Jejak-jejak Kehidupan
As time passed, leaving memories
Jumat, 17 Juli 2020
Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi
Selasa, 09 Juni 2020
SAID BIN AMIR AL-JUMAHI
Pada saat itu Allah Ta’ala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di hadapan sekumpulan orang banyak , mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan-kejahatan orang Quraisy ,menanggalkan berhala dan patung -patung menyatakan diri sebagai seorang muslim .
Said bin Amir Al- Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal Bersama Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, ikut bersama beliau dalam perang Khaibar dan peperangan lain sesudahnya .
Manakala Nabi Sallallahu alaihi wasallam yang mulia di apnggil menghadap kehariban Rabnya dalam keadaan ridha , Said BinAamir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para khalifah Nabi sallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhu Said bin Amir hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mu’min yang telah membeli akhirat dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalanya di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu.
Dua orang khalifah Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam mengenal kejujuran Said bin Amir radhiallahu anhu dan ketakwaannya ,keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata katanya .
Selasa, 31 Desember 2019
Istri Tak Pernah Salah, itu Keliru
Usai penerimaan raport anak-anaknya, suami pun pulang ke rumah. Ia sampaikan masalahnya pada suami yang cukup membuatnya mupeng, sesulit menyelesaikan e-raport yang baru saja usai (segitunya hhh). Kali ini ditengah kebingungannya antara amanah dan suami, pelan2 ia sampaikan. Meminta pendapat darinya. Sang suami memintanya ikut secara tersirat. Bukan berarti suaminya tak faham tandzim. Hanya saja, kedatangannya kali ini ke kampung halaman begitu dinantikan. Khansa dan anak-anaknya dikenal maniak mangga, terlebih mangga khas Bugis yang harum nan semerbak yang tak bisa disembunyikan, mangga macan. Sekarung mangga jenis apapun, kan bersih dari pandangan dalam 2 hari di keluarga ini, hebat kan? Mangga ini tiap tahunnya melimpah di kampung suaminya. Sekeranjang pemberian tetangga telah dibuang percuma karena lelah menunggu sang mangga lovers ini yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Begitu kata mertuanya via telp.
Meski sang suami memaparkan pandangannya, tanpa memberi instruksi jelas untuk melakukan satu pilihan. Namun Khanza menyimpulkan dari raut suaminya bahwa ia harus ikut kali ini, mengabaikan amanah lembaga di pundaknya dan memilih berkhidmat pada sang suami. Berat, namun itulah hidup, memilih adalah hak dan menjalankan pilihan dengan ikhlas adalah sebuah keniscayaan sebagai bagian dari garis tangan yang telah termaktub 50 ribu tahun sebelum bumi tercipta. Ah, yang ini sih semua pasti sudah faham teorinya. Prakteknya kadang amburadul termasuk penulis yang juga manusia biasa.
Sebelumnya keluarga ini telah merencanakan untuk _dinner_ di pinggir jalan dalam perjalanan pulang. Qadarullah, nasi dan lauk telah terbungkus rapi, namun piring dan kawan-kawannya terlupakan. Ada raut kecewa di wajah khanza, ia merasa perjalanannya sedikit terganggu. Kecerdasan bahasanya dan stok 20.000 kata-katanya meluncur bak air deras. Sang suami menawarkan meminjam peralatan makan saudara Khanza yang akan dilewati, lagi2 mereka keluar kota. Beruntung Khanza teringat salah satu rumah rekan kerjanya yang akan ia lalui. Maka ia pun menghubunginya. Binar bahagia terpancar dari matanya, temannya itu sedang di rumah. Dan takdir Allah selalu baik. Selain peralatan makan, mangga andalan keluarganya disodorkan sang rekan sebagai buah tangan sekaligus cemilan perjalanan. Karena sang rekannya ini sangat mafhum bahwa Khanza penyuka mangga. Dan dalam hal ini mereka punya kemiripan. Tak lupa ucapan _jazaakillahu Khairan_ terlantun pada rekannya, semoga saja Allah menggantinya dengan lebih baik. Baunya yang semerbak meliputi ruang mobil tak menyurutkan semangat perjalanan keluarga ini. Dan kerinduan memakan buah ini pun terbayar dalam perjalanan pulang.
_Qadarullah walhamdulillah_. ketertinggalan peralatan makan yang sempat ia keluhkan, dinanti oleh takdir yang lebih baik dariNya. Begitu kata sang suami. Ah, Betapa manusia itu makhluk yang suka mengeluh. Banyak2 khanza beristigfar, semoga ia diampunkan.
