Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Institut Ibu Profesional
Kemandirian berasal dari kata mandiri yang menurut kamus bahasa Indonesia kemandirian adalah hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung orang lain. Melatih Kemandirian anak bermakna mengajar anak agar terbiasa berdiri sendiri atau tak bergantung pada orang lain meski itu adalah orang tuanya sendiri.
Hal ini berarti bahwa pembiasaan adalah sesuatu yang menjadi syarat agar sebuah pola bisa menetap pada diri seorang anak. Membiasakan melakukan sesuatu secara berulang dan berkelanjutan pada akhirnya akan menjadi kebiasaan baru yang melekat pada diri anak tersebut. Bukankah semua anak dilahirkan dengan fitrah atau suci dan lingkungan yang kemudian mengubahnya sesuai dengan apa yang ia peroleh termasuk pembiasaan yang akan melekat menjadi pribadi bagi si anak.
كلّ مولودٍ يولدُ عَلي الفطرةِ فأبوه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه.
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi." (HR. Muslim)
Seperti di hari kedua ini, saya ingin menanamkan kemandirian pada Syafiq tentang pentingnya kebersihan, berharap ia kemudian tak abai terhadap sampah di sekitarnya. Minimal ia faham dan selanjutnya menjadikan pola kebiasaan baru untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya. Sehingga ia tak tumbuh menjadi anak yang membuang sampah saja ia harus mengandalkan orang lain meski itu berasal dari dirinya sendiri. Selain itu, ikut terlibat dalam kerja jama'ah juga ingin ditanamkan agar kelak ia tak berpangku tangan di saat semua anggota keluarga sibuk dengan pekerjaan rumah.
Maka di hari kedua ini, membuang sampah basah dari sisa makanan menjadi pilihan selanjutnya. Sampah yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ayam. Berharap ia bisa memahami bahwa sampah tak melulu berakhir di tong sampah tapi juga bisa berarti bagi makhluk lain. Ada banyak ilmu yang coba ditanamkan melalui aktivitas ini. Selain yang tadi disebutkan, juga pengelolaan sampah melalui pemilahan antara sampah basah dan kering. Bahwa meski bernama sampah juga perlu disortir. Terlebih di usianya sekarang yang genap 6 tahun 1 bulan, pengelompokan benda berdasarkan jenis dan bentuk adalah salah satu kecakapan sudah bisa diajarkan.
Pagi hari saat ia telah siap menuju sekolah, aku memanfaatkan waktu luangnya. Aku meminta sang gubernur cilik yang peduli sampah ini untuk meneruskan hasil sortiran sampah ke kandang ayam Kate kami. Tentunya tak lupa memanggilnya dengan sematan pilihannya "gubernur peduli sampah" juga menerapkan komunikasi produktif.
Dengan tanpa penolakan ia membawa sampah itu. Alhamdulillah, semoga engkau tumbuh menjadi individu yang mencintai dan menjaga kebersihan lingkungan. Sebab bersih itu indah dan Allah mencintai keindahan.
إِنَّ اللّٰهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Sesungguhnya Allah itu Indah dan mencintai Keindahan. (HR Muslim)
#day2
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Jumat, 05 Oktober 2018
Kamis, 04 Oktober 2018
Melatih Kemandirian #day 1: sang "Gubernur" Peduli Sampah
Bunda Sayang
Melatih Kemandirian
Institut Ibu profesional
Melihat berita via medsos tentang para korban gempa yang mengguncang pada senja di hari Sabtu 28 September 2018, membuat dada sesak membayangkan keadaan trauma pasca gempa. Perhatianku terfokus pada anak-anak yang terpisah dari orang tuanya, sebuah pemandangan yang menyayat hati. Tak terbayang bagaimana ketergantungan pada orang tua di usia belia itu tiba-tiba terlepas memaksa diri mereka untuk berpijak diatas kaki mungilnya sendiri dan menguji kemandirian di tengah kesulitan itu.
Tetiba aku menengok anakku, anak lelakiku Syafiq, yang saat ini berusia 6 tahun dan sedang duduk di TK, masih mengandalkan bantuan dari kami orang tuanya. Yang terkadang saat pagi masih harus diangkut dari pembaringan menuju kamar mandi.
Aku kemudian tersadar bahwa kelak dia akan terpisah dari kami entah saat dewasa menuju kehidupannya sendiri ataupun saat takdir berkehendak sebelum masanya ia menuju alam bebas. Maka melatih kemandirian sejak dini tak ayal lagi harus disegerakan.
Melatih kemandirian Syafiq saya awali dengan membantu melakukan kegiatan rumah terutama di pagi hari saat klimaks aktivitas dalam setiap kehidupan harian keluarga kami. Jika kakak-kakaknya bergumul dengan piring kotor dan membersihkan lantai, maka dia kutawarkan mengurus sampah. Namun sebelum membicarakan soal tanggung jawab barunya aku awali dengan bermusyawarah di malam hari dengannya. Aku menawarkan berbagai panggilan motivasi yang akan menjadi sematan baru pada tugas barunya.
Ada berbagai pilihan sematan yang aku tawarkan padanya mulai dari jendral sampah, polisi sampah, menteri kebersihan, presiden bersih, gubernur peduli sampah. Dan ternyata Syafiq memilih disematkan dengan panggilan gubernur peduli sampah. Entah apa alasan dibalik pilihannya itu. Kemungkinan karena kata "gubernur" terdengar familiar di telinganya setelah pilkada yang lalu.
Layaknya pagi-pagi sebelumnya saat usai menyelesaikan semua persiapan sekolahnya, seperti biasa Syafiq menunggu kami menuju kantor. Sang ayah biasanya memang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali berangkat kantor anak sekolah dan aku turut serta diantar. Maka aktivitasnya akan kosong disaat menunggu anggota keluarga lain bersiap. Saat inilah aku meminta bantuan sang gubernur untuk mengeksekusi sampah dapur.
" Pak gubernur, Sampah menunggu dibawah wastafel!". Sang gubernur cilik yang katanya peduli sampah langsung tancap gas mengambil tempat sampah dan dibopong ke tempat pengumpulan sampah yang nantinya akan diangkut oleh tukang sampah. Dengan sikap penuh percaya diri, ia pun menyelesaikan tugas barunya.
"Mantap, pak gubernur!" Ujarku sembari mengacungkan kedua jempol dan dibalas senyum merekah.
Alhamdulillah, awal yang indah tanpa hambatan berarti. Berharap hari setelahnya akan tetap mulus tanpa penolakan hingga sang ibu harus mengeluarkan jurus rayuan maut yang terkadang bisa menimbulkan inkonsistensi kedua belah pihak. Yah...mendidik tak semudah teori. Semua butuh proses, kesabaran dan kebersinambungan yang terus menerus. Maka mengupdate semangat menjadi sebuah keniscayaan agar menghasilkan buah yang ranum yang manisnya tetap terasa hingga saatnya terpisah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.
(Muttafaqun 'alaih)
#day1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Melatih Kemandirian
Institut Ibu profesional
Melihat berita via medsos tentang para korban gempa yang mengguncang pada senja di hari Sabtu 28 September 2018, membuat dada sesak membayangkan keadaan trauma pasca gempa. Perhatianku terfokus pada anak-anak yang terpisah dari orang tuanya, sebuah pemandangan yang menyayat hati. Tak terbayang bagaimana ketergantungan pada orang tua di usia belia itu tiba-tiba terlepas memaksa diri mereka untuk berpijak diatas kaki mungilnya sendiri dan menguji kemandirian di tengah kesulitan itu.
Tetiba aku menengok anakku, anak lelakiku Syafiq, yang saat ini berusia 6 tahun dan sedang duduk di TK, masih mengandalkan bantuan dari kami orang tuanya. Yang terkadang saat pagi masih harus diangkut dari pembaringan menuju kamar mandi.
Aku kemudian tersadar bahwa kelak dia akan terpisah dari kami entah saat dewasa menuju kehidupannya sendiri ataupun saat takdir berkehendak sebelum masanya ia menuju alam bebas. Maka melatih kemandirian sejak dini tak ayal lagi harus disegerakan.
Melatih kemandirian Syafiq saya awali dengan membantu melakukan kegiatan rumah terutama di pagi hari saat klimaks aktivitas dalam setiap kehidupan harian keluarga kami. Jika kakak-kakaknya bergumul dengan piring kotor dan membersihkan lantai, maka dia kutawarkan mengurus sampah. Namun sebelum membicarakan soal tanggung jawab barunya aku awali dengan bermusyawarah di malam hari dengannya. Aku menawarkan berbagai panggilan motivasi yang akan menjadi sematan baru pada tugas barunya.
Ada berbagai pilihan sematan yang aku tawarkan padanya mulai dari jendral sampah, polisi sampah, menteri kebersihan, presiden bersih, gubernur peduli sampah. Dan ternyata Syafiq memilih disematkan dengan panggilan gubernur peduli sampah. Entah apa alasan dibalik pilihannya itu. Kemungkinan karena kata "gubernur" terdengar familiar di telinganya setelah pilkada yang lalu.
Layaknya pagi-pagi sebelumnya saat usai menyelesaikan semua persiapan sekolahnya, seperti biasa Syafiq menunggu kami menuju kantor. Sang ayah biasanya memang sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali berangkat kantor anak sekolah dan aku turut serta diantar. Maka aktivitasnya akan kosong disaat menunggu anggota keluarga lain bersiap. Saat inilah aku meminta bantuan sang gubernur untuk mengeksekusi sampah dapur.
" Pak gubernur, Sampah menunggu dibawah wastafel!". Sang gubernur cilik yang katanya peduli sampah langsung tancap gas mengambil tempat sampah dan dibopong ke tempat pengumpulan sampah yang nantinya akan diangkut oleh tukang sampah. Dengan sikap penuh percaya diri, ia pun menyelesaikan tugas barunya.
"Mantap, pak gubernur!" Ujarku sembari mengacungkan kedua jempol dan dibalas senyum merekah.
Alhamdulillah, awal yang indah tanpa hambatan berarti. Berharap hari setelahnya akan tetap mulus tanpa penolakan hingga sang ibu harus mengeluarkan jurus rayuan maut yang terkadang bisa menimbulkan inkonsistensi kedua belah pihak. Yah...mendidik tak semudah teori. Semua butuh proses, kesabaran dan kebersinambungan yang terus menerus. Maka mengupdate semangat menjadi sebuah keniscayaan agar menghasilkan buah yang ranum yang manisnya tetap terasa hingga saatnya terpisah.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْؤُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.
(Muttafaqun 'alaih)
#day1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional
Sabtu, 15 September 2018
Komunikasi Produktif #day 10: Ganti kata TIDAK BISA menjadi BISA
Pagi ini layaknya hari-hari sebelumnya, saya membuat kudapan sebagai bekal sekolah Nisa. Lumpia goreng pisang menjadi menu kali ini. Sekalian dibuat banyak sebagai buah tangan menjenguk mertua di kampung usai pulang sekolah nanti.
Nisa terkadang tak tahu bekal apa yang ia bawa sampai ia melihat sendiri saat sampai di sekolahnya. Tapi kali ini, tak seperti biasanya saya meminta Nisa untuk terlibat memilih topping dan menata sendiri bekal di kotak makannya. Awalnya ia enggan khawatir topping keju pilihannya berantakan, kebanyakan atau malah kurang.
#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
" Ibu saja deh yang ngasih topping. Saya tidak bisa, nanti nggak pas atau malah berantakan", katanya sedikit bersungut. Aku yang sibuk menggoreng sisa lumpia menoleh dan memberi motivasi. " Kakak pasti BISA, ayo dicoba dulu! kalau tercecer atau salah, nggak apa-apa namanya juga belajar", gumamku. "Okelah, aku coba ya, Bu!", Katanya mantap. Saya mengangguk mengiyakan.
Nisa pun memberi topping dan menata bekalnya di kotak makan. Hasilnya cukup memuaskan baginya. Terlihat matanya berbinar usai finishing bekalnya. " Alhamdulillah, bisa kan?, Sesuatu itu harus dicoba dulu, sayang. Menyerah sebelum mencoba berarti kalah sebelum berjuang", kataku. Nisa hanya mengangguk dengan senyum tersipu.
Mengganti kata TIDAK BISA menjadi BISA adalah sebuah pola komunikasi produktif yang mesti dibiasakan. Otak akan bekerja dan mengumpulkan kosakata pendukung sesuai persepsi kita yang pada akhirnya menciptakan prilaku berdasarkan asumsi tersebut.
Seringkali asumsi negatif pada kemampuan diri tercipta atau kepercayaan diri anak terkubur atas ulah komunikasi yang kurang produktif. Sering menyalahkan dan mengkritisi usaha mereka yang belum sempurna di mata orang dewasa, mengambil alih atau tak memberi tanggung jawab dengan dalih ia belum bisa, menjadi dua dari sekian penyebab. Tak terkecuali pola komunikasi saya dimasa lalu selaku ibu yang banyak berinteraksi dengannya. Maka menjadi PR besar kedepannya untuk merubah dan memperbaiki pola komunikasi agar lebih produktif dan positif. Semoga kesalahan yang sama tak akan kembali terulang.
