Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Institut Ibu profesional
Melihat berita via medsos tentang para korban gempa yang mengguncang pada senja di hari Sabtu 28 September 2018, membuat dada sesak membayangkan keadaan trauma pasca gempa. Perhatianku terfokus pada anak-anak yang terpisah dari orang tuanya, sebuah pemandangan yang menyayat hati. Tak terbayang bagaimana ketergantungan pada orang tua di usia belia itu tiba-tiba terlepas memaksa diri mereka untuk berpijak diatas kaki mungilnya sendiri dan menguji kemandirian di tengah kesulitan itu.
Tetiba aku menengok anakku, anak lelakiku Syafiq, yang saat ini berusia 6 tahun dan sedang duduk di TK, masih mengandalkan bantuan dari kami orang tuanya. Yang terkadang saat pagi masih harus diangkut dari pembaringan menuju kamar mandi.
Aku kemudian tersadar bahwa kelak dia akan terpisah dari kami entah saat dewasa menuju kehidupannya sendiri ataupun saat takdir berkehendak sebelum masanya ia menuju alam bebas. Maka melatih kemandirian sejak dini tak ayal lagi harus disegerakan.
Melatih kemandirian Syafiq saya awali dengan membantu melakukan kegiatan rumah terutama di pagi hari saat klimaks aktivitas dalam setiap kehidupan harian keluarga kami. Jika kakak-kakaknya bergumul dengan piring kotor dan membersihkan lantai, maka dia kutawarkan mengurus sampah. Namun sebelum membicarakan soal tanggung jawab barunya aku awali dengan bermusyawarah di malam hari dengannya. Aku menawarkan berbagai panggilan motivasi yang akan menjadi sematan baru pada tugas barunya.
Ada berbagai pilihan sematan yang aku tawarkan padanya mulai dari jendral sampah, polisi sampah, menteri kebersihan, presiden bersih, gubernur peduli sampah. Dan ternyata Syafiq memilih disematkan dengan panggilan gubernur peduli sampah. Entah apa alasan dibalik pilihannya itu. Kemungkinan karena kata "gubernur" terdengar familiar di telinganya setelah pilkada yang lalu.
Layaknya pagi-pagi sebelumnya saat usai menyelesaikan semua persiapan sekolahnya, seperti biasa Syafiq menunggu kami menuju kantor. Sang ayah biasanya memang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali berangkat kantor anak sekolah dan aku turut serta diantar. Maka aktivitasnya akan kosong disaat menunggu anggota keluarga lain bersiap. Saat inilah aku meminta bantuan sang gubernur untuk mengeksekusi sampah dapur.
" Pak gubernur, Sampah menunggu dibawah wastafel!". Sang gubernur cilik yang katanya peduli sampah langsung tancap gas mengambil tempat sampah dan dibopong ke tempat pengumpulan sampah yang nantinya akan diangkut oleh tukang sampah. Dengan sikap penuh percaya diri, ia pun menyelesaikan tugas barunya.
"Mantap, pak gubernur!" Ujarku sembari mengacungkan kedua jempol dan dibalas senyum merekah.
Alhamdulillah, awal yang indah tanpa hambatan berarti. Berharap hari setelahnya akan tetap mulus tanpa penolakan hingga sang ibu harus mengeluarkan jurus rayuan maut yang terkadang bisa menimbulkan inkonsistensi kedua belah pihak. Yah...mendidik tak semudah teori. Semua butuh proses, kesabaran dan kebersinambungan yang terus menerus. Maka mengupdate semangat menjadi sebuah keniscayaan agar menghasilkan buah yang ranum yang manisnya tetap terasa hingga saatnya terpisah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.
(Muttafaqun 'alaih)
#day1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi
Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...

-
Bunda Sayang Melatih Kemandirian Institut Ibu Profesional Menciptakan pembiasaan baru dalam diri anak mesti dilakukan bersama. Orang tua...
-
Terkadang orang tua memuji anaknya sebagai wujud apresiasi atas pencapaian yang telah dilakukan. Sebaliknya akan mengkritisi jika melakukan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar