Minggu, 29 April 2018

Pilihan Homeschooling


Menyimak berita selundupan narkoba yang massanya tak tanggung-tanggung 250 ton. Yang memaksa akalku untuk menerima bahwa itu adalah selundupan bukan impor kembali menghentak kesadaranku betapa zaman yang akan dilalui generasi kini semakin menakutkan. Belum lagi virus LGBT yang siap menerkam mangsa, pelecehan seksual yang tak hanya pelakunya orang bejat tapi juga yang covernya menolak fikiran berprasangka buruk. Liberalisme yang akan menciptakan polusi bagi hati dan fikiran, jajanan anak yang tak luput dari selundupan zat aditif terlarang. Atau bahkan tayangan online ataupun offline yang menjadi target produsen pornografi. Membayangkan seperti apa alam bebas yang akan dilalui anak-anakku membuat bulu kuduk merinding ngeri.

Maka tak heran jika animo beberapa orangtua yang diliputi kecemasan tingkat tinggi akan salah satu bentuk pendidikan mandiri berupa homeschooling cukup bertambah. Termasuk aku yang hingga kini masih berstatus bagian dari sistem pendidikan formal. Pengetahuanku tentang homeschooling awalnya kukenali lewat sebuah bacaan pada buku pelajaran siswa yang berbentuk  teks diskusi yang kuajarkan berjudul homeschooling versus formal education. Homeschooling dalam dugaanku sebatas memindahkan sekolah ke rumah. Membayangkan sebagai ibu dengan seabrek pekerjaan dinas rumah tangga sekaligus guru bagi anak-anak yang tidak sedikit dengan berbagai mata pelajaran berbeda, membuat nyaliku ciut dan berupaya menghapus mimpi disiang bolong untuk menghandle pendidikan anak-anakku lewat homeschooling. Tapi ternyata dugaanku keliru.

Mengikuti pelatihan online di website rumah inspirasi seputar homeschooling dengan metode pembelajaran yang cukup baru bagiku lumayan mencerahkan pandanganku. Webinar yang diadakan 2 kali sepekan plus grup komunitas pemerhati homeschooling via telegram ataupun WhatsApp sedikit mengubah pola fikirku. Homeschooling ternyata mengembalikan fitrah belajar Manusia. Mengokohkan kekuatan anak tanpa fokus pada kelemahan. Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Karena menurut Abah Rama sang penulis dan ahli pemetaan potensi bahwa kekuatan pada diri yang diasah akan memproduksi hasil maksimal alias melejit namun kelemahan yang diasah melalui banyak latihan hanya akan menghasilkan hasil biasa-biasa saja.

Hal ini mungkin yang akan sulit tercapai dari sebuah pendidikan formal dengan Jumlah siswa yang jauh melampaui jumlah anak dalam sebuah keluarga. Dengan berbagai macam potensi diajar dengan satu metode ataupun pendekatan pembelajaran. Padahal tidak setiap individu cocok dengan satu metode. Ada anak yang visual yang segala aktifitas pembelajaran akan lebih bermakna jika divisualisasikan. Ada anak yang auditory yang lebih fokus pada pendengaran. Juga ada yang gabungan keduanya audio-visual yang mungkin tak akan terlalu bermasalah dengan pemilihan kedua pendekatan tersebut. Belum lagi soal minat dan bakat alamiah anak-anak yang tak jarang terpasung dan terkubur dengan berbagai materi yang disuguhkan suka atau tidak yang sesungguhnya tidak mereka butuhkan dalam dunia nyata. Walhasil tak jarang kutemukan di wajah anak-anak cerdas nyaris jenius kebosanan yang bisa kuinterpretasikan sebagai rasa muak dengan seabrek tugas sekolah yang tak meaningful bagi kehidupan nyatanya.

