Bila kita hanya mencari kekuatan tapi mengabaikan pengenalan terhadap kelemahan, maka bisa jadi kita akan fokus pada kelemahan mengira itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan suatu saat. Disisi lain kekuatan diri menjadi terlantar padahal orang-orang sukses itu konsisten menajamkan kekuatan bukan fokus memperbaiki kelemahan. Selain itu bila tak mengenal baik kelemahan sebagai sebuah keterbatasan, bisa jadi kita akan marah dan tersinggung jika seseorang mengungkapkannya. Tapi jika kita telah lebih dahulu mengenalinya maka hal itu tidak akan memantik emosional kita.
Abah Rama sang founder talent mapping berkata jika engkau tak mengenal dirimu yang sesungguhnya maka bagaimana engkau berharap dikenali orang lain. Citra diri itu sangat penting. Seringkali kita mengabaikannya. Kita sering mendengar kalimat "just be yourself" tapi bagaimana mungkin bisa terjadi bila kita tak mengenali diri sendiri? Maka penting untuk menajamkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan atau kelemahan tapi awali dengan memahami diri sendiri. Bukankah Allah 'azza Wajalla menciptakan kekuatan dan kelemahan diri bukan tanpa sebab dan tujuan?
Pertanyaan dulu yang sering terbetik di benakku. Mengapa banyak orang yang kehilangan identitas diri? Sehingga berusaha mencari jati diri? Syukur-syukur jika jati diri itu dicari pada tempat yang benar, tapi jika sebaliknya? Jawabannya ternyata karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan berkenalan dengan citra diri. Sehingga kelak kita tak mampu mengelola kekuatan dan kelemahan diri bahkan pada orang lain. Sedangkan modal dalam menjalin ukhuwah termasuk berlapang dada dengan keterbatasan orang lain dalam artian mengenali kelemahan. Maka tak perlu heran jika kita menemukan diri kita seringkali terjebak perseteruan dengan orang lain, menyesali diri tak seberuntung orang lain, atau bahkan tak yakin dengan kekuatan diri sendiri. Sebabnya kita buta pada konsep diri.
Pertama kali mengenal konsep citra diri adalah pada sebuah pelatihan Training of Trainer Dasar pada sebuah Lembaga Muslimah. Saat itu aku mulai mengenal diri dari penilaian teman pelatihan dan dikuatkan dari asumsi sendiri. Kemudian berkenalan dengan Institut Ibu Profesional yang menjadi gerbang interaksiku dengan talent mapping milik Abah Rama. Aku mulai memahami bahwa ternyata kelemahan itu penting untuk dikenali sebagai sebuah keterbatasan. Maka tak perlu sibuk meniru orang lain. Tak perlu berusaha bersaing dengan orang lain. Tak perlu iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain. Tak perlu menjudge anak kita dengan label negatif seperti nakal, bodoh dst. Karena dalam konsep citra diri slogan "jika orang lain bisa akupun pasti bisa" tak bisa sepenuhnya digunakan, kecuali itu terkait dengan kekuatan diri. Tapi jika kelemahan , maka sampai kapanpun ia tak akan mampu sama atau paling hasilnya biasa-biasa saja. Fokus saja mengasah kekuatan.
Ilmu pengenalan diri penting bagi orang tua dan pendidik. Menularkan pada anak untuk menjadi diri sendiri dengan segala keunikan kekuatan dan kelemahannya. Karena sesungguhnya tiap individu itu limited edition. Hanya saja orang gagal dimata kita belum menemukan kekuatan dirinya, mungkin selama ini ia terperangkap dengan label lingkungan yang fokus melihat kelemahan dirinya. Belajar Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan sehingga krisis identitas bisa diminimalisir pada generasi kita. Tak ada lagi penilaian negatif pada anak kita tetapi disiasati dan diarahkan. Tak perlu lagi memaksakan jurusan pada mereka. Kenali diri agar kita mampu memposisikan diri dengan baik dan benar. Seperti kutipan dari sang founder talent mapping "Be yourself, but first know Yourself".
#belajarmengenaldiri
@ummu zaki