Sabtu, 17 Agustus 2019

BERKENALAN DENGAN KELEMAHAN DIRI

Mengenali kelemahan diri adalah sama pentingnya dengan mengenali kekuatan diri. Selama ini kita sering terjebak dengan pencitraan seolah aib jika kelemahan tersingkap, seolah kelemahan adalah sesuatu yang harus dipangkas. Kita tak fokus mensiasati kelemahan tapi hanya berpusat menajamkan kekuatan. Hal yang lebih parah ketika kita tak mampu membedakan yang mana kekuatan yang mana keterbatasan. Sehingga wajar ketika kita selalu ingin memaksakan diri dan orang lain seperti harapan kita. Tak jarang berujung pada stress, menyalahkan diri dan bahkan orang lain. Ketika kelemahan diri kita fahami dan diakui, kemudian ia disiasati atau diarahkan untuk diisi orang lain agar bisa bersinergi dalam sebuah tim. Hal ini bisa menciptakan team work hebat. Karena yang ada dalam sebuah tim adalah kolaborasi bukan kompetisi. Sebagaimana lebah yang saling melengkapi dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga terciptalah sarang kokoh tempat madu diproduksi.

Bila kita hanya mencari kekuatan tapi mengabaikan pengenalan terhadap kelemahan, maka bisa jadi kita akan fokus pada kelemahan mengira itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan suatu saat. Disisi lain kekuatan diri menjadi terlantar padahal orang-orang sukses itu konsisten menajamkan kekuatan bukan fokus memperbaiki kelemahan. Selain itu bila tak mengenal baik kelemahan sebagai sebuah keterbatasan, bisa jadi kita akan marah dan tersinggung jika seseorang mengungkapkannya. Tapi jika kita telah lebih dahulu mengenalinya maka hal itu tidak akan memantik emosional kita.

Abah Rama sang founder talent mapping berkata jika engkau tak mengenal dirimu yang sesungguhnya maka bagaimana engkau berharap dikenali orang lain. Citra diri itu sangat penting. Seringkali kita mengabaikannya. Kita sering mendengar kalimat "just be yourself" tapi bagaimana mungkin bisa terjadi bila kita tak mengenali diri sendiri? Maka penting untuk menajamkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan atau kelemahan tapi awali dengan memahami diri sendiri. Bukankah Allah 'azza Wajalla menciptakan kekuatan dan kelemahan diri bukan tanpa sebab dan tujuan?

Pertanyaan dulu yang sering terbetik di benakku. Mengapa banyak orang yang kehilangan identitas diri? Sehingga berusaha mencari jati diri? Syukur-syukur jika jati diri itu dicari pada tempat yang benar, tapi jika sebaliknya? Jawabannya ternyata karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan berkenalan dengan citra diri. Sehingga kelak kita tak mampu mengelola kekuatan dan kelemahan diri bahkan pada orang lain. Sedangkan modal dalam menjalin ukhuwah termasuk berlapang dada dengan keterbatasan orang lain dalam artian mengenali kelemahan. Maka tak perlu heran jika kita menemukan diri kita seringkali terjebak perseteruan dengan orang lain, menyesali diri tak seberuntung orang lain, atau bahkan tak yakin dengan kekuatan diri sendiri. Sebabnya kita buta pada konsep diri.

Pertama kali mengenal konsep citra diri adalah pada sebuah pelatihan Training of Trainer Dasar pada sebuah Lembaga Muslimah. Saat itu aku mulai mengenal diri dari penilaian teman pelatihan dan dikuatkan dari asumsi sendiri. Kemudian berkenalan dengan Institut Ibu Profesional yang menjadi gerbang interaksiku dengan talent mapping milik Abah Rama. Aku mulai memahami bahwa ternyata kelemahan itu penting untuk dikenali sebagai sebuah keterbatasan. Maka tak perlu sibuk meniru orang lain. Tak perlu berusaha bersaing dengan orang lain. Tak perlu iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain. Tak perlu menjudge anak kita dengan label negatif seperti nakal, bodoh dst. Karena dalam konsep citra diri slogan "jika orang lain bisa akupun pasti bisa"  tak bisa sepenuhnya digunakan, kecuali itu terkait dengan kekuatan diri. Tapi jika kelemahan , maka sampai kapanpun ia tak akan mampu sama atau paling hasilnya biasa-biasa saja. Fokus saja mengasah kekuatan.