Aku terkadang prihatin sekaligus iba dengan anak-anak jenius itu yang harusnya telah menemukan kekuatannya namun masih abu-abu tentang jurusan apa yang akan dipilih di universitas kelak. Atau mereka bahkan hanya mengikuti keinginan orang tua yang mayoritas memilih jurusan populer meski sesungguhnya itu adalah kelemahannya. Yah, inilah yang disebut meratakan lembah bukan meninggikan gunung. Istilah yang aku dapatkan dari sebuah kuliah online di institut ibu profesional yang diusung oleh ibu Septi Wulandari. Sang penemu jarimatika yang hengkang dari status PNSnya untuk fokus pada pendidikan anak-anaknya.

Ketika kuajukan proposal homeschooling pada suami, ada raut ragu tersirat di wajahnya. Pertanyaannya kemudian muncul. Apakah generasi salaf mengenal metode pendidikan rumah seperti itu? Aku tak bisa menjawab pasti. Sebab istilah homeschooling memang dari barat. Namun yang kuketahui nabi Ismail tumbuh dan belajar dibawah naungan ibu Siti Hajar dan  ayahnya Ibrahim. Rumah adalah madrasah pertama anak. Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam belajar ekonomi dari pamannya Abu Thalib pengganti orang tua yang telah tiada yang membawanya berniaga sejak belia. Meski Rasulullah tetap ummi (buta huruf) dan ini membantah tuduhan orang-orang yang mengatakan Al-Qur'an karangan Muhammad. Bagaimana bisa orang buta huruf mengarang sebuah buku apalagi kitab yang sampai saat ini tak berubah sejak lebih dari 1400 tahun?.

Ah, masih banyak tentang homeschooling yang aku tak faham meski aku berlatar belakang seorang pendidik. Namun tekad dan keyakinan serta kepercayaan suami sudah lebih dari cukup untuk memulai homeschooling. Karena homeschooling sesungguhnya  berasaskan ilmu parenting. Ilmu yang wajib dipelajari dan diperhatikan bagi setiap orang tua agar kita tak melakukan mal praktek pendidikan bagi anak sendiri. Meski sesungguhnya aku pun tak jarang terlibat didalamnya. Ah, semoga Allah mengampuni kealpaan dan kejahilanku.

Pinrang, 3 Maret 2018 (Ummu Zaki).

Undangan makan durian

Kususuri jalan berkelok-kelok, terjal dan berkelikil dengan menumpang mobil salah satu kakakku. Memoryku kembali merekam jejak2 kaki mungilku di masa lalu yang berlumpur tanpa alas kaki melewati jalan yang hanya bisa dijangkau dengan mobil tertentu, jalan kaki, dan berkuda.Penampakan mobil adalah hal yang langka,hanya sekali dalam sepekan saat jadwal pasar tradisional digelar. itupun dengan kondisi mobil yang tak layak bersaing dengan mobil di perkotaan. Mengingat kondisi luar mobil berhias lumpur yang sudah pasti saat melihatnya orang akan mengenali sebagai mobil ndeso.

Andai bukan karena godaan undangan makan durian dari salah satu bibi dari pihak sepupu ayah yang tinggal disana, niscaya aku akan berpikir dua kali kesana, mengingat bayiku masih berumur 4 bulan. Hanya saja lama rasanya tak menyantap durian lokal dikampung ini yang akan membuat kita sulit melupakan gigitan pertama hingga akhir. Selain itu dijamin fresh bukan abal2 apalagi palsu seperti yang makanan yang kini banyak bertebaran berbalut asli tapi palsu alias aspal.

Hmmm...aroma durian tercium dari pepohonan yang tumbuh di pinggiran jalan. Memaksa kami untuk singgah sekedar mengabadikan buah ekslusif yang bergelantungan tinggi untuk kebutuhan eksis di medsos (tuh kan). Aku yang tumbuh dan besar di kampung ini menjadi guide dan penutur ulung menceritakan pada anak-anakku, suami dan ponakan-ponakanku tentang kisahku di masa lalu dengan si buah legit ini.