Tumbuhlah anakku menjadi gadis yang optimis akan kemampuan dirimu sendiri.
Tumbuhlah anakku menjadi gadis yang optimis akan kemampuan dirimu sendiri.
#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Jumat, 14 September 2018
Komunikasi Produktif #day 9 : Jelas dalam Memberikan Pujian dan Kritikan
Terkadang orang tua memuji anaknya sebagai wujud apresiasi atas pencapaian yang telah dilakukan. Sebaliknya akan mengkritisi jika melakukan hal negatif. Kalau di keluarga kami, seringkali kalimat “pintarnya anak Sholeh/sholehahku” terucap sambil memeluk, mengusap kepala atau punggung Nisa saat memujinya. Rasanya hanya kalimat apresiasi ini menjadi andalan kami selama ini. Namun setelah berkenalan dengan komunikasi produktif di institut Ibu profesional, metode ini sepertinya perlu direvisi meski tak berarti sepenuhnya keliru.
Pujian hendaknya jelas. Dengan kata lain kita tak sekedar memuji individu sang anak tetapi lebih pada usaha yang ia lakukan. Seperti saat Nisa hari ini sukses melakukan tugasnya tanpa diingatkan lagi. Maka kalimat “ Maa SyaaAllah, anak sholehahku kali ini bekerja dengan ikhlas, good job” bisa menjadi pujian yang tepat sasaran. Tak lupa sentuhan fisik mewakili bahasa tubuh disertakan sebagaimana hasil penelitian Albert Mehrabian menyatakan bahwa 55% bahasa tubuh berpengaruh besar pada hasil komunikasi dibanding perasaan yang hanya 7% atau intonasi 38%.
Anak akan memahami bahwa sikap ikhlas yang mungkin ia maknai melakukan pekerjaan tanpa diingatkan dan tanpa menggerutu merupakan hal positif yang tak sekedar menghadirkan rasa senang bagi orang lain tapi juga menjadi sikap positif yang mesti dibangun.
Demikian pula dalam memberikan kritikan. Mengkritisi individu sang anak hanya akan melahirkan sikap antipati yang bisa berkepanjangan. Seyogyanya jika anak melakukan hal yang keliru, perbuatan itulah yang dikritisi bukan personalnya. Seperti saat Nisa mengucapkan kalimat negatif pada adiknya pagi tadi, saya mencoba mengkritisi perbuatannya bukan personnya dengan mengatakan “Nak, ucapan yang tadi itu tak baik. Perkataan negatif seperti itu hanya akan menjadi pemicu pertengkaran dan tidak ada manfaatnya, bukankah kakak hafal hadistnya bahwa berkata baik atau diam?” Nisa hanya terdiam mendengarkan. Akan berbeda responnya andai saja saya mengatakan “ aduh Nisaa..., kamu itu betul-betul menjengkelkan, selalu saja memicu pertengkaran dengan adik!”. Maka Nisa akan merasa bahwa dirinyalah yang negatif bukan kalimatnya.
Mengkritisi personal bisa menciptakan label negatif pada sang anak. Sehingga dia akan cenderung bersikap demikian meski secara sadar ia mengetahui bahwa hal itu keliru. Hal itu akan melekat di benaknya hingga ia enggan berusaha merubah sikap karena terlanjur berfikir “tak ada gunanya, toh tetap saja saya dianggap demikian”. Lebih parah jika merasa “memang saya begitu,kog”.
Maka jelas dalam memuji dan mengkritisi, insyaaAllah akan dikenang sang anak kelak sebagai sebuah pendidikan attitude yang akan melekat hingga dewasa.
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Kamis, 13 September 2018
Komunikasi Produktif #day 8: Keep Information Short and Simpel
Seharian beraktivitas membuat sang ibu kelelahan. Sepulang kantor dalam perjalanan pulang ke rumah, terbayang rentetan PR yang menunggu dieksekusi. Sedang jam 8 malam ini kembali ia akan piket di sekolah boarding. Selain sang suami, sang gadis, Nisa juga bisa ia andalkan nantinya membantu menyelesaikannya.
Sesampai di rumah, PR pertama adalah memandikan si baby 10m. Kali ini ia bisa meminta bantuan Nisa. Hanya saja ia terbayang penolakannya tersebab jadwal cuci piring juga menanti. Tapi sang ibu tetap mencoba.
