Jumat, 17 Juli 2020

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi best seller. Dimasa pandemi inj saat pembelajaran online diberlakukan, maka pembelajaran memanusiakan manusia ini benar-benar diharapkan oleh  orang tua dan peserta didik sebagai subjek pembelajaran bukan malah menjadi objek pembelajaran.

Mengapa dikatakan pembelajaran di masa pandemi lebih mengedepankan kemanusiaan?

Telah difahami bersama bahwa akibat pandemi ini maka hampir seluruh aktivitas  dilaksanakan secara daring terutama bidang pendidikan. Dan itu sangat berbeda dengan tatap muka. Jika dalam pembelajaran tatap muka peserta didik secara mandiri datang kesekolah dan bertatap muka langsung dengan guru maka dimasa pandemi terjadi sebaliknya, terutama  anak-anak yang berada  pada jenjang sekolah dasar yang tentu porsi pendampingan orang tua jauh lebih besar dibanding jenjang berikutnya.

Persoalannya kemudian adalah jika sang orang tua merupakan pekerja yang sejak pagi hingga sore harus berada di kantor dimasa new normal ini.  Maka tentu mereka akan kesulitan mendampingi sang anak. Terlebih jika anak yang harus didampingi lebih dari satu. Belum lagi saat tiba di rumah pada sore hari sang anak tidak begitu respon langsung menerima beban tugas dari guru melalui lisan orang tua. Maka ini akan menjadi masalah jika sang guru tak menerapkan toleransi tinggi yang mengedepankan kemanusiaan dan kebijaksanaan dalam durasi pengumpulan tugas hari itu.

Disamping itu, handphone yang merupakan satu-satunya media pembelajaran online dengan mengandalkan komunikasi di medsos tentu memiliki keterbatasan. Terlebih jika sang orangtua menggunakan hp yang sama dalam komunikasinya sendiri. Maka jam standby hp pun akan berpengaruh. Seharian di kantor dengan hp yang standby belum lagi jika handphone yang sama digunakan dalam bekerja, maka bisa saja terjadi baterai habis saat tiba di rumah dan berakibat tugas anaknya hari itupun tak tertunai. Yang risau tentu bukan sang anak semata namun terjadi kerisauan bersama antara orang tua dan anak. 

Maka jika sang guru tidak mengedepankan toleransi durasi waktu pengumpulan tugas maka hal ini akan menyulitkan bagi mereka dan bukan tak mungkin memicu tingkat stress berlebih dimasa yang seharusnya imunitas tubuh diperkuat dengan tak lupa bahagia.

Pembelajaran online lebih mengedepankan konteks bukan konten. Hal ini tak berarti pengabaian terhadap silabus yang menjadi acuan pembelajaran. Sebagaimana pernyataan menteri pendidikan bahwa "dimasa pandemi ini guru dan siswa tidak  wajib mengejar ketuntasan kompetensi inti dan dasar" . [1]

Oleh karena itu,  guru dituntut kreatif memilah materi pembelajaran yang esensial yang lebih kontekstual dalam membekali peserta didik menghadapi kehidupan nyata bukan kehidupan maya ataupun khayalan yang tercatat hebat di atas kertas namun payah dalam menyelesaikan persoalan kehidupannya sendiri. 

Pembelajaran lebih bermakna dan konkret bukan teoritis dan abstrak. Intinya  guru perlu melakukan penyederhanaan materi. Sebagaimana himbauan bapak menteri tentang pembelajaran dimasa pandemi yang hanya terfikus pada tiga hal, literasi, numerasi dan pendidikan karakter.[1]

*Husnul Khatimah Ummu Zaki
Pendidik dan ibu dari 4 anak sekolah daring 

Sumber:[1] https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/edu/read/2020/07/03/120021871/mendikbud-jelaskan-3-fokus-penyederhanaan-kurikulum-selama-pandemi







Selasa, 09 Juni 2020

SAID BIN AMIR AL-JUMAHI

" Said bin Amir, seorang laki-laki yang memberi akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah dan rasulnya di atas selain keduanya". (Ahli Sejarah)

Anak muda ini Said Bin Amir adalah salah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tan'im di luar Makkah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati atas Khubaib Bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka menangkapnya dengan cara licik.

Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh Said mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih tua umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di antara para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan Bin Harb, Shafwan Bin Umayyah dan lain-lainnya yang menyelenggarakan acara tersebut.

Semua itu membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy tersebut terikat dengan tambang, sementara tangan anak-anak para pemuda dan kaum wanita mendorongnya ke pelataran kematian dengan kuatnya. Mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallammelalui Khubai, membalas kematian orang-orang yang terbunuh di Badar dengan membunuh Khubaib.

Mana kala rombongan orang dalam jumlah besar dengan seorang tawanan mereka tersebut telah tiba di tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said Bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib.  Said mendengar bait Khubaib diantara teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia  mendengarnya berkata "Bila kalian berkenan membiarkanku salat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?"

Said melihat  hu bait salat menghadap kiblat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan sangat sempurna.

Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata  "Demi Allah kalau aku tidak khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama salat karena takut mati,niscaya aku akan memperbanyak lagi salatku. 

Kemudian Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang  jasad Khubaib sepotong demi sepotong padahal  hidup Khubaib masih hidup sambil berkata  " Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini sedangkan kamu selamat?".

Khubaib menjawab sedangkan darah menetes dari jasadnya, " Demi Allah aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri."

Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi tinggi ke udara, teriakan mereka gegap gempita menggema di langit.

Di saat itu Said Bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang salib dan berkata, " Ya, Allah, balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai habis dan jangan biarkan seorangpun dari mereka hidup dengan aman.

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya dan tidak ada seorangpun yang mampu melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.

Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah. Mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama dengan datangnya peristiwa demi peristiwa yang mereka hadapi. Namun tidak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said Bin Amir, Khubaib tidak pernah terbenam dari benaknya sesaat pun.

Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur, membayangkannya dalam khayalannya ketika dia terjaga, berdiri di depannya ketika dia salat dua rakaat dengan tenang dan tentram di depan kayu salib. Said mendengar bisikan suaranya di kedua telinganya ketika dia berdoa atas orang-orang Quraisy, maka dia khawatir sebuah halilintar akan menyambar atau sebuah batu dari langit akan jatuh menimpanya.  

Peristiwa kematian khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said persoalan besar yang belum diketahui selama ini.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa kehidupan sejati adalah jihad dijalan aqidah yang diyakininya sampai maut.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang terpanjang kuat bisa melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya perkara lainnya yaitu seorang laki-laki yang dicintai sedemikian rupa oleh para sahabatnya adalah seorang nabi yang didukung oleh kekuatan dan pertolongan langit.

Pada saat itu Allah Ta’ala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di hadapan sekumpulan orang banyak , mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan orang Quraisy ,menanggalkan berhala dan patung -patung menyatakan diri sebagai  seorang muslim .

Said bin Amir Al- Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal Bersama Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, ikut bersama beliau dalam perang Khaibar dan peperangan lain sesudahnya .

Manakala Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang mulia di apnggil  menghadap kehariban Rabnya dalam keadaan ridha , Said BinAamir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para khalifah Nabi sallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhu Said bin Amir hidup sebagai contoh menawan  lagi mengagumkan  bagi setiap mu’min yang telah membeli akhirat dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalanya di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu.

Dua orang khalifah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengenal kejujuran Said bin Amir radhiallahu anhu dan ketakwaannya ,keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata katanya .