Sesampai di tempat tujuan, kami singgah pada salah satu kerabat yang melakukan hajatan nikah. Kami disuguhi 2 baki durian yang siap disantap plus cuci tangan dan baskom tempat kulit dan bijinya. Begitu buah khas yang tak bisa disembunyikan ini tersaji didepan kami, mata kami berbinar-binar mengalahkan hijaunya mata yang melihat segepok uang (hehehe segitunya). Satu persatu kami melumat habis durian hingga tak bersisa, padalah itu baru pengantar, durian bibi masih menunggu cantik di rumahnya untuk dieksekusi.

Selanjutnya kami menuju rumah bibi. Disisi dapur, tumpukan durian telah menunggu. Langsung saja kami sikat. Suami dan anak-anak mengangkutnya untuk di santap di pinggir kali yang tak jauh dari kediaman bibi. Menyantap buah yang berhawa panas ini sambil berendam di kali yang airnya sejuk menciptakan perpaduan sempurna. Saat kepala mulai puyeng akibat kebanyakan asupan buah panas ini maka nyemplung di dinginnya air menjadi pilihan tepat. Kepala kembali fresh dan durian pun kembali jadi korban kelahapan kami.

Disela-sela makan durian. Aku memandang sang bibi yang dengan setia membelah durian untuk kami. Ada guratan ketegaran di wajahnya. Hidup dengan 4 anak ditinggal suami beberapa tahun. Memaksa sang bibi yang sebetulnya dasarnya lembut menjadi wanita berotot akibat menggarap  kebun untuk menopang kebutuhan keempat anaknya yang kesemuanya telah menuntut biaya pendidikan. Menggratiskan ratusan durian yang sebenarnya bisa menghasilkan uang bernilai bagi mereka adalah sesuatu yang membuatku semakin kagum padanya. Ditengah kesulitan hidupnya, ia masih mengingat dan menyisakan salah satu sumber penghidupannya pada kami yang tak jarang abai dengan kondisinya hanya karena alasan kehidupan kota yang menyibukkan. Ah bibi… ada rasa iba bercampur sesal.

Saat bibi berkisah tentang hidupnya aku menyimak khusyuk. Tentang anak sulungnya yang telah kuliah dan mampu membiayai kuliahnya sendiri. Tentang anaknya yang telah menikah dan tetap kuliah dibiayai suaminya. Juga tentang sepasang anaknya yang masih dibangku SMP dan SD. Saat durian yang disuguhkan kemudian dipilah-pilah untuk dikirimkan pada saudara yang uzur tak sempat datang, sang bibi menyuruh kedua anaknya ke kebun memungut durian jatuh sebagai tambahan. Aku sengaja memanggil anakku untuk ikut serta berburu durian runtuh agar mereka dapat belajar kehidupan yg tak akan mereka temui di kota. Saat pulang, anakku bercerita tentang salah satu anak bibiku yang masih duduk di bangku SD. Katanya ia ditugaskan ibunya ke kebun jagung yang menurut ukuran kaki orang kota lumayan jauh. Ia harus mengganti ibunya yang sementara menemani kami menjaga predator tanaman jagung bibi. Aku kembali merenung, betapa kerasnya hidup mengajarkan anak bibi tentang hidup yang sesungguhnya adalah sebuah perjuangan maka tak heran jika anak sulungnya telah mampu menghidupi iri sendiri di ibukota. Berbeda dengan anakq yang mungkin tumbuh dengan berbagai kemudahan ala anak kota, untuk sekedar bersendirian di ruang keluarga akan membuatnya histeris. Atau sarjana yang hari ini bingung mau kerja apa jika tak lulus di tempat kerja yang menjadi targetnya. Atau asumsi masyarakat bahwa pekerjaan itu sebatas lulus PNS. Yah...ada yang kurang dengan ilmu kehidupan kita.