"Nisa, anak Sholehah, tolong bantu nyiapin baskom mandi dede, yah". Diluar dugaan Nisa merespon positif. Ia langsung menyiapkan. Setelah siap, kembali sang ibu bertanya. "Bisa bantu mandiin Dede?". "Ookey!" Jawab Nisa mantap. Setelah selesai. Sang ibu menunggu sejenak sembari menyelesaikan masakan di dapur. Selanjutnya sang ibu melanjutkan instruksi.
"Sekalian dede dipakaikan baju, tanggung " kata ibu sambil mengenyitkan dahi menggoda nisa". "Siip!" Jawab Nisa.
Si Dede beres kini, kembali kesekian kalinya ibu memberi perintah. "Nisa belum cuci piring, ya?, Buruan tuh!, nanti kita mau keluar habis isya sedang piringnya belum beres". Tanpa ba bi bu Nisa langsung ke dapur bergumul dengan piring kotor.
Alhamdulillah, pekerjaan sang ibu akhirnya beres juga. Syukurnya Nisa mau melakukan rentetan instruksi sang ibu yang disampaikan terpisah. Andai saja sang ibu menggunakan kalimat majemuk dengan memberikan 3 instruksi sekaligus, mungkin babak baru drama ibu anak kembali akan mencuat.
#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Sesampai di rumah, PR pertama adalah memandikan si baby 10m. Kali ini ia bisa meminta bantuan Nisa. Hanya saja ia terbayang penolakannya tersebab jadwal cuci piring juga menanti. Tapi sang ibu tetap mencoba.
"Nisa, anak Sholehah, tolong bantu nyiapin baskom mandi dede, yah". Diluar dugaan Nisa merespon positif. Ia langsung menyiapkan. Setelah siap, kembali sang ibu bertanya. "Bisa bantu mandiin Dede?". "Ookey!" Jawab Nisa mantap. Setelah selesai. Sang ibu menunggu sejenak sembari menyelesaikan masakan di dapur. Selanjutnya sang ibu melanjutkan instruksi.
"Sekalian dede dipakaikan baju, tanggung " kata ibu sambil mengenyitkan dahi menggoda nisa". "Siip!" Jawab Nisa.
Si Dede beres kini, kembali kesekian kalinya ibu memberi perintah. "Nisa belum cuci piring, ya?, Buruan tuh!, nanti kita mau keluar habis isya sedang piringnya belum beres". Tanpa ba bi bu Nisa langsung ke dapur bergumul dengan piring kotor.
Alhamdulillah, pekerjaan sang ibu akhirnya beres juga. Syukurnya Nisa mau melakukan rentetan instruksi sang ibu yang disampaikan terpisah. Andai saja sang ibu menggunakan kalimat majemuk dengan memberikan 3 instruksi sekaligus, mungkin babak baru drama ibu anak kembali akan mencuat.
Hanya saja sang ibu kali ini menerapkan komunikasi produktif KISS (keep information short and simple) yaitu memberi perintah dengan kalimat tunggal. Membiarkan satu pekerjaan selesai kemudian berpindah memberi instruksi pekerjaan lainnya. Sehingga Nisa tak merasa terbebani dengan rentetan tugas menanti yang memenuhi pikirannya.PR beres, ibu bisa bernafas lega dan Nisa pun bahagia.
#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Rabu, 12 September 2018
Komunikasi Produktif #day 7: Mengganti Nasehat dengan Refleksi Pengalaman
Usai shalat shubuh, seperti biasa Nisa mengerjakan tugas rumah harian yang telah disepakati bersama. Biasanya ia langsung mandi pagi setelahnya. Tapi sang ibu mendengar sayup suara Nisa yang ia deteksi bukan dari kamar mandi.
Tak selang berapa lama, Nisa menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur. “Ibu, liat tidak botol air minumku?”. “Coba cari di kamar ibu” sahut ibu sambil memicingkan mata heran. “Saya kira Nisa sudah mandi, kog masih disitu?”. Tanya ibu. “ Saya sedang menyiapkan peralatan sekolah, Bu”. Jawab Nisa.
Ibu menghela nafas panjang, terlihat ia sedang berusaha menahan diri tak menyalahkan mengapa itu tak dilakukan tadi malam. Akhirnya ia bergumam “ ibu pernah telat ke kantor saat tak sempat menyiapkan peralatan yang dibutuhkan di malam hari. Itu karena waktu yang seharusnya dipakai untuk mandi dan beberes di dapur tersita. Ibu tak mau telat lagi ke kantor, tak enak rasanya datang terlambat. Sejak itu, malam sebelum tidur ibu pastikan barang-barang ibu telah siap untuk dibawa esoknya. Jadi waktu ibu lebih efesien. Alhamdulillah, kini ibu jarang telat".