Ilmu pengenalan diri penting bagi orang tua dan pendidik. Menularkan  pada anak untuk menjadi diri sendiri dengan segala keunikan kekuatan dan kelemahannya. Karena sesungguhnya tiap individu itu limited edition. Hanya saja orang gagal dimata kita belum menemukan kekuatan dirinya, mungkin selama ini ia terperangkap dengan label lingkungan yang fokus melihat kelemahan dirinya. Belajar Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan sehingga krisis identitas bisa diminimalisir pada generasi kita.  Tak ada lagi penilaian negatif pada anak kita tetapi disiasati dan diarahkan.  Tak perlu lagi memaksakan jurusan pada mereka. Kenali diri agar kita mampu memposisikan diri dengan baik dan benar. Seperti kutipan dari sang founder talent mapping "Be yourself, but first know Yourself".

#belajarmengenaldiri
@ummu zaki

Pa' Janggo'-janggo'

Janggo' dalam bahasa Bugis  berarti janggut, rambut yang tumbuh di pipi dan dagu sebagian besar laki-laki. Namun seiring waktu, janggo' bukan lagi merupakan ciri khas lelaki di zaman ini. Meski ia merupakan Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Saya teringat Syaikh Utsaimin bahkan menolak dikemoterapi demi tak ingin berjumpa Robbnya tanpa janggut.

Usai mengikuti sebuah resepsi walimah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Qosim KSA di salah satu desa yang dekat dengan destinasi wisata laut dan seafood di Pinrang, tepatnya Ammani, kami melaju pulang ke kota namun belum seperdua perjalanan kumandang azan memanggil segera untuk dipenuhi. Akhirnya suami menepikan mobil di dekat masjid, sedangkan saya dan seorang penumpang akhwat lainnya menunggu diatas mobil.

Saya merasa sedikit gerah dalam mobil yang tertutup. Terlebih dengan kostum berwana hitam yang memang lebih kuat menyerap kalor  ditambah model hijab overhead yang menutup dari atas kepala hingga ujung kaki memaksa saya membuka pintu mobil lebar-lebar. Tak berselang lama, seorang anak laki-laki kisaran umur 9 tahunan melewati pintu depan pintu mobil yang terbuka tersebut. Ia seperti terheran melihat kostum kami berdua yang serba gelap plus hanya nampak bagian kedua bola mata. Ditengah keheranannya yang saya definisikan sebagai keterkejutan, sembari memegang pintu mobil dan menatap saya yang sedang asyik dengan hp, ia kemudian bergumam pada temannya yang telah melalui mobil kami persis tepat disebelah kiri depan:
" Eh, ini mobilnya pajjanggo'-janggo' " dengan mimik heran seolah menemukan hal luar biasa (hahaha mimiknya lucu).
Saya yang mendengar jelas perkataannya tersebab tepat persia didepanku berkata: " bukan pajjanggo'-janggo'  karena itu sama saja janggut mainan. Cukup sekali ya *pajjangggo'* artinya orang yang berjenggot. Dia kemudian tersenyum. "Nabi kita berjanggut, tidak? "Tanyaku. Dia kelihatan kebingungan. Tau tidak Kalau semua nabi itu berjanggut?". " tidak", Jawabnya. "Bahkan janggut itu jadi ciri khas orang Sholeh terdahulu lho". Ia pun tersenyum simpul dan bergegas berlalu. Dalam hati "pede juga nak ini" saya pun cuma bisa tersenyum dibalik niqob.

Yah,  "pajjangggo'-janggo' telah menjadi sebuah sematan yang rasanya telah menjadi identitas baru bagi lelaki yang berusaha memelihara jenggot karena menghidupkan sunnah. Bahkan bagi wanita berniqob yang pastinya tanpa jenggot (karena perempuan) pun kecipratan sematan itu.

Hanya saja telinga saya sedikit terganggu dengan pengulangan kata 'janggo' yang bisa bermakna *mainan*  'pa' bermakna  pemilik dan pengulangan kata "janggo'-janggo' bermakna *janggut-janggut*  sebagaimana pada kata benda lainnya seperti orang-orangan, mobil-mobilan, kucing-kucingan dsb.  jika diterjemahkan  kata Pa' janggo'-janggo' akan bermakna *pemilik janggut-janggut*.

Anehnya istilah ini viral di kalangan masyarakat yang awam dengan Sunnah satu ini dan diamini oleh sebagian besar orang. Bahkan bagi kalangan akademisi yang sekalipun yang saya fikir faham secara makna bahasa  Hingga sayapun yang tak lepas dari sematan  seperti itu kadang pula ikut terbawa arus   mendeskripsikan identitas Ikhwan/akhwat jika tak difahami juga orang awan, nah lho?.

Kalau di kalangan Pecinta Sunnah ( sematan ini kayaknya lebih cocok deh) sematan akhwat untuk perempuan secara umum, Ummahat untuk perempuan yang telah menikah (ibu-ibu) dan ikhwan untuk laki2. Diluar itu siap-siap dipanggil Pa' janggo'-janggo' meski anda perempuan tulen.

