Sabtu 30 Maret 2019
Aula Al ikhlas Pinrang

Ciri kelompok jama'ah yang dicintai

أن الله يحبون الذين يقاطلون كأنهم بنيان مرصوص.
الصاف.

Bagaimana bangunan yang tidak saling merekat antar satu yang lain? Apakah kokoh dan kuat? Tentu tidak. Karena dinding yang rapat dan kokoh maka indah dan mengesankan. Demikian pula barisan kaum muslimin. Selain rapi juga harus kuat. Makanya tak bisa dipisahkan tarbiyah , dakwah dan taklim. Dia adalah bagian dari perjuangan Islam. Barisan yang rapat akan memberikan nuansa kekuatan yang akan memotivasi kita untuk berada dalam perjuangan.

Islam telah diajarkan barisan rapi dan rapat 5x sehari. Di dunia tidak ada yang mengalahkan kekuatan tentara. Mengapa karena yang lama maupun baru senantiasa latihan baris berbaris. Mereka dilatih untuk berbaris rapi dan rapat. Kita Alhamdulillah setiap hari dilatih Allah baris berbaris dengan komando lafadz mulia _Allahu Akbar_. Bukan mengahadapi ke komandan tapi menghadap ke Allah SWT. Dipimpin oleh imam yang berkualitas. Yang hafalan lebih banyak, senioritas dalan hijrah. Hadist Rasulullah:

“Hendaklah yang menjadi imam diantara kalian adalah yang paling banyak hafalannya dan bacaannya. Jika sama maka yang paling mengerti sunnah Rasulullah , jika masih sama maka yang paling dahulu berhijrah. Kalau masih sama ,maka yang paling tua usianya”

Jadi imam tidak sembarangan. Memiliki kualifikasi terbaik.
خيركم من تعلم القرآن

Sebaik-baik kalian yang mengajarkan Al-Qur'an

فاقد الشيء لا يطيع
Tidak bisa memberi yang tidak memiliki.

Untuk menggapai Izzah, kita harus mendaki. Menapaki satu tangga ke tangga berikutnya hingga kita berada pada puncak kemuliaan. Menapaki tangga seseorang membutuhkan kekuatan. Seseorang yang asam urat stadium 5 membutuhkan tongkat penyangga dan amat kesulitan menaiki tangga. Demikian sakit2 lain. Kehilangan  kekuatan fisik mengakibatkan tidak bisa menaiki tangga. Menaiki tangga agama tidak hanya kekuatan fisik tapi jg kekuatan Ruhiyah. Yang tidak memilikinya tak akan kuat menapaki tangga2 Izzah.


Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ
"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur."
(QS. Fatir: Ayat 10)

Siapa saja menginginkan Izzah, hendaklah mengetahui Izzah semuanya tanpa sisa hanya milik Allah.  Yang harus kita tanamkan dalam keyakinan bahwa Izzah adalah milikNya. Bukan milik orang kuat, cerdas ataupun kaya. Org yang meyakini Izzah milik org kaya akan banyak mendekati orang kaya, meyakini miliknya penguasa , maka mendekati penguasa. Masih banyak saudara kita menyangka Izzah milik Professor, doktor dan pemilik gelar akademik dengan kecerdasan mengagumkan. Falillahi izzatul jami'an. Milik Allahlah seluruhnya kemuliaan.
Jika kita menginginkan Izzah yang berada disisi Allah maka merapatlah kepada Allah. Sepanjang umat enggan merapat kepada Allah maka sepanjang itu pula mereka tidak mendapatkan Izzah.

Ada seseorang ke Eropa lalu ia dijamu dengan hotel terbaik. Maka ia ingin bertemu dengan pemilik hotel itu. Karena pelayanannya yang bgt mengagumkan. Maka ia bertanya kepada resepsionist. Maka ia menjawab “Anda akan bertemu dengannya karena ia akan datang hari ini”. Saya minta nomornya. Maka resepsionist memberikan nomornya dan ternyata itu nomornya sang tamu sendiri. Ia sudah lupa semua hotelnya karena kayanya. Umat Islam tidak kekurangan orang kaya dan cerdas. tapi  mana yang lebih cepat mendapatkan Izzah dimasa Rasulullah dibanding hari ini? Masa Rasulullah tentunya.