Selasa, 31 Desember 2019

Istri Tak Pernah Salah, itu Keliru

Khanza termangu memikirkan antara dua pilihan, ikut suami berlibur di hari satu-satunya kesempatan keluarga mereka berkumpul di liburan kali ini, tersebab si sulung akan kembali mondok tiga hari kedepan, demikian pula sang suami akan bersafar diwaktu yang sama, ataukah ia memilih tinggal untuk menunaikan amanahnya di sebuah perkumpulan sebagai ketua. Menghadiri musyawarah yang jarang ia tunaikan terlebih dia akhir tahun jelang pertanggungjawaban. Pergolakan batin terus terjadi sepanjang hari itu. Antara amanah dan ikut suami.

Usai penerimaan raport anak-anaknya, suami pun pulang ke rumah. Ia sampaikan masalahnya pada suami yang cukup membuatnya mupeng, sesulit menyelesaikan e-raport yang baru saja usai (segitunya hhh). Kali ini ditengah kebingungannya antara amanah dan suami, pelan2 ia sampaikan. Meminta pendapat darinya. Sang suami memintanya ikut secara tersirat. Bukan berarti suaminya tak faham tandzim. Hanya saja, kedatangannya kali ini ke kampung halaman begitu dinantikan. Khansa dan anak-anaknya dikenal maniak mangga, terlebih mangga khas Bugis yang harum nan semerbak yang tak bisa disembunyikan, mangga macan. Sekarung mangga jenis apapun, kan bersih dari pandangan dalam 2 hari di keluarga ini, hebat kan?  Mangga ini tiap tahunnya melimpah di kampung suaminya. Sekeranjang pemberian tetangga telah dibuang percuma karena lelah menunggu sang mangga lovers ini yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Begitu kata mertuanya via telp.

Meski sang suami memaparkan pandangannya, tanpa memberi instruksi jelas untuk melakukan satu pilihan. Namun Khanza menyimpulkan dari raut suaminya bahwa ia harus ikut kali ini, mengabaikan amanah lembaga di pundaknya dan memilih berkhidmat pada sang suami. Berat, namun itulah hidup, memilih adalah hak dan menjalankan pilihan dengan ikhlas adalah sebuah keniscayaan sebagai bagian dari garis tangan yang telah termaktub 50 ribu tahun sebelum bumi tercipta. Ah, yang ini sih semua pasti sudah faham teorinya. Prakteknya kadang amburadul termasuk penulis yang juga manusia biasa.

Sebelumnya keluarga ini telah merencanakan untuk _dinner_ di pinggir jalan dalam perjalanan pulang. Qadarullah, nasi dan lauk telah terbungkus rapi, namun piring dan kawan-kawannya terlupakan. Ada raut kecewa di wajah khanza, ia merasa perjalanannya sedikit terganggu. Kecerdasan bahasanya dan stok 20.000 kata-katanya meluncur bak air deras. Sang suami menawarkan meminjam peralatan makan saudara Khanza yang akan dilewati, lagi2 mereka keluar kota. Beruntung Khanza teringat salah satu rumah rekan kerjanya yang akan ia lalui. Maka ia pun menghubunginya. Binar bahagia terpancar dari matanya, temannya itu sedang di rumah. Dan takdir Allah selalu baik. Selain peralatan makan, mangga andalan keluarganya disodorkan sang rekan sebagai buah tangan sekaligus cemilan perjalanan. Karena sang rekannya ini sangat mafhum bahwa Khanza penyuka mangga. Dan dalam hal ini mereka punya kemiripan. Tak lupa ucapan _jazaakillahu Khairan_ terlantun pada rekannya, semoga saja Allah menggantinya dengan lebih baik. Baunya yang semerbak meliputi ruang mobil tak menyurutkan semangat perjalanan keluarga ini. Dan kerinduan memakan  buah ini pun terbayar dalam perjalanan pulang.

_Qadarullah walhamdulillah_. ketertinggalan peralatan makan yang sempat ia keluhkan, dinanti oleh takdir yang lebih baik dariNya. Begitu kata sang suami. Ah, Betapa manusia itu makhluk yang suka mengeluh. Banyak2 khanza beristigfar, semoga ia diampunkan.

Dalam perjalanan, Khanza merasa kepalanya agak pening. "Ah, mungkin cuma kurang istirahat. Esok pagi akan sembuh juga". Batinnya.

Mereka akhirnya sampai di kampung suami tepat jelang jam sepuluh malam.  Saat penghuni rumah sebagian besar telah terlelap. Sengaja perjalanan kali ini dipilih malam, berbeda dari biasanya. Karena kajian bulanan berakhir jelang Maghrib. Sedangkan jika mereka memilih esoknya, waktu berlibur akan semakin ringkas. Seperti sebelumnya, jika mereka hanya datang numpang buang angin di kampung, sang mertua akan terlihat berat memahami. Di umurnya yang telah sepuh, rasanya sang suami ogah mengulang perjalanan singkat itu terlebih di pekan liburan. Ibunya mana faham tentang lembaga yang dipimpin anaknya yang akan berpengaruh pada kunjungan mereka, atau kegiatan musyawarah Khanza yang bertepatan dengan jadwal liburan mereka.

Di tengah malam, Khanza terbangun, merasakan pening kepalanya bertambah berat. Hingga keesokan harinya, demam menggigil mulai terasa. Namun, berkali-kali ia mengucap syukur, akan "teguran" Sang Pemilik takdir.  Sekiranya saja ia memilih pilihan pertama dan tak ikut berlibur kali ini, toh keadaan tetap akan sama, ia tetap akan absen dari musyawarah, berjuang sendiri dengan sakitnya tanpa keluarga tercinta. Sekaligus kekecawaan pada anak, suami dan mertua dikampung akan ketidakhadirannya menyicipi hasil kebun yang hampir habis. Khanza tak henti hentinya beristigfar sebanyak-banyaknya. Rasa sakit yang ia derita ia syukuri sebagai sebuah pembelajaran besar, bahwa suami memang untuk ditaati dan sekaligus mematahkan opini tentang "istri tak pernah salah".

Seorang insan yang berpeluh dosa
@⁨Ummu Zaki

Pergilah Anakku

Liburmu telah usai, anakku
Saatnya melepasmu lagi
Tuk menapaki jalan hidupmu
Menjadi bagian kisahmu nanti

Pergilah meraih impian, anakku
Yang tak  sebatas bintang di langit
Tapi melampaui tujuh lapisan langit
JannahNya, hingga meraih cita tertinggi
Menatap wajahNya di kehidupan abadi
Impian kita bersama, anakku.

Kembalilah meraup ilmu , anakku.
Agar langkahmu menyisakan jejak berberkah
Suci nan terpelihara seperti sematan doa
yang tersisip di namamu.

Pergilah, anakku.
Kami ikhlash demi penjagaan aqidahmu
Di penghujung waktu yang sarat fitnah
Agar kau mampu menghimpun ibrah

Pulanglah, anakku.
Saat bekalmu telah memenuhi kalbu
Hingga kau menjelma menjadi qurrota a'yun
Di akhir zaman yang semakin tak anggun.

Pinrang, 31-12-2019
@Ummu Zaki

Selasa, 24 September 2019

Mengenalkan Kemandirian Finansial Sejak Dini


Setandan pisang kepok muda senantiasa  menjadi oleh-oleh wajib tiap pulang dari kampung halaman sang suami. Kali ini sang bibi dari suami yang memberikan  hasil kebun pisangnya. Ada rasa iba bercampur kekaguman, dengan keterbatasan finansial tapi mereka masih bisa berbagi hasil kebun.