Dalam perjalanan, Khanza merasa kepalanya agak pening. "Ah, mungkin cuma kurang istirahat. Esok pagi akan sembuh juga". Batinnya.
Mereka akhirnya sampai di kampung suami tepat jelang jam sepuluh malam. Saat penghuni rumah sebagian besar telah terlelap. Sengaja perjalanan kali ini dipilih malam, berbeda dari biasanya. Karena kajian bulanan berakhir jelang Maghrib. Sedangkan jika mereka memilih esoknya, waktu berlibur akan semakin ringkas. Seperti sebelumnya, jika mereka hanya datang numpang buang angin di kampung, sang mertua akan terlihat berat memahami. Di umurnya yang telah sepuh, rasanya sang suami ogah mengulang perjalanan singkat itu terlebih di pekan liburan. Ibunya mana faham tentang lembaga yang dipimpin anaknya yang akan berpengaruh pada kunjungan mereka, atau kegiatan musyawarah Khanza yang bertepatan dengan jadwal liburan mereka.
Di tengah malam, Khanza terbangun, merasakan pening kepalanya bertambah berat. Hingga keesokan harinya, demam menggigil mulai terasa. Namun, berkali-kali ia mengucap syukur, akan "teguran" Sang Pemilik takdir. Sekiranya saja ia memilih pilihan pertama dan tak ikut berlibur kali ini, toh keadaan tetap akan sama, ia tetap akan absen dari musyawarah, berjuang sendiri dengan sakitnya tanpa keluarga tercinta. Sekaligus kekecawaan pada anak, suami dan mertua dikampung akan ketidakhadirannya menyicipi hasil kebun yang hampir habis. Khanza tak henti hentinya beristigfar sebanyak-banyaknya. Rasa sakit yang ia derita ia syukuri sebagai sebuah pembelajaran besar, bahwa suami memang untuk ditaati dan sekaligus mematahkan opini tentang "istri tak pernah salah".
Seorang insan yang berpeluh dosa
@Ummu Zaki
Pergilah Anakku
Saatnya melepasmu lagi
Tuk menapaki jalan hidupmu
Menjadi bagian kisahmu nanti
Pergilah meraih impian, anakku
Yang tak sebatas bintang di langit
Tapi melampaui tujuh lapisan langit
JannahNya, hingga meraih cita tertinggi
Menatap wajahNya di kehidupan abadi
Impian kita bersama, anakku.
Kembalilah meraup ilmu , anakku.
Agar langkahmu menyisakan jejak berberkah
Suci nan terpelihara seperti sematan doa
yang tersisip di namamu.
Pergilah, anakku.
Kami ikhlash demi penjagaan aqidahmu
Di penghujung waktu yang sarat fitnah
Agar kau mampu menghimpun ibrah
Pulanglah, anakku.
Saat bekalmu telah memenuhi kalbu
Hingga kau menjelma menjadi qurrota a'yun
Di akhir zaman yang semakin tak anggun.
Pinrang, 31-12-2019
@Ummu Zaki
Selasa, 24 September 2019
Mengenalkan Kemandirian Finansial Sejak Dini
Setandan pisang kepok muda senantiasa menjadi oleh-oleh wajib tiap pulang dari kampung halaman sang suami. Kali ini sang bibi dari suami yang memberikan hasil kebun pisangnya. Ada rasa iba bercampur kekaguman, dengan keterbatasan finansial tapi mereka masih bisa berbagi hasil kebun.
Sesampai di rumah, anak-anak memberikan ide untuk membuat kripik pisang. Dibantu mereka, setengah tandan pisang ludes menjelma menjadi kripik rasa coklat dan balado. Si sulung memboyong sebagian besar produksi hari itu ke pondok sebagai modal cemilan.
"Bu, saya mau jual kripik pisang di sekolah, boleh kan, Bu?". Ungkap anak ketiga di keluarga itu. "Boleh". Jawab sang ibu. Gadis kecil yang duduk di kelas 3 SD ini memang memiliki jiwa enterpreneur, setiap kali ia makan cemilan rumah yang menurut takaran lidahnya lezat, maka akan terbesit untuk menjualnya. Tak mau ketinggalan kakaknya yang duduk di bangku SD kelas 6 pun ikut mengepak untuk ia jual pada teman-temannya. Sang ibu akan senantiasa mendukung dan memfasilitasi. Tak lupa ia ajarkan sistem bagi hasil, modal usaha dan persentase laba yang ia peroleh pada tiap bungkusnya.