Izzah kaum muslimin Allah tidak letakkan pada sejumlah harta yang mereka miliki. “Ilaihi…”
(Sambungan ayat). Kepada Allah-lah kalimat thoyyibah terangkat. Berarti untuk memperoleh Izzah Kita harus memiliki kalimat thoyyibah dan mengangkat kepadaNya.

Ibnu Katsir:
لقد ولد عن السلف الذكر والتلاوة والدعاء.
Zikir, tilawah dan doa

Suatu hari Musa memohon kepadaNya: ya Allah berikan aku kalimat yang aku pakai memohon kepadamu. Diberikan kalimat laailaahaillallah. Semua nabi memilikinya. Wahai Musa “seandainya 7 lapis langit dan bumi  dan kalimat laailaahaillallah di timbangan. (Jarak langit dunia melangit atas jaraknya 500 thn perjalanan begitu sampai ke langit ketujuh. Ketujuh ke air 500 ke kursy 500 THN ke Arsy tidak disebutkan tapi disebutkan jarak cuping ke telinga pemukul Arsy berjarak 500 thn) Maka kalimat laailaahaillallah akan berat dan mengangkat seluruh semesta itu. Begitu beratnya timbangan laailaahaillallah. Dan kalimat ini akan naik kesisiNya dari hambanya. Dia jg yg memberikan sinyal kepada Allah. Semakin kuat sinyalnya semakin cepat memperoleh Izzah. Maka setiap muslim harus memiliki kalimat ini. Siapa yang memilikinya dan senantiasa mengucapkan, menyerukan menjalankan konsekuensinya dan menjauhi pembatal-pembatalnya maka Allah akan memberikan Izzah kepadanya.

Kalimat laailaahaillallah bukan hanya sekedar ucapan belaka.Ia adalah kalimat yang harus mendasari seluruh gerakan dan diam kita. ciri orang beriman yaitu yang senantiasa berdzikir kepada Allah mengingat Allah dalam keadaan berdiri, dimanapun dia berdiri, dalam keadaan duduk dia tetap menyebut asma Allah. Bahkan ketika ia berada diatas pinggangnya (isyarat bahwa tidur terbaik diatas pinggang) Paling utama pinggang kanan.

3 keadaan ini mewakili semua aktivitas berdiri mewakili kesibukan. Duduk aktivitas istirahat, dan baring aktivitas tidur. Kalau kita menulusuri umat Islam dimanapun berada. Kita harus mengerut dada dan mengakui bahwa mereka jauh dari zikrullah dan terlena dengan dunia.

Surah Fathir: 5 dan Lukman ayat 33 menyebutkan dunia yang melenakan .

Allah subhanahu Wata'ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِۦ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِۦ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah."
(QS. Luqman: Ayat 33)

Tidak dilarang berdagang sebagaimana Abdurrahman bin auf berdagang Ustman,para Ulama dan salaf. Mereka memiliki uang yang sangat banyak. Apakah mereka menikmati kekayaannya sendiri di keluarganya? Tidak. Kalau kita menelusuri kekayaan mereka pada dakwah dan agama akan membuat berdecak kagum. Adapun kaum Muslimin hari ini yang terlena dengan perdagangannya sehingga lupa dzikrullah. Terkadang diminta sumbangan begitu sulit. Subhanallah.

Dahulu di Suriah, orang -orang kaya menutup laci dari lembaga dakwah yang datang meminta sumbangan. Padahal sedekah sama sekali tidak mengurangi harta. Demikian syaitan menginjeksi manusia agar mengira sedekah mengurangi harta. Apa yang terjadi? Dakwah ahlusunah di Suriah mandeg. Sekarang kaum muslimin tutup laci seperti  dahulu di Suriah. Sulit berinfaq untuk dakwah Sheikh …. berkata...kami mendapati org2 kaya yang dahulu menutup laci mereka karena takut didatangi Lembaga dakwah hari ini mereka datang meminta sumbangan di lembaga dakwah. Demikian Allah membalikkan Izzah yang mereka kira pada harta.

Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah  pernah berzikir di tengah pasar siang bolong, mengingatkan laailaahaillallah. Dan orang berkata disiang bolong saat sibuk begini kau menyeru. Ia berkata justru disaat seperti inilah dzikrullah diperlukan. Mereka senantiasa merenungkan. Lihat pantai, tumbuhan tanaman selalu mengingat Allah, robbanaa maa khalaqta haazda baathilan.
ربنا ما خلقت هذا باطلا.
Mengapa kebathilan di pantai, di gunung terjadi? karena mereka telah abai merenungkan ciptaan Allah dan tidak sampai pada hasil perenungan maa khalaqta haazda baathilan. Sementara perenungan dia adalah utama dalam...

Menampakkan kefakiran ketika meminta itu keadaan yang paling disukai Allah. Allah malu menolak permohonan hambanya.

Bagaimana mungkin doa dikabulkan jika makanan dari haram,pakaian dari haram. Sebanyak apapun kita berdoa pada waktu mustajabah jika banyak melakukan kemaksiatan bagaiman mungkin mendapatkan Izzah.

Kalian adalah sebaik-baik umat yang paling agung. Kemuliaan umat ini dikaitkan dengan Amr ma'ruf nahi Munkar. Kalaulah umat Islam ini berhenti memotivasi diri, keluarga, tetangga masyarakat pada laailaahaillallah dan berhenti pulalah Izzah itu. Allah kaitkan pada ayat ini ke akan pada umat Islam amar makruf nahi Munkar. Kaitan keduanya adalah tu'minuuna Billah (jamak).
Syaikh dr ..  menjelaskan pada ayat ini ada rahasia yang amat besar tentang didahulukannya dakwah daripada iman. Iman lebih penting dari dakwah. Lawan iman kufur. Orang kafir itu beramal bahkan kadang lebih bermanfaat dari orang muslim sendiri. Lampu ditemukan orang kafir bahkan bermanfaat bagi dakwah tetapi hal tersebut semua tidak bisa mereka peroleh sedikitpun dari apa yang telah dilakukan.

Allah berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمٰلُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلٰى شَىْءٍ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيدُ
"Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh."
(QS. Ibrahim: Ayat 18)
Mengapa Allah mengaitkan kebaikan umat ini kepada dakwah nahii Munkar baru iman setelah nya. Didalam masalah pendahuluan dan pengakhiran ada faidah. Kadang mengakhiri yang lebih penting. Anda tidak tegak tanpa dakwah

Semendasar apapun iman bagi amal Sholeh dia tidak akan bermanfaat tanpa dakwah amar makruf nahi Munkar. Tidaklah iman itu terlantar kecuali orang itu terlebih dahulu mengabaikan dakwah amal makruf nahi Munkar.

Yang menjaga eksistensi keimanan kita adalah dakwah. Ada dulu mahasiswa ikut program dakwah di kampus, ibadahnya terjaga bahkan ibadah sunnah tetapi ketika pulang kampung, tak ada aktivitas dakwah... akhirnya bersih, jangankan shalat Sunnah sahabat wajib saja sering terlambat. Mengapa? Karena dia tenggelam dalam kesibukan dan meninggalkan dakwah. Disinilah Allah mencatolkan pada dakwah amar makruf nahi Munkar.

وأمر اهلك للصلاة.

Suruhlah keluargamu shalat

Sebelum terbit matahari sudah mulai dakwah. Sang ayah mendakwai keluarga.

Pagi2 buta sebelum matahari terbit adalah dakwah. Pertanyaannya, apakah dakwah ini telah dilakukan umat Islam. Kalau belum. Maka kita masih mimpi meraih izzah. Itulah amalan pembuka dan penutup amalan harian kita.