Menurut cerita bibi, babi hutan, monyet adalah predator utama tanaman jagungnya. Tak jarang monyet itu katanya lebih besar dari manusia, sehingga ia yang seorang diri hanya bisa menepuk gendang kencang-kencangnya dari balik gubuk kebunnya berharap mereka menjauh. Pernah pula  ia berteriak “hai, saudaraku monyet2! Datangilah seluruh tempat di muka bumi kecuali tempatku ini, kasihanilah diriku yang seorang janda!” Ia bertutur sambil tertawa. Ternyata setelahnya, beberapa hari mereka betul2 bak hilang ditelan bumi.

Secara fisik. Mungkin kami yang hidup di perkotaan tampilannya lebih sejahtera darinya. Tapi secara psikis sangat tidak menjamin. Don’t judge the book by its cover, jangan menilai buku dari pembungkusnya. Fokus bibi mungkin hanya seputar bagaimana bertahan hidup dengan memenuhi kebutuhan primer. Makan dan sekolah anak-anaknya. Memikirkan tentang kebutuhan sekunder apalagi sekedar gaya hidup tak tercover dalam daftar misi hidupnya. Perabotan seadanya, rumah sederhana dan pekerjaan bermodal hasil kebun namun masih bisa berbagi dengan kami yang hidup lebih modern katanya. Ah  rumus matematika yang kupelajari selama 12 tahun tak mampu kupakai untuk menjelaskan kenyataan yang tak sebaliknya. Kami penuh dengan keluhan-keluhan yang sesungguhnya tak layak dikeluhkan. Kami hanya tersangkut dengan urusan diluar kebutuhan primer tapi kadang lupa bersyukur dan berbagi hasil hidup dari perkotaan. Ada yang salah dengan rumus kehidupan kami. Sehingga tak jarang hutang dari kebutuhan sekunder menjadi titik fokus kehidupan. Menjadikan kami seolah hidup tanpa hutang adalah sebuah kemustahilan. Sehingga menciptakan asumsi “apa yang mau dibagi?” Gaji habis untuk kebutuhan hidup yang tak ada habisnya, gaji sekedar numpang lewat dalam bentuk nominal. Realnya nyangkut di arisan, cicilan barang atau bahkan di penagih hutang. Ufffh….mirisnya realita.

Menoleh pada kehidupan orang tuaku dulu. Dengan selusin anak, pekerjaan ayah sebagai guru saat itu yang tanggal gajiannya tak menentu, tapi kami semua tak jua hidup melarat kini. Kami bisa mandiri dan memiliki ijazah sarjana. Pekerjaan ibu yang membantu pasokan dana keluarga dengan menjahit kecil-kecilan di pasar tradisional 2 kali sepekan dalam skala penjahit amatiran hasil otodidak. Berkebun dan menjadi penjual baju keliling yang tak jarang pembayarannya menunggu panen kopi ataupun dibarter dengan hasil bumi yang bukannya meringankan beban jualan tapi menambah beratnya untuk dijunjung di kepala berkilo-kilo dengan jalan kaki menyusuri pegunungan. Namun seingatku menu makanan di meja saat itu tak kalah menggugah selera dengan menu makanan di dapurku hari ini. Hasil upah menjahit hari itu cukup untuk menyajikan menu cumi hitam ataupun kepiting rebus yang rasanya hari ini tak mampu kulirik di penjual ikan jika gaji sertifikasi belum cair. Aku yakin ada yang salah dengan hitungan matematikaku. Matematika kehidupan yang mungkin tak termaktub dalam buku sains yang pernah kupelajari.

Aku menyimpulkan sendiri bahwa kecukupan  rezeki bukan dihitung dari nominalnya, bukan diukur dari besar tidaknya pemasukan dan bukan dinilai dari status pekerjaan. Tapi ia dikalkulasi dengan matematika kehidupan ,usaha, tawakal, syukur dan berbagi. Karena sejatinya Dunia ini tak ada habisnya jika ukuran kita  berstandar pada orang diatas, namun ia akan berlebih jika standarnya diturunkan sesuai dengan orang dibawah. Dan ia akan cukup jika standar kecukupan itu ada pada apa yang kita miliki hari ini. Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan (QS: 55:13).