Pelajaran kehidupan seperti ini ia anggap perlu ia bekali pada anaknya. Bukan bermaksud mengeksploitasi anak tetapi kini tuntutan zaman meminta kreativitas dalam persaingan global. Jika ia tak terbangun sejak dini. Maka tak heran saat mereka telah baligh atau bahkan telah menyelesaikan studi dan harusnya telah mulai berfikir berpijak diatas kakinya sendiri, namun kenyataannya tak jarang kemandirian finansial masih tak jua nampak. Minimal mereka merasakan betapa sulitnya kepingan-kepingan rupiah diperoleh. Ia membutuhkan usaha dan perjuangan. Keringat dan peluh mewarnai proses itu serta belajar mengabaikan gengsi yang menjadi benteng utama menuju kemandirian finansial. Begitu fikirnya.
Pulang sekolah, mereka berkisah betapa jualan mereka diminati hari itu, sampai beberapa temannya tak kebagian. Sang emak menyimak keseruan mereka berkisah kemudian berkata "memang untuk memulai sebuah usaha, kita harus mengabaikan rasa malu. Jika ia halal maka tak ada yg perlu digengsikan. Gengsi hanya akan mengubur kreatifitas kalian yang mungkin bisa sangat bermanfaat bagi diri dan lingkungan . Jika tak mau mencoba kalian tak akan tahu rasanya."
"Bu, saya masih mau jualan ah, nanti saya yang kerja sendiri" sang gadis kecil menimpali. "Boleh. Masih ada setengah tandan pisang, jika kalian ingin mendapatkan presentasi laba lebih dari yang hari ini, kalian harus berusaha sendiri dari proses awal hingga akhir". "Yuhuiii!" respon mereka kompak. Menaikkan presentase bagi hasil seperti ini tak ayal melecutkan semangat mereka. Sedari sore hingga malam usai melaksanakan kewajiban harian tentunya, mereka berkutat di dapur memproduksi kripik masing-masing. Sang emak hanya memantau bak seorang mandor hilir mudik di dapur.
Kemandirian tidak selalu hadir begitu saja, ia melalui proses penempaan yang terkadang harus mengabaikan rasa iba pada buah hati sendiri. Kamandirian tak jarang hadir dari kesulitan-kesulitan. Jika sang anak tak menemukannya tersebab berbagai kemudahan dari orangtuanya, maka menyengaja menghadirkan kesulitan itu sendiri menjadi sebuah keharusan demi kuatnya pijakan kaki mereka saat masanya telah tiba kelak.
*Ummu Zaki
Sabtu, 17 Agustus 2019
BERKENALAN DENGAN KELEMAHAN DIRI
Bila kita hanya mencari kekuatan tapi mengabaikan pengenalan terhadap kelemahan, maka bisa jadi kita akan fokus pada kelemahan mengira itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan suatu saat. Disisi lain kekuatan diri menjadi terlantar padahal orang-orang sukses itu konsisten menajamkan kekuatan bukan fokus memperbaiki kelemahan. Selain itu bila tak mengenal baik kelemahan sebagai sebuah keterbatasan, bisa jadi kita akan marah dan tersinggung jika seseorang mengungkapkannya. Tapi jika kita telah lebih dahulu mengenalinya maka hal itu tidak akan memantik emosional kita.
Abah Rama sang founder talent mapping berkata jika engkau tak mengenal dirimu yang sesungguhnya maka bagaimana engkau berharap dikenali orang lain. Citra diri itu sangat penting. Seringkali kita mengabaikannya. Kita sering mendengar kalimat "just be yourself" tapi bagaimana mungkin bisa terjadi bila kita tak mengenali diri sendiri? Maka penting untuk menajamkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan atau kelemahan tapi awali dengan memahami diri sendiri. Bukankah Allah 'azza Wajalla menciptakan kekuatan dan kelemahan diri bukan tanpa sebab dan tujuan?
