Menyimak berita selundupan narkoba yang massanya tak tanggung-tanggung 250 ton. Yang memaksa akalku untuk menerima bahwa itu adalah selundupan bukan impor kembali menghentak kesadaranku betapa zaman yang akan dilalui generasi kini semakin menakutkan. Belum lagi virus LGBT yang siap menerkam mangsa, pelecehan seksual yang tak hanya pelakunya orang bejat tapi juga yang covernya menolak fikiran berprasangka buruk. Liberalisme yang akan menciptakan polusi bagi hati dan fikiran, jajanan anak yang tak luput dari selundupan zat aditif terlarang. Atau bahkan tayangan online ataupun offline yang menjadi target produsen pornografi. Membayangkan seperti apa alam bebas yang akan dilalui anak-anakku membuat bulu kuduk merinding ngeri.
Maka tak heran jika animo beberapa orangtua yang diliputi kecemasan tingkat tinggi akan salah satu bentuk pendidikan mandiri berupa homeschooling cukup bertambah. Termasuk aku yang hingga kini masih berstatus bagian dari sistem pendidikan formal. Pengetahuanku tentang homeschooling awalnya kukenali lewat sebuah bacaan pada buku pelajaran siswa yang berbentuk teks diskusi yang kuajarkan berjudul homeschooling versus formal education. Homeschooling dalam dugaanku sebatas memindahkan sekolah ke rumah. Membayangkan sebagai ibu dengan seabrek pekerjaan dinas rumah tangga sekaligus guru bagi anak-anak yang tidak sedikit dengan berbagai mata pelajaran berbeda, membuat nyaliku ciut dan berupaya menghapus mimpi disiang bolong untuk menghandle pendidikan anak-anakku lewat homeschooling. Tapi ternyata dugaanku keliru.
Mengikuti pelatihan online di website rumah inspirasi seputar homeschooling dengan metode pembelajaran yang cukup baru bagiku lumayan mencerahkan pandanganku. Webinar yang diadakan 2 kali sepekan plus grup komunitas pemerhati homeschooling via telegram ataupun WhatsApp sedikit mengubah pola fikirku. Homeschooling ternyata mengembalikan fitrah belajar Manusia. Mengokohkan kekuatan anak tanpa fokus pada kelemahan. Meninggikan gunung bukan meratakan lembah. Karena menurut Abah Rama sang penulis dan ahli pemetaan potensi bahwa kekuatan pada diri yang diasah akan memproduksi hasil maksimal alias melejit namun kelemahan yang diasah melalui banyak latihan hanya akan menghasilkan hasil biasa-biasa saja.
Hal ini mungkin yang akan sulit tercapai dari sebuah pendidikan formal dengan Jumlah siswa yang jauh melampaui jumlah anak dalam sebuah keluarga. Dengan berbagai macam potensi diajar dengan satu metode ataupun pendekatan pembelajaran. Padahal tidak setiap individu cocok dengan satu metode. Ada anak yang visual yang segala aktifitas pembelajaran akan lebih bermakna jika divisualisasikan. Ada anak yang auditory yang lebih fokus pada pendengaran. Juga ada yang gabungan keduanya audio-visual yang mungkin tak akan terlalu bermasalah dengan pemilihan kedua pendekatan tersebut. Belum lagi soal minat dan bakat alamiah anak-anak yang tak jarang terpasung dan terkubur dengan berbagai materi yang disuguhkan suka atau tidak yang sesungguhnya tidak mereka butuhkan dalam dunia nyata. Walhasil tak jarang kutemukan di wajah anak-anak cerdas nyaris jenius kebosanan yang bisa kuinterpretasikan sebagai rasa muak dengan seabrek tugas sekolah yang tak meaningful bagi kehidupan nyatanya.
Aku terkadang prihatin sekaligus iba dengan anak-anak jenius itu yang harusnya telah menemukan kekuatannya namun masih abu-abu tentang jurusan apa yang akan dipilih di universitas kelak. Atau mereka bahkan hanya mengikuti keinginan orang tua yang mayoritas memilih jurusan populer meski sesungguhnya itu adalah kelemahannya. Yah, inilah yang disebut meratakan lembah bukan meninggikan gunung. Istilah yang aku dapatkan dari sebuah kuliah online di institut ibu profesional yang diusung oleh ibu Septi Wulandari. Sang penemu jarimatika yang hengkang dari status PNSnya untuk fokus pada pendidikan anak-anaknya.
Ketika kuajukan proposal homeschooling pada suami, ada raut ragu tersirat di wajahnya. Pertanyaannya kemudian muncul. Apakah generasi salaf mengenal metode pendidikan rumah seperti itu? Aku tak bisa menjawab pasti. Sebab istilah homeschooling memang dari barat. Namun yang kuketahui nabi Ismail tumbuh dan belajar dibawah naungan ibu Siti Hajar dan ayahnya Ibrahim. Rumah adalah madrasah pertama anak. Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam belajar ekonomi dari pamannya Abu Thalib pengganti orang tua yang telah tiada yang membawanya berniaga sejak belia. Meski Rasulullah tetap ummi (buta huruf) dan ini membantah tuduhan orang-orang yang mengatakan Al-Qur'an karangan Muhammad. Bagaimana bisa orang buta huruf mengarang sebuah buku apalagi kitab yang sampai saat ini tak berubah sejak lebih dari 1400 tahun?.
Ah, masih banyak tentang homeschooling yang aku tak faham meski aku berlatar belakang seorang pendidik. Namun tekad dan keyakinan serta kepercayaan suami sudah lebih dari cukup untuk memulai homeschooling. Karena homeschooling sesungguhnya berasaskan ilmu parenting. Ilmu yang wajib dipelajari dan diperhatikan bagi setiap orang tua agar kita tak melakukan mal praktek pendidikan bagi anak sendiri. Meski sesungguhnya aku pun tak jarang terlibat didalamnya. Ah, semoga Allah mengampuni kealpaan dan kejahilanku.
Pinrang, 3 Maret 2018 (Ummu Zaki).