Pinrang, 3 Syawal 1440 H
* By: Ummu Zaki





Haji/Hajjah : Antara syariat dan Kebiasaan

Beberapa hari ini saya mendapatkan postingan video dari asaatidzah kondang Ahlu Sunnah tentang larangan sematan *haji/Hajjah* pada nama, karena ia adalah _bekas_ ibadah wajib yang tak perlu diberi gelar. Fikiran saya sedikit tergelitik. Setuju dengan perkataan asaatidzah tersebut tapi aplikasi dalam penghilangan sematan itu tak tau harus memulai dari mana. Khusus di daerah saya, sematan itu nyaris "wajib" digunakan sebagai bentuk penghormatan pada sang pemilik. Bahkan bermodal gelar ini bisa merubah status sosial seseorang contohnya ia bisa menempati posisi duduk teratas dan terdepan di sebuah hajatan. Hebat, kan?

Memanggil nama tanpa sematan ini bisa saja dianggap tak sopan (atau cuma dugaan saya, ya?).Khawatirnya si pemilik atau orang lain yang mendengar akan menilai "tak sopan" jika langsung  memanggil nama tanpa sematan ibadah yang masuk rukun Islam terakhir ini, meski maksudnya bukan begitu sih.  Dilain pihak saya khawatir terjatuh pada ikut serta melegalkan alias  turut andil melestarikan tradisi gelar ini. Kadang bingung antara syariat dan yang "katanya" 'urf masyarakat setempat (emang gt?serius bingung). Atau mungkin karena saya tak berhak atas titel itu jadi mudah beropini, ya? Namun jika sekiranya diberi rejeki dan umur panjang untuk menunaikan kewajiban satu ini (Allahumma aamiin), inginnya sematan itu dijauhkan bertrilyun kilometer dari nama saya, soalnya ye, hatiku tuh rapuuh banget, mudah riya', ujub dan mungkin bisa terasa kurang afdhol jika terlanjur tersemat dan tidak dipanggil "Hajjah" oleh seseorang. Katanya riya' itu seperti semut hitam berjalan dimalam hari, haluuus nyaris tak terasa. Dan sayapun berkali-kali terpeleset di ranah ini tanpa terdeteksi. Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih dipanggil dengan nama kuniyah *Ummu Zaki* bebas hambatan hati, aman dan nyaman, hehehe.

Katanya lagi asaatidzah itu, sejatinya ibadah tak memiliki *titel*. Karena satu syarat diterimanya ibadah adalah ikhlash. Ikhlash berarti hanya bermuara ke sang Pemilik dan tak perlu menunggu penilaian manusia. Semakin samar sebuah ibadah di mata manusia semakin baik (selain ibadah syiar tentunya). Merasa ada yang kurang dengan tanpa sematan itu bisa saja berefek pada keikhlasan ibadah haji yang memang diraih dengan perjuangan yang tak mudah. Katanya lagi, ibadah satu ini  jika telah sempurna dilalui maka ia telah sampai padaNya meski tanpa bekas termasuk gelar. Bahkan kalau ingin melihat "contoh" dari para salafush sholeh, tak satupun menggunakan sematan ini pada nama mereka meski berkali-kali menunaikannya, terus yang mau dicontoh siapa coba kalau bukan mereka sebagai khairah ummah, ummat terbaik sepanjang zaman.

Berbeda dengan gelar akademik yang memang bukan merupakan tanda ibadah wajib, sunnah bahkan mungkin hanya mubah (selain ilmu syariat pastinya). Bahkan pernah disebuah lembaga tertentu, gelar akademik pun kadang tak perlu ditampakkan meski dalam penulisan surat formal sekalipun jika sifatnya internal.

Kucoba memulai dengan mengedit nama-nama pemilik "haji/Hajjah" di kontak teleponku. One by one, dan ternyata lumayan membuat pegal jempol saking tak sedikit yang harus diedit, baru nyadar saya, Ternyata banyak yang bergelar itu di kontakku yang tentunya dengan andil saya yang menyimpan nama. Mungkin inilah awal yang bisa saya mulai tanpa terkesan "tak sopan" karena hanya untuk konsumsi pribadi. Berharap langkahnya bisa lebih kedepan tentunya bukan karena manusianya tapi semata ingin ridha dariNya sebagai tujuan hidup di dunia.

Ah... syariat itu adalah sebuah kepastian karena ia dari sang pemilik Yang Maha Tahu. Bukan berbasis perasaan meski tak jarang melibatkan perasaan dalam aplikasinya. Manusia memang suka sok tahu. yaaa seperti saya ini dalam masalah ini.

*Ummu Zaki

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...