Kali ini sang ibu menerapkan komunikasi produktif mengganti nasehat dengan merefleksikan pengalaman sendiri. Berharap hal itu mampu memberi pemahaman bagi Nisa bahwa seyogyanya segala kebutuhan sekolahnya harus dipersiapkan di malam hari, bahwa menunda pekerjaan akan menyebabkan pekerjaan lain ikut terpengaruh.
Nisa mendengar kisah ibu dalam diam tanpa ekspresi kemudian berlalu mencari botol minum di kamar ibunya. Sang ibu menghela nafas panjang, ada rasa lega menyelimuti. Ia menatap punggung sang gadis yang berlalu dihadapannya berharap ia menimba ilmu kehidupan baru yang kelak akan berguna dalam menjalani dunia yang semakin membuka diri seiring dengan pertambahan usianya.
#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Selasa, 11 September 2018
Komunikasi Produktif #day 6 : Saatnya Anak Memilih
Jam dinding menunjukkan pukul 4.45 shubuh. Sang ibu seperti biasa membangunkan Nisa. Kemudian ia berwudhu untuk shalat sunnah sembari menunggu kedua gadisnya ikut shalat berjamaah.
Nisa belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Sang ibu kembali membangunkan Nisa yang tertidur di ranjang bertingkat bagian atas. “ Nisa, ayo bangun, nak, sudah shubuh”
Nisa belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Sang ibu kembali membangunkan Nisa yang tertidur di ranjang bertingkat bagian atas. “ Nisa, ayo bangun, nak, sudah shubuh”
Nisa yang biasanya akan terbangun dengan beberapa panggilan, langsung menyahut.
Nisa: “iyaaa...Bu”.
Ibu:” Ayolah, anak sholehah. Ibu sudah mau shalat, nih”.
Sang ibu mencoba menerapkan komunikasi produktif mengendalikan intonasi dan bersuara ramah.
Nisa beranjak dengan berat namun terlihat ia berupaya turun dari pembaringan agar tak masbuk shalat berjamaah.
Usai shalat, Nisa dan adiknya berencana main bulu tangkis. Percakapan keduanya didengar sang ibu.
ibu kemudian berkata:
“ Kalian boleh main bulutangkis tapi jangan lupa laksanakan tugas masing-masing sebelumnya, ya?” sang adik menyapu dan Nisa sendiri mengepel lantai. “Baik, Bu.” Jawab Nisa.
Usai mengepel lantai, Nisa kemudian menghampiri sang ibu.
“ Bu, ijin keluar, ya”.
Sang ibu kemudian menatap Nisa dan berkata dengan lembut, “ kalau keluar sekarang, nanti mainnya nggak puas, lho. Soalnya perut Nisa belum terisi sarapan sama sekali. Main bulutangkis butuh tenaga. Kalau sehabis sarapan, nanti bisa main sepuasnya tanpa terganggu perut keroncongan”. Bagaimana? Nisa pilih yang mana, sarapan atau main dulu?
Kali ini sang ibu menerapkan komunikasi produktif mengganti perintah dengan pilihan.
Nisa akhirnya memilih untuk sarapan dahulu sebelum bermain bulutangkis sambil menemani si dede bayi sembari menunggu sang ibu menyelesaikan masakan di dapur.
Alhamdulillah tanpa merasa diperintah, Nisa akhirnya bisa menentukan pilihan pada sarapan dahulu kemudian bermain bulutangkis tanpa merasa dipaksa yang sesungguhnya hal itu juga merupakan harapan sang ibu.
#hari6
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Senin, 10 September 2018
Komunikasi Produktif #day 5: Mengganti Perintah dengan Pilihan
Hari ini, Nisa punya raket baru untuk bermain bulu tangkis. Saking senangnya, jelang shalat magrib ia masih asyik bermain raket didalam rumah. Ruang tamu jadi korbannya. Meja dan kursi disingkirkan agar lapang untuk dijadikan lapangan mini.
Seperti biasanya, di keluarga kami, para wanita senantiasa menghidupkan shalat berjamaah di rumah. Apakah itu antara aku dengan anak-anak atau Nisa bersama adik perempuannya. Sedang sang ayah tentunya berjamaah di masjid. Ibu mengingatkan bahwa saatnya berwudhu untuk shalat magrib. Tetapi Nisa dan adiknya masih asyik bermain bulu tangkis.