كان يكره الحريش بعد العشاء

“Rasulullah membenci begadang untuk mengobro”l

Perintahkan keluargamu shalat, dan bersabarlah atasnya.(Thoha:132) Washthobir 'alaiha. Kapan menggunakan tho  ketika berdakwah dalam keluarga. Disitu menunjukkan kesabaran ekstra. Coba buka surah Al-Baqarah 155.
وبشر الصابرين.


Disini makna Asha shaabirin adalah kesabaran biasa. Sedangkan Washthobir bermakna kesabaran  berlipat. Jadi berdakwah di keluarga sendiri membutuhkan kesabaran berlipat terutama menyuruh shalat.

Source: ustadz Fadlan Lc MHI
Noted by Ummu Zaki


Kamis, 28 Maret 2019

Hidup Biasa atau Luar Biasa?

Individu yang hidupnya biasa.  Hidupnya bak air mengalir, mengikuti kemana arus menggiring. Kesitulah ia akan melaju. Hidupnya tak terukur. Tak ada rencana harian, pekanan apalagi bulanan terlebih tahun-tahun berikutnya. Tak ada tantangan. Hidup datar-datar saja. Ia akan menjalani  hari ini bagai hari kemarin. Pekan ini seperti pekan lalu bahkan tahun lalu sama saja tahun ini dan mungkin tahun esok pun tak jauh beda. Yang berbeda hanya jatah umur yang semakin menipis.

Seorang pemimpi sejati. Memiliki arah jelas, terukur dan terencana. Harinya penuh aktivitas positif. waktunya tak berlalu begitu saja. Jadwal harian menghiasi catatanya. Rencana pekanan tertera jelas di agendanya. Kegiatannya mencerminkan target jangka pendek yang menjadi jalan menuju target jangka panjang meraih mimpi BESAR. Tantangan menghiasi jalannya, bergelombang tak datar. Meski itu seorang ibu yang menghabiskan harinya di rumah, bukan berarti aktivitasnya tak biasa saja.

Sebagai seorang muslim, Rasulullah telah mengajarkan untuk memimpikan surga tertinggi, Jannatul Firdaus, surga yang terletak dibawah ArsyNya Allah 'Azza Wajalla. Yang tak diraih dengan hidup biasa saja atau menunggu hasil keringat orang lain. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah menginginkan umatnya bukan individu yang biasa saja. Tapi yang punya mimpi besar dan berusaha meraihnya dengan tak berleha-leha. Berupaya menggapai mimpi dengan peluh perjuangan yang tak sedikit. Memaksa diri melaluinya. Keluar dari zona nyaman. Yang hanya mampu dilalui oleh pemimpi dan pejuang sejati. Yang tak mudah jatuh hanya karena perkara kecil. Yang menyadari sepenuhnyai bahwa surgaNya tidak murah.

Hidup itu ibarat bersafar mencari  alamat kampung halaman. Seseorang akan berusaha menemukan arah yang tepat menuju tempat itu. Menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan. Perbekalan mental dan fisik ia kerahkan semaksimal mungkin. Kompas, peta dan juga tak malu bertanya pada orang yang faham tentang arah terbaik menuju tempat yang dituju. Bukan malah sok tahu tentang arah yang kabur baginya.

Jika hidup diibaratkan bermukim. ia akan dilalui seadanya. Selama kebutuhan primer terpenuhi, ia tak perlu memimpikan pulang kampung. Ia tak perlu berpeluh menyusun target-target dan mengeksekusinya demi mencari jalan kembali pulang. Sebab ia terlanjur jatuh cinta pada hidupnya yang biasa saja. Namun sayangnya pada akhirnya ia harus pulang kampung karena hakikatnya ia bukan pemukim sesungguhnya. Hanya seorang imigran.