#Ummu zaki

Coretan Cinta

Ketika keletihan dunia menggelayut di difikiran
Ketika kepayahan  menggerogoti raga
Ada asa kembali bersemi
Menoreh harapan bagi jiwa rindu fitrah

Ketika keberadaan tak terganti sesiapa
Ketika kehadiran tak terbayar
Mata mungil menatap penuh harap
Seolah berkata “aku ingin didekapmu”

Ketika rasa sesal menghimpit jiwa
Ketika bulir hangat di pelupuk mata
Tangan kecil itu menggapai jauh
Seolah berucap “jangan tinggalkan aku”

Kembali jejak memori kan berulang
Ditengah himpitan dunia yang tak berujung
Namun kini ia kan menjadi sejarah
Aku ingin hidup tak tersesali.

Pinrang,27 Maret 2018
Calon ibu professional

#Ummu Zaki

Memilih Kisah Pengantar Tidur

“Ibu, nanti ceritakan kisah, ya!” pinta gadis mungilku. Aku mengangguk mengiyakan sembari memandang gadget dan mengeloni si dede bayi. “Jangan lupa, ya bu!” Kembali ia menegaskan. Kutatap wajahnya menoleh dari gadget yang mengalihkan perhatianku padanya sembari berujar “iyaa, anak sholehah, tapi tunggu si dede terlelap, ya”. Ia mengangguk dengan mata berbinar.

Seringkali menjawab pertanyaan anak tanpa menatap wajahnya terkesan tak serius baginya. Maka dipastikan pertanyaan serupa akan terulang hingga mata tertuju padanya. Atau bahkan tangan mungilnya tak segan  menarik kedua pipi agar posisi kepala tepat didepan wajahnya. Agar mata fokus menatapnya. Setelah itu jawaban pertanyaan akan ia terima sempurna.

Keinginan untuk didengar ternyata tumbuh di setiap individu sejak kecil. Dari anak-anakku, hal serupa sering kutemukan pola yang sama. Aku belajar dari mereka bahwa menjadi pendengar yang baik adalah sebuah hal yang tak boleh disepelekan. Meski itu perkara sepele.

Sebuah kebiasaan kami jelang tidur membacakan kisah pengantar tidur. Namun sejak kehamilan dan kehadiran si bayi, rutinitas itu sedikit terganggu. Terkadang aku malah duluan terkapar di pembaringan saat mengeloni si bayi sehingga baca kisah jadi terabaikan atau bahkan mereka yang terlebih dulu terlelap akibat kelelahan bermain tanpa asupan tidur di siang hari.

Membersamai mereka jelang tidur ternyata efektif menanamkan nilai-nilai dari kisah yang dibacakan. Maka kami memilih asupan bacaan dari kumpulan kisah nyata para salaf. Dongeng tak pernah menjadi pilihan kami. Disamping karena kisah fiktif, juga penanaman nilai spiritual lebih kami prioritaskan.

Saya teringat dengan salah satu hadist yang mewanti-wanti untuk tak berdusta meski itu sebuah candaan. Maka kami memilah kisah non-fiksi dengan harapan bahwa sesuatu yang nyata lebih realistis untuk diteladani. Meski demikian, hal itu tak menegaskan kami antipati terhadap cerita fiksi.

Secara fitrah manusia senang mendengar kisah. Tak heran dalam Al-Qur'an banyak kisah orang-orang terdahulu sebagai  nutrisi jiwa bagi orang-orang kemudian. Sebagai pelajaran bagi yang membacanya.