Pertanyaan dulu yang sering terbetik di benakku. Mengapa banyak orang yang kehilangan identitas diri? Sehingga berusaha mencari jati diri? Syukur-syukur jika jati diri itu dicari pada tempat yang benar, tapi jika sebaliknya? Jawabannya ternyata karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan berkenalan dengan citra diri. Sehingga kelak kita tak mampu mengelola kekuatan dan kelemahan diri bahkan pada orang lain. Sedangkan modal dalam menjalin ukhuwah termasuk berlapang dada dengan keterbatasan orang lain dalam artian mengenali kelemahan. Maka tak perlu heran jika kita menemukan diri kita seringkali terjebak perseteruan dengan orang lain, menyesali diri tak seberuntung orang lain, atau bahkan tak yakin dengan kekuatan diri sendiri. Sebabnya kita buta pada konsep diri.
Pertama kali mengenal konsep citra diri adalah pada sebuah pelatihan Training of Trainer Dasar pada sebuah Lembaga Muslimah. Saat itu aku mulai mengenal diri dari penilaian teman pelatihan dan dikuatkan dari asumsi sendiri. Kemudian berkenalan dengan Institut Ibu Profesional yang menjadi gerbang interaksiku dengan talent mapping milik Abah Rama. Aku mulai memahami bahwa ternyata kelemahan itu penting untuk dikenali sebagai sebuah keterbatasan. Maka tak perlu sibuk meniru orang lain. Tak perlu berusaha bersaing dengan orang lain. Tak perlu iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain. Tak perlu menjudge anak kita dengan label negatif seperti nakal, bodoh dst. Karena dalam konsep citra diri slogan "jika orang lain bisa akupun pasti bisa" tak bisa sepenuhnya digunakan, kecuali itu terkait dengan kekuatan diri. Tapi jika kelemahan , maka sampai kapanpun ia tak akan mampu sama atau paling hasilnya biasa-biasa saja. Fokus saja mengasah kekuatan.
Ilmu pengenalan diri penting bagi orang tua dan pendidik. Menularkan pada anak untuk menjadi diri sendiri dengan segala keunikan kekuatan dan kelemahannya. Karena sesungguhnya tiap individu itu limited edition. Hanya saja orang gagal dimata kita belum menemukan kekuatan dirinya, mungkin selama ini ia terperangkap dengan label lingkungan yang fokus melihat kelemahan dirinya. Belajar Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan sehingga krisis identitas bisa diminimalisir pada generasi kita. Tak ada lagi penilaian negatif pada anak kita tetapi disiasati dan diarahkan. Tak perlu lagi memaksakan jurusan pada mereka. Kenali diri agar kita mampu memposisikan diri dengan baik dan benar. Seperti kutipan dari sang founder talent mapping "Be yourself, but first know Yourself".
#belajarmengenaldiri
@ummu zaki
Pa' Janggo'-janggo'
Usai mengikuti sebuah resepsi walimah seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Qosim KSA di salah satu desa yang dekat dengan destinasi wisata laut dan seafood di Pinrang, tepatnya Ammani, kami melaju pulang ke kota namun belum seperdua perjalanan kumandang azan memanggil segera untuk dipenuhi. Akhirnya suami menepikan mobil di dekat masjid, sedangkan saya dan seorang penumpang akhwat lainnya menunggu diatas mobil.
Saya merasa sedikit gerah dalam mobil yang tertutup. Terlebih dengan kostum berwana hitam yang memang lebih kuat menyerap kalor ditambah model hijab overhead yang menutup dari atas kepala hingga ujung kaki memaksa saya membuka pintu mobil lebar-lebar. Tak berselang lama, seorang anak laki-laki kisaran umur 9 tahunan melewati pintu depan pintu mobil yang terbuka tersebut. Ia seperti terheran melihat kostum kami berdua yang serba gelap plus hanya nampak bagian kedua bola mata. Ditengah keheranannya yang saya definisikan sebagai keterkejutan, sembari memegang pintu mobil dan menatap saya yang sedang asyik dengan hp, ia kemudian bergumam pada temannya yang telah melalui mobil kami persis tepat disebelah kiri depan:
" Eh, ini mobilnya pajjanggo'-janggo' " dengan mimik heran seolah menemukan hal luar biasa (hahaha mimiknya lucu).
Saya yang mendengar jelas perkataannya tersebab tepat persia didepanku berkata: " bukan pajjanggo'-janggo' karena itu sama saja janggut mainan. Cukup sekali ya *pajjangggo'* artinya orang yang berjenggot. Dia kemudian tersenyum. "Nabi kita berjanggut, tidak? "Tanyaku. Dia kelihatan kebingungan. Tau tidak Kalau semua nabi itu berjanggut?". " tidak", Jawabnya. "Bahkan janggut itu jadi ciri khas orang Sholeh terdahulu lho". Ia pun tersenyum simpul dan bergegas berlalu. Dalam hati "pede juga nak ini" saya pun cuma bisa tersenyum dibalik niqob.