Ibu: “ Nisa, ambil wudhu! Saatnya shalat”.
Nisa: “ iyaaa…” sembari tetap asyik bermain.
![]() |
| Belajar mengaji magrib-isya |
Melihat situasi itu. Sang Ibu lalu mengganti perintah dengan pilihan.
”Kalau shalat sekarang nanti bisa main usai shalat dan mengaji. Ada banyak waktu, kan? Apalagi besok kan libur, jadi tidurnya boleh telat. Atau jika Nisa bermain sekarang, shalatnya telat, ngajinya telat juga nanti tak bisa main lagi. Ditambah pahalanya berkurang. Pilih mana?
Ia pun bergegas berwudhu dan menunaikan shalat berjamaah bersama. Hati ibu pun lega.
#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Komunikasi Produktif #day 4 : Fokus Pada Solusi Bukan Masalah
Sepulang kantor, kegiatan daurah menyita waktu masak sore. Sampai rumah sudah hampir magrib. Sedang kebiasaan kami makan malam sebelum maghrib. Soalnya usai maghrib, kami isi dengan belajar bersama membaca Alquran.
Karena sampai rumah agak telat dibanding hari biasanya, otomatis tak sempat mengurus dapur. Akhirnya, lauk yang disantap adalah dari sisa makan siang tadi. Makan malam kali ini ditemani lauk seadanya, yang penting bisa menegakkan punggung. Lagi pula segelas jus alpukat hasil hunting ayah di pasar Malino setia menunggu untuk dieksekusi. Hanya saja saya mempersyaratkan makan dulu. Meski sebenarnya menurut teori harusnya buah duluan. Tapi itu kulakukan agar anak-anak mau makan karena biasanya kalau minum jus sebelumnya, mereka malah tak mau makan terlebih dengan lauk yang sama sekali tak menggugah selera.
Nisa yang sariawannya meradang jadi kesulitan makan. Di detik terakhir saat nasi tersisa sekitar 2-3 suapan, lauk ludes. Nisa tak mau melanjutkan makan bermaksud berhenti dengan alasan kehabisan lauk. Aku mencoba membujuknya.
Aku: “ Nasinya tersisa sedikit, nak. Cobalah tuk menghabiskan meski tanpa lauk. Sesekali belajar makan tanpa lauk.”
Nisa: “tak enak, Bu saya tak mau makan”
Aku : “ cobalah, nak. Dibanding saudara kita di Suriah, mereka hanya bisa makan rerumputan disaat perang”.
Nisa :”Kondisi mereka lain, Bu”. Ia menjawab dengan cemberut.
Aku kemudian menyadari bahwa masalahnya adalah Nisa sedang sariawan dan tak berselera makan, lauk pun habis. Kucoba menawarkan solusi. Untuk nasi yang tersisa sekitar 2-3 suapan begitu, setengah telur bisa jadi solusi. Kebetulan di kulkas tersedia telur kocok sisa adonan nugget tadi pagi.
Akhirnya Nisa membuat dadar sisa telur itu dan akhirnya ia pun tak jadi mubazir. Hati ibu senang, Nisa pun kenyang.
#hari4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Komunikasi produktif #day 3: Menawarkan pilihan
Hari ini kembali aku mencoba mengendalikan diri dalam berkomunikasi dengan anak gadisku yang kini mulai beranjak remaja. Saat kemandirian mulai ia peroleh saat itu juga tantangan mendidik mulai terasa. Seolah keakuan gadis saya yang satu ini mulai terlihat. Tak ingin didikte juga tak mau dianggap anak kecil lagi.
Sepulang sekolah, seperti biasa karena hari ini adalah hari Sabtu, yang otomatis aku tak masuk kantor. Tapi entah mengapa pekerjaan di rumah rasanya tak ada habisnya. Termasuk tumpukan piring kotor sisa sarapan masih bergunduk di wastafel dapur. Tak terasa jam menunjukkan pukul 11.00 artinya saatnya anak2 pulang termasuk gadisku ini.
Sejam setelah kedatangannya. Aku menyodorkan puring kotor untuk dicuci. Wajah cemberut membalas permintaanku ini. Berkutat dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, ditambah dengan mengurus bocah 10m membuat darah saya nyaris kembali bergolak panas. Syukurnya aku masih bisa menguasai diri.