Sesampai di rumah, anak-anak memberikan ide untuk membuat kripik pisang. Dibantu mereka, setengah tandan pisang ludes menjelma menjadi kripik  rasa coklat dan balado. Si sulung memboyong sebagian besar produksi hari itu ke pondok sebagai modal cemilan.

"Bu, saya mau jual kripik pisang di sekolah,  boleh kan, Bu?". Ungkap anak ketiga di keluarga itu. "Boleh". Jawab sang ibu. Gadis kecil yang duduk di kelas 3 SD ini memang memiliki jiwa enterpreneur, setiap kali ia makan cemilan rumah yang menurut takaran lidahnya lezat, maka akan terbesit untuk menjualnya. Tak mau ketinggalan kakaknya yang duduk di bangku SD kelas 6 pun ikut mengepak untuk ia jual pada teman-temannya. Sang ibu akan senantiasa mendukung dan memfasilitasi. Tak lupa ia ajarkan  sistem bagi hasil, modal usaha dan persentase laba yang ia peroleh pada tiap bungkusnya.

Pelajaran kehidupan seperti ini ia anggap perlu ia bekali pada anaknya. Bukan bermaksud mengeksploitasi anak tetapi kini tuntutan zaman meminta kreativitas dalam persaingan global. Jika ia tak terbangun sejak dini. Maka tak heran saat mereka telah baligh atau bahkan telah menyelesaikan studi dan harusnya telah  mulai berfikir berpijak diatas kakinya sendiri, namun kenyataannya tak jarang kemandirian finansial masih tak jua nampak. Minimal mereka merasakan betapa sulitnya kepingan-kepingan rupiah diperoleh. Ia membutuhkan usaha dan perjuangan. Keringat dan peluh mewarnai proses itu serta belajar mengabaikan gengsi yang menjadi benteng utama menuju kemandirian finansial. Begitu fikirnya.

Pulang sekolah, mereka berkisah betapa jualan mereka diminati hari itu, sampai beberapa temannya tak kebagian. Sang emak menyimak keseruan mereka berkisah kemudian berkata "memang untuk memulai sebuah usaha, kita harus mengabaikan rasa malu. Jika ia halal maka tak ada yg perlu digengsikan. Gengsi hanya akan mengubur kreatifitas kalian yang mungkin bisa sangat bermanfaat bagi diri dan lingkungan . Jika tak mau mencoba kalian tak akan tahu rasanya."

"Bu, saya masih mau jualan ah, nanti saya yang kerja sendiri" sang gadis kecil menimpali. "Boleh. Masih ada setengah tandan pisang, jika kalian ingin mendapatkan presentasi laba lebih dari yang hari ini, kalian harus berusaha sendiri dari proses awal hingga akhir". "Yuhuiii!" respon mereka kompak. Menaikkan presentase bagi hasil seperti ini tak ayal melecutkan semangat mereka. Sedari sore hingga malam usai melaksanakan kewajiban harian tentunya, mereka berkutat di dapur memproduksi kripik masing-masing. Sang emak hanya memantau bak seorang mandor hilir mudik di dapur.

Kemandirian tidak selalu hadir begitu saja, ia melalui proses penempaan yang terkadang harus mengabaikan rasa iba pada buah hati sendiri. Kamandirian tak jarang hadir dari kesulitan-kesulitan. Jika sang anak tak menemukannya tersebab berbagai kemudahan dari orangtuanya, maka menyengaja menghadirkan kesulitan itu sendiri menjadi sebuah keharusan demi kuatnya pijakan kaki mereka saat masanya telah tiba kelak.

*Ummu Zaki

Sabtu, 17 Agustus 2019

BERKENALAN DENGAN KELEMAHAN DIRI

Mengenali kelemahan diri adalah sama pentingnya dengan mengenali kekuatan diri. Selama ini kita sering terjebak dengan pencitraan seolah aib jika kelemahan tersingkap, seolah kelemahan adalah sesuatu yang harus dipangkas. Kita tak fokus mensiasati kelemahan tapi hanya berpusat menajamkan kekuatan. Hal yang lebih parah ketika kita tak mampu membedakan yang mana kekuatan yang mana keterbatasan. Sehingga wajar ketika kita selalu ingin memaksakan diri dan orang lain seperti harapan kita. Tak jarang berujung pada stress, menyalahkan diri dan bahkan orang lain. Ketika kelemahan diri kita fahami dan diakui, kemudian ia disiasati atau diarahkan untuk diisi orang lain agar bisa bersinergi dalam sebuah tim. Hal ini bisa menciptakan team work hebat. Karena yang ada dalam sebuah tim adalah kolaborasi bukan kompetisi. Sebagaimana lebah yang saling melengkapi dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga terciptalah sarang kokoh tempat madu diproduksi.

Bila kita hanya mencari kekuatan tapi mengabaikan pengenalan terhadap kelemahan, maka bisa jadi kita akan fokus pada kelemahan mengira itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan suatu saat. Disisi lain kekuatan diri menjadi terlantar padahal orang-orang sukses itu konsisten menajamkan kekuatan bukan fokus memperbaiki kelemahan. Selain itu bila tak mengenal baik kelemahan sebagai sebuah keterbatasan, bisa jadi kita akan marah dan tersinggung jika seseorang mengungkapkannya. Tapi jika kita telah lebih dahulu mengenalinya maka hal itu tidak akan memantik emosional kita.

Abah Rama sang founder talent mapping berkata jika engkau tak mengenal dirimu yang sesungguhnya maka bagaimana engkau berharap dikenali orang lain. Citra diri itu sangat penting. Seringkali kita mengabaikannya. Kita sering mendengar kalimat "just be yourself" tapi bagaimana mungkin bisa terjadi bila kita tak mengenali diri sendiri? Maka penting untuk menajamkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan atau kelemahan tapi awali dengan memahami diri sendiri. Bukankah Allah 'azza Wajalla menciptakan kekuatan dan kelemahan diri bukan tanpa sebab dan tujuan?

Pertanyaan dulu yang sering terbetik di benakku. Mengapa banyak orang yang kehilangan identitas diri? Sehingga berusaha mencari jati diri? Syukur-syukur jika jati diri itu dicari pada tempat yang benar, tapi jika sebaliknya? Jawabannya ternyata karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan berkenalan dengan citra diri. Sehingga kelak kita tak mampu mengelola kekuatan dan kelemahan diri bahkan pada orang lain. Sedangkan modal dalam menjalin ukhuwah termasuk berlapang dada dengan keterbatasan orang lain dalam artian mengenali kelemahan. Maka tak perlu heran jika kita menemukan diri kita seringkali terjebak perseteruan dengan orang lain, menyesali diri tak seberuntung orang lain, atau bahkan tak yakin dengan kekuatan diri sendiri. Sebabnya kita buta pada konsep diri.