Jika Ramadhan kemarin sama saja dengan Ramadhan akan datang. Shalat, puasa, tadarus, ibadah begitu-begitu saja tanpa ada peningkatan kuantitas ataupun kualitas. Pergantian Ramadhan hanya sebuah persoalan waktu bukan peningkatan kualitas diri. Kualitas ibadah sebelum Ramadhan sama saja setelahnya. Tak ada efek menanjak dari ramadhan yang merupakan “pesantren diri” untuk berbenah. Maka mungkin itu salah satu indikator bahwa kita orang biasa, bukan pemimpi besar.

Padahal jelas dalam hadist Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ ُحُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang mubarak (diberkahi). Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia *tidak memperoleh apa-apa* .” (HR. Nasa`i dan Ahmad serta dinyatakan shahih oleh Albani).

Berbeda dengan seorang seorang pemimpi besar, ia tak mencukupkan diri pada perkara mubah untuk loba. Ia akan rakus mencari kesibukan positif terkait jaring-jaring  mimpi besarnya, Jannatul Firdaus dan memandang wajah Sang Pemilik Arsy.

Pertanyaannya adalah, yang manakah diri ini?

#UmmuZaki
*Belajar bermimpi

Sabtu, 23 Maret 2019

Saat kata “kebetulan” berganti Qadarullah (takdir Allah)

Saat menemani si kecil 1y melihat ikan di kolam sekolah tempat Khanza mengabdi, tiba2 hpnya berdering.
“ Umm, nak Ali….” suara dari seberang telpon terbata  menahan Isak mengisyaratkan hal buruk terjadi. Dengan nada  cemas dan ragu.
“Knp, Bu?” Perasaan Khanza mulai tak enak, terbayang hal buruk menimpa Ali, anak keempatnya yang kini sedang dibangku TK.

“Kepala Ali umm, bocor, habis dilempari batu sama temannya di depan sekolah” lanjut suara yang terdengar berat dibalik hp yang tak lain adalah salah satu guru Ali.
“ Jadi kondisinya bagaimana? Apakah lukanya sobek butuh dijahit?” tanya Khanza khawatir.
“ Sepertinya umm, kami bawa ke puskesmas ya, umm?
“Iya, Bu dibawa saja, sambil saya mencari cara agar bisa kesana segera”.

Khanza menghela nafas panjang,mencoba  menenangkan diri. Bahwa semua atas izinNya. Takdir sedang berlaku, semua terjadi bukan kebetulan. Yah...dengan fikiran seperti itu ia bisa menghilangkan kecemasan dirinya. Menenangkan hatinya dan berfikir mencari solusi. Sebab saat ini ia tak bisa segera meluncur ke sekolah Ali. Sang suami sedang ada jadwal khutbah di luar kota, sehingga  jemputan 1 jam lebih lagi. Sedang ia tak mengendarai motor hari itu.

Ia teringat sebelum Ali kesekolah pagi tadi, berkali-kali ia mengingatkan “ Nanti pulang sekolah, Ali jangan keluar dari TK, ya? Didalam saja sambil tunggu jemputan ayah”. Ali hanya mengangguk. “ Aisyah, jagain adek nanti, ya? Ingatkan agar tak keluar dari TK”. Pinta Khanza pada anak ketiganya yang kini duduk di bangku SD kelas 2. Mereka memang biasanya menunggu jemputan di lokasi TK tempat Ali menimba ilmu. Dengan kejadian itu, Ia bisa menduga jika Ali mengabaikan peringatan yang ia berikan tadi pagi. Karena lemparan batu hanya bisa terjadi di luar area sekolah.

Khanza teringat salah satu rekan mengajarnya yang biasanya ke kantor nyetir sendiri. Mungkin ia bisa membantu mengantar ke puskesmas. Qadarullah, hari itu ia diantar suaminya. Mobil dinas sekolah terparkir namun semua supir sedang ke mesjid menunaikan sholat Jumat. Rekannya menelpon hendak menawarkan tumpangan motor tapi ia terlanjur telah menelpon langganan ojek perempuan yang biasa ia gunakan jasanya.