Yah, "pajjangggo'-janggo' telah menjadi sebuah sematan yang rasanya telah menjadi identitas baru bagi lelaki yang berusaha memelihara jenggot karena menghidupkan sunnah. Bahkan bagi wanita berniqob yang pastinya tanpa jenggot (karena perempuan) pun kecipratan sematan itu.
Hanya saja telinga saya sedikit terganggu dengan pengulangan kata 'janggo' yang bisa bermakna *mainan* 'pa' bermakna pemilik dan pengulangan kata "janggo'-janggo' bermakna *janggut-janggut* sebagaimana pada kata benda lainnya seperti orang-orangan, mobil-mobilan, kucing-kucingan dsb. jika diterjemahkan kata Pa' janggo'-janggo' akan bermakna *pemilik janggut-janggut*.
Anehnya istilah ini viral di kalangan masyarakat yang awam dengan Sunnah satu ini dan diamini oleh sebagian besar orang. Bahkan bagi kalangan akademisi yang sekalipun yang saya fikir faham secara makna bahasa Hingga sayapun yang tak lepas dari sematan seperti itu kadang pula ikut terbawa arus mendeskripsikan identitas Ikhwan/akhwat jika tak difahami juga orang awan, nah lho?.
Kalau di kalangan Pecinta Sunnah ( sematan ini kayaknya lebih cocok deh) sematan akhwat untuk perempuan secara umum, Ummahat untuk perempuan yang telah menikah (ibu-ibu) dan ikhwan untuk laki2. Diluar itu siap-siap dipanggil Pa' janggo'-janggo' meski anda perempuan tulen.
Pinrang, 3 Syawal 1440 H
* By: Ummu Zaki
Haji/Hajjah : Antara syariat dan Kebiasaan
Memanggil nama tanpa sematan ini bisa saja dianggap tak sopan (atau cuma dugaan saya, ya?).Khawatirnya si pemilik atau orang lain yang mendengar akan menilai "tak sopan" jika langsung memanggil nama tanpa sematan ibadah yang masuk rukun Islam terakhir ini, meski maksudnya bukan begitu sih. Dilain pihak saya khawatir terjatuh pada ikut serta melegalkan alias turut andil melestarikan tradisi gelar ini. Kadang bingung antara syariat dan yang "katanya" 'urf masyarakat setempat (emang gt?serius bingung). Atau mungkin karena saya tak berhak atas titel itu jadi mudah beropini, ya? Namun jika sekiranya diberi rejeki dan umur panjang untuk menunaikan kewajiban satu ini (Allahumma aamiin), inginnya sematan itu dijauhkan bertrilyun kilometer dari nama saya, soalnya ye, hatiku tuh rapuuh banget, mudah riya', ujub dan mungkin bisa terasa kurang afdhol jika terlanjur tersemat dan tidak dipanggil "Hajjah" oleh seseorang. Katanya riya' itu seperti semut hitam berjalan dimalam hari, haluuus nyaris tak terasa. Dan sayapun berkali-kali terpeleset di ranah ini tanpa terdeteksi. Kalau disuruh memilih, saya lebih memilih dipanggil dengan nama kuniyah *Ummu Zaki* bebas hambatan hati, aman dan nyaman, hehehe.
Katanya lagi asaatidzah itu, sejatinya ibadah tak memiliki *titel*. Karena satu syarat diterimanya ibadah adalah ikhlash. Ikhlash berarti hanya bermuara ke sang Pemilik dan tak perlu menunggu penilaian manusia. Semakin samar sebuah ibadah di mata manusia semakin baik (selain ibadah syiar tentunya). Merasa ada yang kurang dengan tanpa sematan itu bisa saja berefek pada keikhlasan ibadah haji yang memang diraih dengan perjuangan yang tak mudah. Katanya lagi, ibadah satu ini jika telah sempurna dilalui maka ia telah sampai padaNya meski tanpa bekas termasuk gelar. Bahkan kalau ingin melihat "contoh" dari para salafush sholeh, tak satupun menggunakan sematan ini pada nama mereka meski berkali-kali menunaikannya, terus yang mau dicontoh siapa coba kalau bukan mereka sebagai khairah ummah, ummat terbaik sepanjang zaman.