Pertama kali mengenal konsep citra diri adalah pada sebuah pelatihan Training of Trainer Dasar pada sebuah Lembaga Muslimah. Saat itu aku mulai mengenal diri dari penilaian teman pelatihan dan dikuatkan dari asumsi sendiri. Kemudian berkenalan dengan Institut Ibu Profesional yang menjadi gerbang interaksiku dengan talent mapping milik Abah Rama. Aku mulai memahami bahwa ternyata kelemahan itu penting untuk dikenali sebagai sebuah keterbatasan. Maka tak perlu sibuk meniru orang lain. Tak perlu berusaha bersaing dengan orang lain. Tak perlu iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain. Tak perlu menjudge anak kita dengan label negatif seperti nakal, bodoh dst. Karena dalam konsep citra diri slogan "jika orang lain bisa akupun pasti bisa"  tak bisa sepenuhnya digunakan, kecuali itu terkait dengan kekuatan diri. Tapi jika kelemahan , maka sampai kapanpun ia tak akan mampu sama atau paling hasilnya biasa-biasa saja. Fokus saja mengasah kekuatan.

Ilmu pengenalan diri penting bagi orang tua dan pendidik. Menularkan  pada anak untuk menjadi diri sendiri dengan segala keunikan kekuatan dan kelemahannya. Karena sesungguhnya tiap individu itu limited edition. Hanya saja orang gagal dimata kita belum menemukan kekuatan dirinya, mungkin selama ini ia terperangkap dengan label lingkungan yang fokus melihat kelemahan dirinya. Belajar Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan sehingga krisis identitas bisa diminimalisir pada generasi kita.  Tak ada lagi penilaian negatif pada anak kita tetapi disiasati dan diarahkan.  Tak perlu lagi memaksakan jurusan pada mereka. Kenali diri agar kita mampu memposisikan diri dengan baik dan benar. Seperti kutipan dari sang founder talent mapping "Be yourself, but first know Yourself".

#belajarmengenaldiri
@ummu zaki

Pa' Janggo'-janggo'

Janggo' dalam bahasa Bugis  berarti janggut, rambut yang tumbuh di pipi dan dagu sebagian besar laki-laki. Namun seiring waktu, janggo' bukan lagi merupakan ciri khas lelaki di zaman ini. Meski ia merupakan Sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Saya teringat Syaikh Utsaimin bahkan menolak dikemoterapi demi tak ingin berjumpa Robbnya tanpa janggut.

Usai mengikuti sebuah resepsi walimah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Qosim KSA di salah satu desa yang dekat dengan destinasi wisata laut dan seafood di Pinrang, tepatnya Ammani, kami melaju pulang ke kota namun belum seperdua perjalanan kumandang azan memanggil segera untuk dipenuhi. Akhirnya suami menepikan mobil di dekat masjid, sedangkan saya dan seorang penumpang akhwat lainnya menunggu diatas mobil.

Saya merasa sedikit gerah dalam mobil yang tertutup. Terlebih dengan kostum berwana hitam yang memang lebih kuat menyerap kalor  ditambah model hijab overhead yang menutup dari atas kepala hingga ujung kaki memaksa saya membuka pintu mobil lebar-lebar. Tak berselang lama, seorang anak laki-laki kisaran umur 9 tahunan melewati pintu depan pintu mobil yang terbuka tersebut. Ia seperti terheran melihat kostum kami berdua yang serba gelap plus hanya nampak bagian kedua bola mata. Ditengah keheranannya yang saya definisikan sebagai keterkejutan, sembari memegang pintu mobil dan menatap saya yang sedang asyik dengan hp, ia kemudian bergumam pada temannya yang telah melalui mobil kami persis tepat disebelah kiri depan:
" Eh, ini mobilnya pajjanggo'-janggo' " dengan mimik heran seolah menemukan hal luar biasa (hahaha mimiknya lucu).
Saya yang mendengar jelas perkataannya tersebab tepat persia didepanku berkata: " bukan pajjanggo'-janggo'  karena itu sama saja janggut mainan. Cukup sekali ya *pajjangggo'* artinya orang yang berjenggot. Dia kemudian tersenyum. "Nabi kita berjanggut, tidak? "Tanyaku. Dia kelihatan kebingungan. Tau tidak Kalau semua nabi itu berjanggut?". " tidak", Jawabnya. "Bahkan janggut itu jadi ciri khas orang Sholeh terdahulu lho". Ia pun tersenyum simpul dan bergegas berlalu. Dalam hati "pede juga nak ini" saya pun cuma bisa tersenyum dibalik niqob.

Yah,  "pajjangggo'-janggo' telah menjadi sebuah sematan yang rasanya telah menjadi identitas baru bagi lelaki yang berusaha memelihara jenggot karena menghidupkan sunnah. Bahkan bagi wanita berniqob yang pastinya tanpa jenggot (karena perempuan) pun kecipratan sematan itu.

Hanya saja telinga saya sedikit terganggu dengan pengulangan kata 'janggo' yang bisa bermakna *mainan*  'pa' bermakna  pemilik dan pengulangan kata "janggo'-janggo' bermakna *janggut-janggut*  sebagaimana pada kata benda lainnya seperti orang-orangan, mobil-mobilan, kucing-kucingan dsb.  jika diterjemahkan  kata Pa' janggo'-janggo' akan bermakna *pemilik janggut-janggut*.

Anehnya istilah ini viral di kalangan masyarakat yang awam dengan Sunnah satu ini dan diamini oleh sebagian besar orang. Bahkan bagi kalangan akademisi yang sekalipun yang saya fikir faham secara makna bahasa  Hingga sayapun yang tak lepas dari sematan  seperti itu kadang pula ikut terbawa arus   mendeskripsikan identitas Ikhwan/akhwat jika tak difahami juga orang awan, nah lho?.

Kalau di kalangan Pecinta Sunnah ( sematan ini kayaknya lebih cocok deh) sematan akhwat untuk perempuan secara umum, Ummahat untuk perempuan yang telah menikah (ibu-ibu) dan ikhwan untuk laki2. Diluar itu siap-siap dipanggil Pa' janggo'-janggo' meski anda perempuan tulen.

Pinrang, 3 Syawal 1440 H
* By: Ummu Zaki





Haji/Hajjah : Antara syariat dan Kebiasaan

Beberapa hari ini saya mendapatkan postingan video dari asaatidzah kondang Ahlu Sunnah tentang larangan sematan *haji/Hajjah* pada nama, karena ia adalah _bekas_ ibadah wajib yang tak perlu diberi gelar. Fikiran saya sedikit tergelitik. Setuju dengan perkataan asaatidzah tersebut tapi aplikasi dalam penghilangan sematan itu tak tau harus memulai dari mana. Khusus di daerah saya, sematan itu nyaris "wajib" digunakan sebagai bentuk penghormatan pada sang pemilik. Bahkan bermodal gelar ini bisa merubah status sosial seseorang contohnya ia bisa menempati posisi duduk teratas dan terdepan di sebuah hajatan. Hebat, kan?

Memanggil nama tanpa sematan ini bisa saja dianggap tak sopan (atau cuma dugaan saya, ya?).Khawatirnya si pemilik atau orang lain yang mendengar akan menilai "tak sopan" jika langsung  memanggil nama tanpa sematan ibadah yang masuk rukun Islam terakhir ini, meski maksudnya bukan begitu sih.  Dilain pihak saya khawatir terjatuh pada ikut serta melegalkan alias  turut andil melestarikan tradisi gelar ini. Kadang bingung antara syariat dan yang "katanya" 'urf masyarakat setempat (emang gt?serius bingung). Atau mungkin karena saya tak berhak atas titel itu jadi mudah beropini, ya? Namun jika sekiranya diberi rejeki dan umur panjang untuk menunaikan kewajiban satu ini (Allahumma aamiin), inginnya sematan itu dijauhkan bertrilyun kilometer dari nama saya, soalnya ye, hatiku tuh rapuuh banget, mudah riya', ujub dan mungkin bisa terasa kurang afdhol jika terlanjur tersemat dan tidak dipanggil "Hajjah" oleh seseorang. Katanya riya' itu seperti semut hitam berjalan dimalam hari, haluuus nyaris tak terasa. Dan sayapun berkali-kali terpeleset di ranah ini tanpa terdeteksi. Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih dipanggil dengan nama kuniyah *Ummu Zaki* bebas hambatan hati, aman dan nyaman, hehehe.