Khanza mencoba menghubungi suaminya, tapi berkali-kali tak diangkat. Ia melirik jam, memang saatnya jelang shalat Jumat. Tiba2 ia mendapatkan chat guru Ali bahwa darahnya telah berhenti mengalir. Ia telah diberi pertolongan pertama. Namun  Ali menolak dibawa ke puskesmas tanpa ibunya. “Alhamdulillah, jazaakillahu Khairan (semoga Allah membalasnya dengan lebih baik)”. Khanza sedikit bisa bernafas lega.

Si Bu ojek pun tiba. Dengan menggendong anaknya yang masih 16 bulan, Khanza membawanya serta. Dalam perjalanan, Bu ojek berkisah  kalau hari itu motornya sedang masuk bengkel jadi yang dia pakai saat ini adalah motor pinjaman. Ia bertutur jika dua penumpangnya terpaksa diturunkan dijalan.

Tiba2 Khanza teringat. Tadi pagi ia sempat berfikir untuk menghubungi bu ojek agar menjemput Aisyah dan Ali untuk diantar ke kantornya supaya sang suami sekali jemput mereka disana. Cerita bu ojek semakin menegaskan bahwa kecelakaan Ali memang sudah diskenariokan olehNya. Memang ia ditakdirkan dengan kejadian itu. Sekiranya ia jadi menelpon di pagi tadi, bisa jadi Bu ojek tak bisa tersebab motornya yang lagi di bengkel.

Sampai di lokasi TK, Khanza langsung mendekati Ali yang menangis dengan kepala dibalut perban dan hanya mengenakan celana sebab bajunya  basah usai disiram air untuk menghilangkan bercak darah. Ia mencoba mengorek keterangan kejadian sebenarnya. Sang guru mengisahkan jika ia dilempar batu tapi sebabnya bermula dari Ali sendiri. Khanza pun hanya bisa berkata “oh, kalau begitu, itu kesalahan Ali karena memancing kemarahan orang lain, meski melempar batu tidak bisa dibenarkan juga.

Ia kemudian mencoba  membujuk Ali agar mau ke puskesmas tapi Ali menolak keras. Ia takut dijahit. “ Tak sakit nak, kan dokternya kasih obat agar tak terasa saat di jahit”. “Tak mauuu” Teriak Ali bercucuran air mata.  Khanza merubah posisi. Ia berjongkok dihadapan Ali yang sedang duduk di kursi, mencoba menatap matanya. “ Kalau tak dijahit, nanti sembuhnya lama bahkan bisa sampai membusuk dan berulat kalau infeksi, lagian ndak sakit, kog. dokter kasih obat bius. Tapi kalau dijahit, lukanya tertutup sehingga kuman jahat tak bisa masuk dan tak akan berulat selain itu akan cepat sembuh. Ali pilih yang mana?”
“ Tak mauuu”. Jawab Ali lagi namun dengan nada yang tak sekeras sebelumnya. “ Kalau kepala Ali membusuk tak ada yang mau berteman, termasuk ibu guru, kan? Sambil Khanza menoleh ke gurunya. “Iya, ibu juga enggan mendekat kalau kepalanya Ali  berulat”. Tangisan Ali mulai reda.

Yesss!, akhirnya Ali melunak. Ia pun mengangguk saat kembali diminta memilih kepalanya dijahit. “ Anak sholehku memang jago!” sambil Khanza mengusap kepalanya.Khanza kini lega. Semoga saja kejadian ini menjadi ilmu kehidupan bagi putranya bahwa nasehat baik orang tua harus ditunaikan, bahwa konsekuensi dari sebuah perilaku buruk bisa fatal. Khanza berharap kisah itu terekam dalam memori jangka panjangnya yang akan ia jadikan sebuah pelajaran berharga.  Biarlah ia memetik hikmah sendiri agar kelak menjadi bekal pijakannya untuk lebih menguat diatas kakinya sendiri.

#UmmuZaki
(Yang belajar mendidik diri dan buah hatinya)

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...