Sebuah penelitian di Inggris pada tahun 60-an menunjukkan bahwa negara yang penduduknya terbiasa dengan membaca kisah/dongeng memiliki tingkat keinginan untuk sukses yang tinggi. Aku lupa sumber websitenya. Tapi hal itu kutemukan beberapa tahun lalu saat keherananku pada silabus mapel yang kuajarkan mewajibkan “teks naratif" diajarkan di setiap tingkatan kelas pada jenjang SMA. Berkali-kali mencoba menemukan jejak sumber web itu namun seolah hilang ditelan bumi.

Selain poin kebersamaan, literasi dan nilai moral cerita coba kami pupuk dari kisah pengantar tidur , juga efek positif lain adalah kami selaku orang tua “dipaksa” membaca kisah salaf yang mungkin hanya akan menumpuk menjadi hiasan lemari jika hanya mengandalkan motivasi diri sendiri atau hanya karena tugas dari halaqah tarbiyah. Satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Seperti oleh-oleh webinar rumahinspirasi “raising children raising ourself”.

*Ummu Zaki

Mengenali Kelemahan diri

BERKENALAN DENGAN KELEMAHAN DIRI

Mengenali kelemahan diri adalah sama pentingnya dengan mengenali kekuatan diri. Selama ini kita sering terjebak dengan pencitraan seolah aib jika kelemahan tersingkap, seolah kelemahan adalah sesuatu yang harus dipangkas. Kita tak fokus mensiasati kelemahan tapi hanya berpusat menajamkan kekuatan. Hal yang lebih parah ketika kita tak mampu membedakan yang mana kekuatan yang mana keterbatasan. Sehingga wajar ketika kita selalu ingin memaksakan diri dan orang lain seperti harapan kita. Tak jarang berujung pada stress, menyalahkan diri dan bahkan orang lain. Ketika kelemahan diri kita fahami dan diakui, kemudian ia disiasati atau diarahkan untuk diisi orang lain agar bisa bersinergi dalam sebuah tim. Hal ini bisa menciptakan team work hebat. Karena yang ada dalam sebuah tim adalah kolaborasi bukan kompetisi. Sebagaimana lebah yang saling melengkapi dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga terciptalah sarang kokoh tempat madu diproduksi.

Bila kita hanya mencari kekuatan tapi mengabaikan pengenalan terhadap kelemahan, maka bisa jadi kita akan fokus pada kelemahan mengira itu akan berubah menjadi sebuah kekuatan suatu saat. Disisi lain kekuatan diri menjadi terlantar padahal orang-orang sukses itu konsisten menajamkan kekuatan bukan fokus memperbaiki kelemahan. Selain itu bila tak mengenal baik kelemahan sebagai sebuah keterbatasan, bisa jadi kita akan marah dan tersinggung jika seseorang mengungkapkannya. Tapi jika kita telah lebih dahulu mengenalinya maka hal itu tidak akan memantik emosional kita.

Abah Rama sang founder talent mapping berkata jika engkau tak mengenal dirimu yang sesungguhnya maka bagaimana engkau berharap dikenali orang lain. Citra diri itu sangat penting. Seringkali kita mengabaikannya. Kita sering mendengar kalimat "just be yourself" tapi bagaimana mungkin bisa terjadi bila kita tak mengenali diri sendiri? Maka penting untuk menajamkan kekuatan dan menyiasati keterbatasan atau kelemahan tapi awali dengan memahami diri sendiri. Bukankah Allah 'azza Wajalla menciptakan kekuatan dan kelemahan diri bukan tanpa sebab dan tujuan?

Pertanyaan dulu yang sering terbetik di benakku. Mengapa banyak orang yang kehilangan identitas diri? Sehingga berusaha mencari jati diri? Syukur-syukur jika jati diri itu dicari pada tempat yang benar, tapi jika sebaliknya? Jawabannya ternyata karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan berkenalan dengan citra diri. Sehingga kelak kita tak mampu mengelola kekuatan dan kelemahan diri bahkan pada orang lain. Sedangkan modal dalam menjalin ukhuwah termasuk berlapang dada dengan keterbatasan orang lain dalam artian mengenali kelemahan. Maka tak perlu heran jika kita menemukan diri kita seringkali terjebak perseteruan dengan orang lain, menyesali diri tak seberuntung orang lain, atau bahkan tak yakin dengan kekuatan diri sendiri. Sebabnya kita buta pada konsep diri.