Katanya lagi asaatidzah itu, sejatinya ibadah tak memiliki *titel*. Karena satu syarat diterimanya ibadah adalah ikhlash. Ikhlash berarti hanya bermuara ke sang Pemilik dan tak perlu menunggu penilaian manusia. Semakin samar sebuah ibadah di mata manusia semakin baik (selain ibadah syiar tentunya). Merasa ada yang kurang dengan tanpa sematan itu bisa saja berefek pada keikhlasan ibadah haji yang memang diraih dengan perjuangan yang tak mudah. Katanya lagi, ibadah satu ini  jika telah sempurna dilalui maka ia telah sampai padaNya meski tanpa bekas termasuk gelar. Bahkan kalau ingin melihat "contoh" dari para salafush sholeh, tak satupun menggunakan sematan ini pada nama mereka meski berkali-kali menunaikannya, terus yang mau dicontoh siapa coba kalau bukan mereka sebagai khairah ummah, ummat terbaik sepanjang zaman.

Berbeda dengan gelar akademik yang memang bukan merupakan tanda ibadah wajib, sunnah bahkan mungkin hanya mubah (selain ilmu syariat pastinya). Bahkan pernah disebuah lembaga tertentu, gelar akademik pun kadang tak perlu ditampakkan meski dalam penulisan surat formal sekalipun jika sifatnya internal.

Kucoba memulai dengan mengedit nama-nama pemilik "haji/Hajjah" di kontak teleponku. One by one, dan ternyata lumayan membuat pegal jempol saking tak sedikit yang harus diedit, baru nyadar saya, Ternyata banyak yang bergelar itu di kontakku yang tentunya dengan andil saya yang menyimpan nama. Mungkin inilah awal yang bisa saya mulai tanpa terkesan "tak sopan" karena hanya untuk konsumsi pribadi. Berharap langkahnya bisa lebih kedepan tentunya bukan karena manusianya tapi semata ingin ridha dariNya sebagai tujuan hidup di dunia.

Ah... syariat itu adalah sebuah kepastian karena ia dari sang pemilik Yang Maha Tahu. Bukan berbasis perasaan meski tak jarang melibatkan perasaan dalam aplikasinya. Manusia memang suka sok tahu. yaaa seperti saya ini dalam masalah ini.

*Ummu Zaki

Minggu, 31 Maret 2019

Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya.

Ahad, 31 Maret 2019
Aula Al-Ikhlas Pinrang

Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya. Maka sebuah nikmat jika Allah memilih kita. Dan kesempatan seperti ini tidak diberikan Allah kecuali ia dicintaiNya. Jika kita tidak memanfaatkannya berarti kita tidak mensyukuri nya bisa jadi Allah mencabutnya dan kita tidak lagi terlihat dalam kebersamaan bersama dgn orang2 yang mengusung perjuangan. Sejarah telah mencatat ada org2 yang berguguran dalam jalan dakwah, tidak lagi dalam kafilah dakwah diantara sebabnya adalah…
Dakwah adalah nikmat dan merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena pekerjaan para nabi dan rasul-Nya.

Sungguh kami telah mengutus seorang rasul dan rasul tersebut menyeru untuk mentauhidkan Allah saja.

Rasulullah sebagai nabi terakhir maka tak ada lagi nabi setelahnya tetapi para da’i yang mewarisinya.

“Dan para nabi tidak mewariskan Dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu”.

Rasulullah dalam mendakwahkan Islam melakukan berbagai macam metode. Dan wasa'il dakwah (sarana) bersifat ijtihadiyah bukan tauqifiyah. Boleh berijtihad untuk melihat apa lagi sarana dakwah yang bagus tidak terbatas  pada apa2 saja yang pernah dilalui Rasulullah. Boleh seseorang berijtihad didalam sarana2 dakwah karena dia sifatnya Flexibel. Diantara metode Rasulullah adalah membuat perumpamaan.

ضرب الله مثلا
Dharaballahu matsalan. Betapa banyak Bahasa Al Qur'an menggunakan ini. Ini agar bisa lebih berkesan ketika disampaikan berupa permisalan-permisalan.

Yaasin:13
Allah SWT berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا أَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ
"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;"
(QS. Ya Sin: Ayat 13)

ولقد بعثنا في أمة رسولا

suatu kaum tidak diazab jika meninggal dalam kekafiran karena tidak ada pemberi peringatan padanya.

Allah SWT berfirman:

إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوٓا إِنَّآ إِلَيْكُمْ مُّرْسَلُونَ
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."
(QS. Ya Sin: Ayat 14)

Ayat ini  menunjukkan bahwa jumlah didalam dakwah sesuatu yang penting. Pada zaman nabi Musa ada nabi Harun. Kekurangan nabi Musa tidak fasih dalam berbicara maka Musa dikuatkan dengan nabi Harun yang memiliki kepandaian berbicara. Semakin banyak da'i lebih baik. Selain meningkatkan kualitas da'i tapi jg berusaha menambah jumlah para da'i karena Medan dakwah ini banyak. Sebanyak apapun seorang da'i masih lebih banyak yang mau didakwai.

Ketika Rasulullah pindah ke Madinah dan membangun masyarakat Islam disana jumlah kaum muslimin masih sedikit.

Pada Fathu’ Mekkah 10.000 orang pada tahun 8 Hijriyah meningkat, Pada tahun 10 Hijriyah pada haji wada’ juga meningkat menjadi 28.000 orang (dikoreksi KL salah dengar dan catat) . Ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kuantitas sambil memperkuat kualitas. Jika dirasa kurang maka perlu untuk menambah kan personil untuk memperkuat dakwah tersebut.

Seorang da’i hanya berdakwah karena Allah. Karena yang memerintahkan nabi dan Rasul-nya dan tidak mendakwahkan kecuali yang telah dicontohkan dan ditetapkan Allah dalam kitabnya.

Allah tidak pernah mengutus Seorang rasul kecuali mereka akan mendapatkan tantangan. Bahkan dibunuh terutama Bani Israil karena mereka dianggap sebagai pemecah persatuan kehidupan mereka. Demikianlah dakwah pasti akan mendapatkan perlawanan dari yang didakwai nya.

Kalian adalah seperti kami, Allah tidak memberikan keistimewaan kepada kamu melebihi kami. Demikianlah kalimat yang diberikan untuk melemahkan semangat. Begitu juga seorang da'i. Kadang dikatakan kita ini selevel, kalian pendusta. Demikian para nabi, Rasulullah yang dikenal sebagai as shodiqul amin. Mereka tetap mengatakan kamu Muhammad sebagai pembohong. Meski  julukan itu mereka sendiri sematkan diawal . Jika Rasulullah saja bgt maka wajar jika para da'i juga memiliki tantangan kadang dikatakan baru belajar, anak baru kemarin dsb.

