Minggu, 07 Oktober 2018

Melatih Kemandirian#day 4: Katakan meski Pahit

Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Institut Ibu Profesional

Hari ini kami sekeluarga berakhir pekan di luar rumah dengan lokasi yang berbeda. Aku mengikuti sebuah pelatihan khusus perempuan di sebuah ormas di daerahku. Sedang suami ke luar kota mengantar rekannya naik pelaminan.

Aku mengikuti pelatihan ini dengan turut memboyong anak-anak ke tempat pelatihan. Syukurnya kegiatan ini tidak membatasi peserta untuk tidak mengikut sertakan anak-anak. Dan kebetulan juga lokasi aula bersebelahan dengan gedung TK, bisa dikatakan seatap. Sehingga anak-anak leluasa bermain tanpa mengganggu kami. Selain itu memang ada panitia khusus penjaga anak-anak terutama yang masih balita.

Tak terkecuali putraku, Syafiq. Kali ini melatih kemandiriannya melalui aktivitas peduli sampah akan berlangsung di sela jam istirahat, saat aku bertemu dengannya. Seperti biasa, dia akan memalak saya dengan uang jajan. Namun karena perjanjian kami uang jajan hanya keluar sekali dalam sehari, maka ia meminta cemilan. Aku pun memberikannya biskuit.

Saat jam istirahat tiba, aku menuju tempat wudhu. Mataku tertuju pada lantai. Kudapati sampah bungkusan biskuit yang kukenali disekitar tempat pelosotan TK. Beberapa anak berada disitu termasuk Syafiq. Aku memanggilnya dan menunjuk bungkusan biskuit di depanku " ini sampah Syafiq, kan?". Tanyaku. Awalnya ia menggeleng. " Tak boleh berbohong, anak Sholeh, ini pembungkus yang tadi, kan?" Akhirnya ia mengangguk pelan. " Yah, begitu dong, pak gubernur Sholeh, harus jujur". Ujarku menaikkan jempol.

"Lho, sampahnya salah tempat nih, harus dimana coba?". Tanyaku dan Syafiq tersipu malu sembari menunjuk tong sampah yang tak berada jauh darinya. "Ayo pak gubernur, sampahnya dibuang pada tempatnya!" Bujukku pelan.  Awalnya ia menunjukkan keengganan. Namun aku terus membujuk, meski sebenarnya aku bisa membuangnya namun aku berharap melalui latihan ini, ia mampu membuang sampahnya sendiri tanpa mengandalkan orang lain meski itu adalah orang terdekat dan yang paling menyayanginya.

Akhirnya iapun termakan bujukanku. Ia memungut sampah biskuit itu dan membuangnya pada tong sampah. "Pak gubernur hebat! sudah jujur, bersih pula!" Pujiku.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’”
#day1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...