Pertama kali mengenal konsep citra diri adalah pada sebuah pelatihan Training of Trainer Dasar pada sebuah Lembaga Muslimah. Saat itu aku mulai mengenal diri dari penilaian teman pelatihan dan dikuatkan dari asumsi sendiri. Kemudian berkenalan dengan Institut Ibu Profesional yang menjadi gerbang interaksiku dengan talent mapping milik Abah Rama. Aku mulai memahami bahwa ternyata kelemahan itu penting untuk dikenali sebagai sebuah keterbatasan. Maka tak perlu sibuk meniru orang lain. Tak perlu berusaha bersaing dengan orang lain. Tak perlu iri dan dengki dengan kesuksesan orang lain. Tak perlu menjudge anak kita dengan label negatif seperti nakal, bodoh dst. Karena dalam konsep citra diri slogan "jika orang lain bisa akupun pasti bisa"  tak bisa sepenuhnya digunakan, kecuali itu terkait dengan kekuatan diri. Tapi jika kelemahan , maka sampai kapanpun ia tak akan mampu sama atau paling hasilnya biasa-biasa saja. Fokus saja mengasah kekuatan.

Ilmu pengenalan diri penting bagi orang tua dan pendidik. Menularkan  pada anak untuk menjadi diri sendiri dengan segala keunikan kekuatan dan kelemahannya. Karena sesungguhnya tiap individu itu limited edition. Hanya saja orang gagal dimata kita belum menemukan kekuatan dirinya, mungkin selama ini ia terperangkap dengan label lingkungan yang fokus melihat kelemahan dirinya. Belajar Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan sehingga krisis identitas bisa diminimalisir pada generasi kita.  Tak ada lagi penilaian negatif pada anak kita tetapi disiasati dan diarahkan.  Tak perlu lagi memaksakan jurusan pada mereka. Kenali diri agar kita mampu memposisikan diri dengan baik dan benar. Seperti kutipan dari sang founder talent mapping "Be yourself, but first know Yourself".

Ngomong-ngomong Facebook bakal ditutup, ah Tak usah risau toh bukan bagian dari kekuatan diri :D .

#belajarmengenaldiri
@ummu zaki

Saat si kecil sudah pandai bermodus

Hari ini kedatangan tamu, ponakan. Jadi kita buat kue andalan Kalbe Farma, ups keluarga maksudnya. Martabak manis ala-ala gue. Kue yang simpel dan bisa tersaji cepat.

Setelah si ponakan makan kue beserta pendamping minuman hangat. Dia pamit balik ke pondok. Kue yang tersisa diserbu bocah-bocah (padahal udah disogok duluan tadi, biasalah... lagu lama).

Tak berapa lama kemudian, si Syafiq (6y) masih mau nambah, padahal yang tersisa buat si ayah dan ibu yang belum kebagian. Sang kakak sontak nyeletuk.

Nisa: "Eeeh, itu bukan bagianmu!".
Syafiq: "ada sah, itu bekas gigitanku"
Nisa: " dak, boleh! Kamu makan paling banyak.
Syafiq: " ibuu!" seperti biasa kalau tak bisa lolos pasti lapor ke emaknya.
Saya: " Yaaa, makanmi kl ada bekas gigitanta".
Syafiq: " yeee"
Tiba2 si kakak teriak laporan.
Nisa: "ibuu, ini Syafiq e, dia ambil yg ada bekas gigitannya, baru nagigit lagi sedikit kue yg lainnya".
Saya: ha-ha-ha... (Setelahnya, nasehat sang emak pun mengalir)

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...