Da'i harus tsiqoh terhadap apa yang dia yakini. Karena jika tidak. Ketika mendapat ungkapan2 yang bisa melemahkan maka ia bisa futur karena dia tidak tsiqoh terhadap apa yang ia usung. Maka harus kita percaya bahwa apa yang kita dakwahkan ini adalah sebuah kebenaran sehingga tidak mudah lemah dengan ungkapan2 yang memang bertujuan melemahkan.

Mari belajar agama yang baik supaya kita tidak menyampaikan sesuatu yang meragukan. Terutama masalah aqidah karena tidak ada khilafiyah dalam persoalan ini. Berbeda dengan persoalan fiqh yang memang banyak khilafiyah didalamnya. Tapi aqidah para ulama tak berbeda karena tauqifiyah. Untuk kemudian mengajarkan pada orang lain dan tidak mudah goyah karena ada perkataan miring atau syubhat yang dilontarkan untuk melemahkan.

Begitulah sunnatullah tabiat manusia jika mereka tidak menerima apa yang didakwakan padanya mereka akan mencari cara untuk menggagalkan dakwah tersebut.
Para Quraisy selalu menghalangi dakwah Rasulullah, mulai dari ejekan kemudian, siksaan fisik, rencana pembunuhan dan peperangan.

Demikian da’i akan mendapatkan berbagai macam tantangan.

Kalau kalian tidak mau berhenti dari dakwah kalian dan kami akan merajam kalian dan sungguh kalian akan mendapatkan azab dari kami. Begitu ancaman dari kaum Musa. Jika kekufuran dikedepankan maka ia tidak akan mau menerima kebenaran meski kebenaran itu jelas baginya.

Kesialan yang menimpa kalian itu disebabkan oleh tangan-tangan kamu sendiri. Tak ada kata-kata “gara2 kamu saya begini begitu, itu namanya thayhayyur dan semua sudah ditakdirkan Allah.

Istidraj. Sebagian orang melakukan kesyirikan dan usaha lancar. Dan ini ujian yang sangat besar. Sebab jika diberikan nikmat kemudian dicabut dia akan muhasabah sedangkan jika diberikan nikmat dan makin meningkat dia akan menganggap dirinya benar. Naudzubillah.

Orang biasa datang dari pelosok desa datang kepada kaumnya karena mendengar bahwa orang Israil akan membunuh Para rasulnya. Mengatakan “wahai kaumku ikutilah para rasul ini” ini memberikan pelajaran bahwa siapa  pun kita kita harus memiliki peran dalam dakwah. Sebagai laki2 yang disebutkan dalam ayat ini.
Adab seorang da’i mengatakan kata-kata yang lembut. “Wahai kaumku” adalah kata2 yang menunjukkan dirinya bagian dari kaum itu.

Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk ikhlas. Para ulama banyak mengarang buku2. Dan buku2 mereka tidak sampai  pada kita. Imam Nawawi mengarang buku karena keikhlasannya sehingga bukunya sampai pada kita. Imam yang empat, mereka adalah ulama yang paling menonjol pendapatnya dan dikumpul kan dalam satu kitab tertentu. Itu karena keikhlasan mereka.

Allah adalah satu-satunya  yang telah memberikan Rezki kepada kita. Allah mengaitkan antara beribadah dengan kenapa kita menyembah Allah karena dialah yang menciptakan kita dan memberikan rezeki. Inilah dalil akal. Bolehnya berdalil dengan akal jika tidak bertentangan dengan syariat. Tapi jika bertentangan tidak boleh.

Ketika Ibrahim menghancurkan patung2 dan menyisakan patung besar. Dan ketika kaumnya datang dan bertanya “siapa yang merusak patung ini?”. Mereka menjawab  “kami mendengar seorang pemuda bernama Ibrahim yang selalu mencela patung kita”. Maka ia dipanggil dan ditanya. “Apakah engkau yang menghancurkannya”. Ibrahim berkata “coba kalian  bertanya pada patung yang paling besar itu barangkali dia bisa menjawabnya”. Mereka menjawab “bagaimana bisa dia menjawab kalau tak bisa bicara”. Ibrahim berkata “bagaimana kalian menyembahnya sedangkan berbicara saja tidak mampu”. Maka Ibrahim pun diperintahkan untuk dibakar.

Seorang pemuda yang menjadi korban pertama dibunuh oleh kaumnya sendiri yang datang dari pelosok itu. Dan ketika ia sudah meninggal dia diperlihatkan tempatnya di surga. Sekiranya kaumku mengetahui apa yang saya rasakan sekarang ini supaya mereka mau beriman. Ini menunjukkan seorang da'i harus memiliki kecintaan kepada kaumnya tersebut supaya orang yang didakwai mau mengikuti apa yang didakwakan kepadanya. Sehingga mereka sangat mencintai jika orang-orang tersebut mengijabah dakwahnya. Lihatlah bagaimana ia berkata

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
"Dikatakan (kepadanya), Masuklah ke surga. Dia (laki-laki itu berkata, Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,"
(QS. Ya Sin: Ayat 26)

Meski telah meninggal tapi  masih memikirkan kaumnya. Itulah seseorang yang kisahnya dalam Alquran. Perumpamaan yang diberikan Allah dalam Alquran bukan untuk umat Muhammad saja tapi pada seluruh manusia bahkan makhluk lainnya juga (jin).

Source: ustadz Syahrir, Lc
Noted by UZ


Sabtu, 30 Maret 2019

Menapaki Tangga Izzah


TABLIGH AKBAR

Sabtu 30 Maret 2019
Aula Al ikhlas Pinrang

Ciri kelompok jama'ah yang dicintai

أن الله يحبون الذين يقاطلون كأنهم بنيان مرصوص.
الصاف.

Bagaimana bangunan yang tidak saling merekat antar satu yang lain? Apakah kokoh dan kuat? Tentu tidak. Karena dinding yang rapat dan kokoh maka indah dan mengesankan. Demikian pula barisan kaum muslimin. Selain rapi juga harus kuat. Makanya tak bisa dipisahkan tarbiyah , dakwah dan taklim. Dia adalah bagian dari perjuangan Islam. Barisan yang rapat akan memberikan nuansa kekuatan yang akan memotivasi kita untuk berada dalam perjuangan.

Islam telah diajarkan barisan rapi dan rapat 5x sehari. Di dunia tidak ada yang mengalahkan kekuatan tentara. Mengapa karena yang lama maupun baru senantiasa latihan baris berbaris. Mereka dilatih untuk berbaris rapi dan rapat. Kita Alhamdulillah setiap hari dilatih Allah baris berbaris dengan komando lafadz mulia _Allahu Akbar_. Bukan mengahadapi ke komandan tapi menghadap ke Allah SWT. Dipimpin oleh imam yang berkualitas. Yang hafalan lebih banyak, senioritas dalan hijrah. Hadist Rasulullah:

“Hendaklah yang menjadi imam diantara kalian adalah yang paling banyak hafalannya dan bacaannya. Jika sama maka yang paling mengerti sunnah Rasulullah , jika masih sama maka yang paling dahulu berhijrah. Kalau masih sama ,maka yang paling tua usianya”

Jadi imam tidak sembarangan. Memiliki kualifikasi terbaik.
خيركم من تعلم القرآن

Sebaik-baik kalian yang mengajarkan Al-Qur'an

فاقد الشيء لا يطيع
Tidak bisa memberi yang tidak memiliki.