Berbeda dengan gelar akademik yang memang bukan merupakan tanda ibadah wajib, sunnah bahkan mungkin hanya mubah (selain ilmu syariat pastinya). Bahkan pernah disebuah lembaga tertentu, gelar akademik pun kadang tak perlu ditampakkan meski dalam penulisan surat formal sekalipun jika sifatnya internal.
Kucoba memulai dengan mengedit nama-nama pemilik "haji/Hajjah" di kontak teleponku. One by one, dan ternyata lumayan membuat pegal jempol saking tak sedikit yang harus diedit, baru nyadar saya, Ternyata banyak yang bergelar itu di kontakku yang tentunya dengan andil saya yang menyimpan nama. Mungkin inilah awal yang bisa saya mulai tanpa terkesan "tak sopan" karena hanya untuk konsumsi pribadi. Berharap langkahnya bisa lebih kedepan tentunya bukan karena manusianya tapi semata ingin ridha dariNya sebagai tujuan hidup di dunia.
Ah... syariat itu adalah sebuah kepastian karena ia dari sang pemilik Yang Maha Tahu. Bukan berbasis perasaan meski tak jarang melibatkan perasaan dalam aplikasinya. Manusia memang suka sok tahu. yaaa seperti saya ini dalam masalah ini.
*Ummu Zaki
Minggu, 31 Maret 2019
Islam akan selalu jaya di tangan orang yang dipilihNya.
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا أَصْحٰبَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ
"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;"
(QS. Ya Sin: Ayat 13)
suatu kaum tidak diazab jika meninggal dalam kekafiran karena tidak ada pemberi peringatan padanya.
Allah SWT berfirman:
إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوٓا إِنَّآ إِلَيْكُمْ مُّرْسَلُونَ
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu."
(QS. Ya Sin: Ayat 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa jumlah didalam dakwah sesuatu yang penting. Pada zaman nabi Musa ada nabi Harun. Kekurangan nabi Musa tidak fasih dalam berbicara maka Musa dikuatkan dengan nabi Harun yang memiliki kepandaian berbicara. Semakin banyak da'i lebih baik. Selain meningkatkan kualitas da'i tapi jg berusaha menambah jumlah para da'i karena Medan dakwah ini banyak. Sebanyak apapun seorang da'i masih lebih banyak yang mau didakwai.
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِى يَعْلَمُونَ
"Dikatakan (kepadanya), Masuklah ke surga. Dia (laki-laki itu berkata, Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,"
(QS. Ya Sin: Ayat 26)
Sabtu, 30 Maret 2019
Menapaki Tangga Izzah
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصّٰلِحُ يَرْفَعُهُۥ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ
"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur."
(QS. Fatir: Ayat 10)
Siapa saja menginginkan Izzah, hendaklah mengetahui Izzah semuanya tanpa sisa hanya milik Allah. Yang harus kita tanamkan dalam keyakinan bahwa Izzah adalah milikNya. Bukan milik orang kuat, cerdas ataupun kaya. Org yang meyakini Izzah milik org kaya akan banyak mendekati orang kaya, meyakini miliknya penguasa , maka mendekati penguasa. Masih banyak saudara kita menyangka Izzah milik Professor, doktor dan pemilik gelar akademik dengan kecerdasan mengagumkan. Falillahi izzatul jami'an. Milik Allahlah seluruhnya kemuliaan.
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِى وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِۦ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِۦ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah."
(QS. Luqman: Ayat 33)
مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ أَعْمٰلُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِى يَوْمٍ عَاصِفٍ ۖ لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلٰى شَىْءٍ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الضَّلٰلُ الْبَعِيدُ
"Perumpamaan orang yang ingkar kepada Tuhannya, perbuatan mereka seperti abu yang ditiup oleh angin keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak kuasa (mendatangkan manfaat) sama sekali dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh."
(QS. Ibrahim: Ayat 18)
Kamis, 28 Maret 2019
Hidup Biasa atau Luar Biasa?
“
Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi
Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...

-
Bunda Sayang Melatih Kemandirian Institut Ibu Profesional Menciptakan pembiasaan baru dalam diri anak mesti dilakukan bersama. Orang tua...
-
Terkadang orang tua memuji anaknya sebagai wujud apresiasi atas pencapaian yang telah dilakukan. Sebaliknya akan mengkritisi jika melakukan...