Kucoba menawarkan pilihan antara menunda hingga habis shalat dhuhur atau mengganti dengan pekerjaan lainnya, yaitu mengangkat dan menjemur baju yang telah dicuci beronde-ronde dan menunggu untuk dijemur. Nisa kemudian memilih untuk menjemur baju dan menunda sampai usai shalat dhuhur atau sejam kemudian. Aku bergumam “ okelah, tapi usai shalat, jemurnya tanpa diingatkan lagi, yah?” Gadisku mengangguk pelan. Baiklah, tak apa hari ini aku yang mengeksekusi gundukan piring dan panci sisa tadi pagi yang lumayan banyak tersebab usai dipakai menyiapkan bekal si ayah beserta semobil kawan-kawannya untuk dibawa Safar ke Malino.
#hari3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Jumat, 07 September 2018
Tantangan Komunikasi Produktif #day 2
Seperti biasa, setiap shubuh sebelum berangkat ke mesjid, suami bertugas membangunkan anak-anak, sedang saya berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mereka. Satu kebiasaan Nisa adalah saat bangun dia akan berlama-lama di pembaringan, membuat saya tak henti-hentinya mengingatkan dari balik dapur untuk mengambil wudhu. Tak jarang drama perseteruan antara ibu anak bermula disini. Saat panggilan yang kesekian tak digubris, maka meluncurlah nasehat yang lebih mirip keluhan sang ibu bak air mengalir deras menuju lembah. Maka tak jarang wajah cemberut, hentakan kaki Nisa mewarnai langkahnya menuju tempat wudhu.
Tapi pagi ini,
Saya berusaha mengendalikan emosi tak terpancing suasana. Saya mencoba berkomunikasi ramah. Mengendalikan intonasi dengan kalimat yang tak memantik emosi Nisa.
Akhirnya kami mampu melewati drama yang hampir saja terulang tanpa saya harus mengangkat suara. Dengan sedikit bujukan dan kalimat pujian tentunya.
Saat jadwal cuci piring yang biasanya ia lakukan sore hari, saya tak perlu bersitegang mengingatkan.
Kali ini saya mengatakan apa yang saya inginkan. “Ibu ingin engkau mencuci piring sore ini agar esok pagi peralatan masak ini siap dipakai. Jika tidak kakak bisa telat ke sekolah karena sarapan juga terlambat tersedia bersebab ibu harus mencuci peralatan masak dulu baru kemudian memasak sarapan.
Meski diawal ia sempat menunjukkan penolakan dengan wajah cemberut. Tetapi tak sampai membantah dan berlama-lama menunggu instruksi yang sama lagi. Alhamdulillah, lumayan bisa menghindarkan drama ibu anak sore ini. Ia kemudian mencuci piring dengan wajah datar tak menampakkan kekesalan.
Di malam hari, Nisa mengeluhkan lidahnya yang perih akibat sariawan.
Di malam hari, Nisa mengeluhkan lidahnya yang perih akibat sariawan.
Saya mencoba berempati sekaligus mengganti nasihat dengan refleksi pengalaman dengan mengatakan “Sariawan memang rasanya perih, apalagi jika di lidah. Kakak perlu banyak asupan air dan minum madu agar sariawannya bisa sembuh. Ibu juga kadang sariawan, terlebih jika ibu sering membantah ayah. Mungkin Allah sedang menegur ibu. Jadi sebenarnya sakit itu bisa jadi sebuah teguran agar lisan lebih terjaga. Juga bisa menjadi penggugur dosa-dosa. Maka ibu bersabar dab perbanyak istighfar agar Allah menyembuhkan”.
Mendengar itu, Nisa tak berwajah cemberut seperti biasa jika dinasehati. Kali ini dia hanya terdiam tanpa menunjukkan wajah penolakan ataupun cemberut. Seolah kalimat itu benar adanya dan baik baginya. Syukurlah. Hari ini terlewati dengan komunikasi minim teriakan dan juga wajah cemberut Nisa. Semoga dihari berikutnya peningkatan komunikasi produktif lebih terlihat.
#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional
Langganan:
Postingan (Atom)
Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi
Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...
-
Menjawab Tantangan 10 hari tentang komunikasi produktif di hari pertama ini, aku memilih anak keduaku Zahidatun Nisa 11y sebagai objek tant...
-
Bunda Sayang Melatih Kemandirian Institut Ibu Profesional Menciptakan pembiasaan baru dalam diri anak mesti dilakukan bersama. Orang tua...