Untuk menggapai Izzah, kita harus mendaki. Menapaki satu tangga ke tangga berikutnya hingga kita berada pada puncak kemuliaan. Menapaki tangga seseorang membutuhkan kekuatan. Seseorang yang asam urat stadium 5 membutuhkan tongkat penyangga dan amat kesulitan menaiki tangga. Demikian sakit2 lain. Kehilangan  kekuatan fisik mengakibatkan tidak bisa menaiki tangga. Menaiki tangga agama tidak hanya kekuatan fisik tapi jg kekuatan Ruhiyah. Yang tidak memilikinya tak akan kuat menapaki tangga2 Izzah.


Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ
"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur."
(QS. Fatir: Ayat 10)

Siapa saja menginginkan Izzah, hendaklah mengetahui Izzah semuanya tanpa sisa hanya milik Allah.  Yang harus kita tanamkan dalam keyakinan bahwa Izzah adalah milikNya. Bukan milik orang kuat, cerdas ataupun kaya. Org yang meyakini Izzah milik org kaya akan banyak mendekati orang kaya, meyakini miliknya penguasa , maka mendekati penguasa. Masih banyak saudara kita menyangka Izzah milik Professor, doktor dan pemilik gelar akademik dengan kecerdasan mengagumkan. Falillahi izzatul jami'an. Milik Allahlah seluruhnya kemuliaan.
Jika kita menginginkan Izzah yang berada disisi Allah maka merapatlah kepada Allah. Sepanjang umat enggan merapat kepada Allah maka sepanjang itu pula mereka tidak mendapatkan Izzah.

Ada seseorang ke Eropa lalu ia dijamu dengan hotel terbaik. Maka ia ingin bertemu dengan pemilik hotel itu. Karena pelayanannya yang bgt mengagumkan. Maka ia bertanya kepada resepsionist. Maka ia menjawab “Anda akan bertemu dengannya karena ia akan datang hari ini”. Saya minta nomornya. Maka resepsionist memberikan nomornya dan ternyata itu nomornya sang tamu sendiri. Ia sudah lupa semua hotelnya karena kayanya. Umat Islam tidak kekurangan orang kaya dan cerdas. tapi  mana yang lebih cepat mendapatkan Izzah dimasa Rasulullah dibanding hari ini? Masa Rasulullah tentunya.

Izzah kaum muslimin Allah tidak letakkan pada sejumlah harta yang mereka miliki. “Ilaihi…”
(Sambungan ayat). Kepada Allah-lah kalimat thoyyibah terangkat. Berarti untuk memperoleh Izzah Kita harus memiliki kalimat thoyyibah dan mengangkat kepadaNya.

Ibnu Katsir:
لقد ولد عن السلف الذكر والتلاوة والدعاء.
Zikir, tilawah dan doa

Suatu hari Musa memohon kepadaNya: ya Allah berikan aku kalimat yang aku pakai memohon kepadamu. Diberikan kalimat laailaahaillallah. Semua nabi memilikinya. Wahai Musa “seandainya 7 lapis langit dan bumi  dan kalimat laailaahaillallah di timbangan. (Jarak langit dunia melangit atas jaraknya 500 thn perjalanan begitu sampai ke langit ketujuh. Ketujuh ke air 500 ke kursy 500 THN ke Arsy tidak disebutkan tapi disebutkan jarak cuping ke telinga pemukul Arsy berjarak 500 thn) Maka kalimat laailaahaillallah akan berat dan mengangkat seluruh semesta itu. Begitu beratnya timbangan laailaahaillallah. Dan kalimat ini akan naik kesisiNya dari hambanya. Dia jg yg memberikan sinyal kepada Allah. Semakin kuat sinyalnya semakin cepat memperoleh Izzah. Maka setiap muslim harus memiliki kalimat ini. Siapa yang memilikinya dan senantiasa mengucapkan, menyerukan menjalankan konsekuensinya dan menjauhi pembatal-pembatalnya maka Allah akan memberikan Izzah kepadanya.

Kalimat laailaahaillallah bukan hanya sekedar ucapan belaka.Ia adalah kalimat yang harus mendasari seluruh gerakan dan diam kita. ciri orang beriman yaitu yang senantiasa berdzikir kepada Allah mengingat Allah dalam keadaan berdiri, dimanapun dia berdiri, dalam keadaan duduk dia tetap menyebut asma Allah. Bahkan ketika ia berada diatas pinggangnya (isyarat bahwa tidur terbaik diatas pinggang) Paling utama pinggang kanan.

3 keadaan ini mewakili semua aktivitas berdiri mewakili kesibukan. Duduk aktivitas istirahat, dan baring aktivitas tidur. Kalau kita menulusuri umat Islam dimanapun berada. Kita harus mengerut dada dan mengakui bahwa mereka jauh dari zikrullah dan terlena dengan dunia.

Surah Fathir: 5 dan Lukman ayat 33 menyebutkan dunia yang melenakan .

Allah subhanahu Wata'ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِۦ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِۦ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah."
(QS. Luqman: Ayat 33)

Tidak dilarang berdagang sebagaimana Abdurrahman bin auf berdagang Ustman,para Ulama dan salaf. Mereka memiliki uang yang sangat banyak. Apakah mereka menikmati kekayaannya sendiri di keluarganya? Tidak. Kalau kita menelusuri kekayaan mereka pada dakwah dan agama akan membuat berdecak kagum. Adapun kaum Muslimin hari ini yang terlena dengan perdagangannya sehingga lupa dzikrullah. Terkadang diminta sumbangan begitu sulit. Subhanallah.

Dahulu di Suriah, orang -orang kaya menutup laci dari lembaga dakwah yang datang meminta sumbangan. Padahal sedekah sama sekali tidak mengurangi harta. Demikian syaitan menginjeksi manusia agar mengira sedekah mengurangi harta. Apa yang terjadi? Dakwah ahlusunah di Suriah mandeg. Sekarang kaum muslimin tutup laci seperti  dahulu di Suriah. Sulit berinfaq untuk dakwah Sheikh …. berkata...kami mendapati org2 kaya yang dahulu menutup laci mereka karena takut didatangi Lembaga dakwah hari ini mereka datang meminta sumbangan di lembaga dakwah. Demikian Allah membalikkan Izzah yang mereka kira pada harta.

Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah  pernah berzikir di tengah pasar siang bolong, mengingatkan laailaahaillallah. Dan orang berkata disiang bolong saat sibuk begini kau menyeru. Ia berkata justru disaat seperti inilah dzikrullah diperlukan. Mereka senantiasa merenungkan. Lihat pantai, tumbuhan tanaman selalu mengingat Allah, robbanaa maa khalaqta haazda baathilan.
ربنا ما خلقت هذا باطلا.
Mengapa kebathilan di pantai, di gunung terjadi? karena mereka telah abai merenungkan ciptaan Allah dan tidak sampai pada hasil perenungan maa khalaqta haazda baathilan. Sementara perenungan dia adalah utama dalam...

Menampakkan kefakiran ketika meminta itu keadaan yang paling disukai Allah. Allah malu menolak permohonan hambanya.

Bagaimana mungkin doa dikabulkan jika makanan dari haram,pakaian dari haram. Sebanyak apapun kita berdoa pada waktu mustajabah jika banyak melakukan kemaksiatan bagaiman mungkin mendapatkan Izzah.

Kalian adalah sebaik-baik umat yang paling agung. Kemuliaan umat ini dikaitkan dengan Amr ma'ruf nahi Munkar. Kalaulah umat Islam ini berhenti memotivasi diri, keluarga, tetangga masyarakat pada laailaahaillallah dan berhenti pulalah Izzah itu. Allah kaitkan pada ayat ini ke akan pada umat Islam amar makruf nahi Munkar. Kaitan keduanya adalah tu'minuuna Billah (jamak).
Syaikh dr ..  menjelaskan pada ayat ini ada rahasia yang amat besar tentang didahulukannya dakwah daripada iman. Iman lebih penting dari dakwah. Lawan iman kufur. Orang kafir itu beramal bahkan kadang lebih bermanfaat dari orang muslim sendiri. Lampu ditemukan orang kafir bahkan bermanfaat bagi dakwah tetapi hal tersebut semua tidak bisa mereka peroleh sedikitpun dari apa yang telah dilakukan.

Allah berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمٰلُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلٰى شَىْءٍ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيدُ
"Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh."
(QS. Ibrahim: Ayat 18)
Mengapa Allah mengaitkan kebaikan umat ini kepada dakwah nahii Munkar baru iman setelah nya. Didalam masalah pendahuluan dan pengakhiran ada faidah. Kadang mengakhiri yang lebih penting. Anda tidak tegak tanpa dakwah

Semendasar apapun iman bagi amal Sholeh dia tidak akan bermanfaat tanpa dakwah amar makruf nahi Munkar. Tidaklah iman itu terlantar kecuali orang itu terlebih dahulu mengabaikan dakwah amal makruf nahi Munkar.

Yang menjaga eksistensi keimanan kita adalah dakwah. Ada dulu mahasiswa ikut program dakwah di kampus, ibadahnya terjaga bahkan ibadah sunnah tetapi ketika pulang kampung, tak ada aktivitas dakwah... akhirnya bersih, jangankan shalat Sunnah sahabat wajib saja sering terlambat. Mengapa? Karena dia tenggelam dalam kesibukan dan meninggalkan dakwah. Disinilah Allah mencatolkan pada dakwah amar makruf nahi Munkar.

وأمر اهلك للصلاة.

Suruhlah keluargamu shalat

Sebelum terbit matahari sudah mulai dakwah. Sang ayah mendakwai keluarga.

Pagi2 buta sebelum matahari terbit adalah dakwah. Pertanyaannya, apakah dakwah ini telah dilakukan umat Islam. Kalau belum. Maka kita masih mimpi meraih izzah. Itulah amalan pembuka dan penutup amalan harian kita.

كان يكره الحريش بعد العشاء

“Rasulullah membenci begadang untuk mengobro”l

Perintahkan keluargamu shalat, dan bersabarlah atasnya.(Thoha:132) Washthobir 'alaiha. Kapan menggunakan tho  ketika berdakwah dalam keluarga. Disitu menunjukkan kesabaran ekstra. Coba buka surah Al-Baqarah 155.
وبشر الصابرين.


Disini makna Asha shaabirin adalah kesabaran biasa. Sedangkan Washthobir bermakna kesabaran  berlipat. Jadi berdakwah di keluarga sendiri membutuhkan kesabaran berlipat terutama menyuruh shalat.

Source: ustadz Fadlan Lc MHI
Noted by Ummu Zaki


Kamis, 28 Maret 2019

Hidup Biasa atau Luar Biasa?

Individu yang hidupnya biasa.  Hidupnya bak air mengalir, mengikuti kemana arus menggiring. Kesitulah ia akan melaju. Hidupnya tak terukur. Tak ada rencana harian, pekanan apalagi bulanan terlebih tahun-tahun berikutnya. Tak ada tantangan. Hidup datar-datar saja. Ia akan menjalani  hari ini bagai hari kemarin. Pekan ini seperti pekan lalu bahkan tahun lalu sama saja tahun ini dan mungkin tahun esok pun tak jauh beda. Yang berbeda hanya jatah umur yang semakin menipis.

Seorang pemimpi sejati. Memiliki arah jelas, terukur dan terencana. Harinya penuh aktivitas positif. waktunya tak berlalu begitu saja. Jadwal harian menghiasi catatanya. Rencana pekanan tertera jelas di agendanya. Kegiatannya mencerminkan target jangka pendek yang menjadi jalan menuju target jangka panjang meraih mimpi BESAR. Tantangan menghiasi jalannya, bergelombang tak datar. Meski itu seorang ibu yang menghabiskan harinya di rumah, bukan berarti aktivitasnya tak biasa saja.

Sebagai seorang muslim, Rasulullah telah mengajarkan untuk memimpikan surga tertinggi, Jannatul Firdaus, surga yang terletak dibawah ArsyNya Allah 'Azza Wajalla. Yang tak diraih dengan hidup biasa saja atau menunggu hasil keringat orang lain. Ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah menginginkan umatnya bukan individu yang biasa saja. Tapi yang punya mimpi besar dan berusaha meraihnya dengan tak berleha-leha. Berupaya menggapai mimpi dengan peluh perjuangan yang tak sedikit. Memaksa diri melaluinya. Keluar dari zona nyaman. Yang hanya mampu dilalui oleh pemimpi dan pejuang sejati. Yang tak mudah jatuh hanya karena perkara kecil. Yang menyadari sepenuhnyai bahwa surgaNya tidak murah.

Hidup itu ibarat bersafar mencari  alamat kampung halaman. Seseorang akan berusaha menemukan arah yang tepat menuju tempat itu. Menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjalanan. Perbekalan mental dan fisik ia kerahkan semaksimal mungkin. Kompas, peta dan juga tak malu bertanya pada orang yang faham tentang arah terbaik menuju tempat yang dituju. Bukan malah sok tahu tentang arah yang kabur baginya.

Jika hidup diibaratkan bermukim. ia akan dilalui seadanya. Selama kebutuhan primer terpenuhi, ia tak perlu memimpikan pulang kampung. Ia tak perlu berpeluh menyusun target-target dan mengeksekusinya demi mencari jalan kembali pulang. Sebab ia terlanjur jatuh cinta pada hidupnya yang biasa saja. Namun sayangnya pada akhirnya ia harus pulang kampung karena hakikatnya ia bukan pemukim sesungguhnya. Hanya seorang imigran.

Jika Ramadhan kemarin sama saja dengan Ramadhan akan datang. Shalat, puasa, tadarus, ibadah begitu-begitu saja tanpa ada peningkatan kuantitas ataupun kualitas. Pergantian Ramadhan hanya sebuah persoalan waktu bukan peningkatan kualitas diri. Kualitas ibadah sebelum Ramadhan sama saja setelahnya. Tak ada efek menanjak dari ramadhan yang merupakan “pesantren diri” untuk berbenah. Maka mungkin itu salah satu indikator bahwa kita orang biasa, bukan pemimpi besar.

Padahal jelas dalam hadist Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةُ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ ُحُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang mubarak (diberkahi). Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan dibelenggu. Juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia *tidak memperoleh apa-apa* .” (HR. Nasa`i dan Ahmad serta dinyatakan shahih oleh Albani).

Berbeda dengan seorang seorang pemimpi besar, ia tak mencukupkan diri pada perkara mubah untuk loba. Ia akan rakus mencari kesibukan positif terkait jaring-jaring  mimpi besarnya, Jannatul Firdaus dan memandang wajah Sang Pemilik Arsy.

Pertanyaannya adalah, yang manakah diri ini?

#UmmuZaki
*Belajar bermimpi

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...