Sabtu, 15 September 2018

Komunikasi Produktif #day 10: Ganti kata TIDAK BISA menjadi BISA

Pagi ini layaknya hari-hari sebelumnya,  saya membuat kudapan sebagai bekal sekolah Nisa. Lumpia goreng pisang menjadi menu kali ini. Sekalian dibuat banyak sebagai buah tangan menjenguk mertua di kampung usai pulang sekolah nanti.

Nisa terkadang tak tahu bekal apa yang ia bawa sampai ia melihat sendiri saat sampai di sekolahnya. Tapi kali ini, tak seperti biasanya saya meminta Nisa untuk terlibat  memilih topping dan menata sendiri bekal di kotak makannya. Awalnya ia enggan khawatir topping  keju pilihannya berantakan, kebanyakan atau malah kurang.

" Ibu saja deh yang ngasih topping. Saya tidak bisa, nanti nggak pas atau malah berantakan", katanya sedikit bersungut. Aku yang sibuk menggoreng sisa lumpia menoleh dan memberi motivasi. " Kakak pasti BISA, ayo dicoba dulu! kalau tercecer atau salah, nggak apa-apa namanya juga belajar", gumamku. "Okelah,  aku coba ya, Bu!", Katanya mantap. Saya mengangguk mengiyakan. 

Nisa pun memberi topping dan menata bekalnya di kotak makan. Hasilnya cukup memuaskan baginya. Terlihat matanya berbinar usai finishing bekalnya. " Alhamdulillah, bisa kan?, Sesuatu itu harus dicoba dulu, sayang. Menyerah sebelum mencoba berarti kalah sebelum berjuang", kataku. Nisa hanya mengangguk dengan senyum tersipu.

Mengganti kata TIDAK BISA menjadi BISA adalah sebuah pola komunikasi produktif yang mesti dibiasakan. Otak akan bekerja dan mengumpulkan kosakata pendukung sesuai persepsi kita yang pada akhirnya menciptakan prilaku berdasarkan asumsi tersebut.

Seringkali asumsi negatif pada kemampuan diri tercipta atau kepercayaan diri anak terkubur atas ulah komunikasi yang kurang produktif. Sering menyalahkan dan mengkritisi usaha mereka yang belum sempurna di mata orang dewasa, mengambil alih atau tak memberi tanggung jawab dengan dalih ia belum bisa, menjadi dua dari sekian penyebab. Tak terkecuali pola komunikasi saya dimasa lalu selaku ibu yang banyak berinteraksi dengannya. Maka menjadi PR besar kedepannya untuk merubah dan memperbaiki pola komunikasi agar lebih produktif dan positif. Semoga kesalahan yang sama tak akan kembali terulang.

Tumbuhlah anakku menjadi gadis yang optimis akan kemampuan dirimu sendiri.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Jumat, 14 September 2018

Komunikasi Produktif #day 9 : Jelas dalam Memberikan Pujian dan Kritikan

Terkadang orang tua memuji anaknya sebagai wujud apresiasi atas pencapaian yang telah dilakukan. Sebaliknya akan mengkritisi jika melakukan hal negatif. Kalau di keluarga kami, seringkali kalimat “pintarnya anak Sholeh/sholehahku”  terucap sambil memeluk, mengusap kepala atau punggung Nisa saat memujinya. Rasanya hanya kalimat apresiasi ini menjadi andalan kami selama ini. Namun setelah berkenalan dengan komunikasi produktif di institut Ibu profesional, metode ini sepertinya perlu direvisi meski tak berarti sepenuhnya keliru.

Pujian hendaknya jelas. Dengan kata lain kita tak sekedar memuji individu sang anak tetapi lebih pada usaha yang ia lakukan. Seperti saat Nisa hari ini sukses melakukan tugasnya tanpa diingatkan lagi. Maka kalimat “ Maa SyaaAllah, anak sholehahku kali ini bekerja dengan ikhlas, good job” bisa menjadi pujian yang tepat sasaran. Tak lupa sentuhan fisik mewakili bahasa tubuh disertakan sebagaimana hasil penelitian Albert Mehrabian menyatakan bahwa 55% bahasa tubuh berpengaruh besar pada hasil komunikasi dibanding perasaan yang hanya 7% atau intonasi 38%.



Anak akan memahami bahwa sikap ikhlas yang mungkin ia maknai melakukan pekerjaan tanpa diingatkan dan tanpa menggerutu merupakan hal positif yang tak sekedar menghadirkan rasa senang bagi orang lain tapi juga menjadi sikap positif yang mesti dibangun.

Demikian pula dalam memberikan kritikan. Mengkritisi individu sang anak hanya akan melahirkan sikap antipati yang bisa berkepanjangan. Seyogyanya jika anak melakukan hal yang keliru, perbuatan itulah yang dikritisi bukan personalnya. Seperti saat Nisa mengucapkan kalimat negatif pada adiknya pagi tadi, saya mencoba mengkritisi perbuatannya bukan personnya dengan mengatakan “Nak, ucapan yang tadi itu tak baik. Perkataan negatif seperti itu hanya akan menjadi pemicu pertengkaran dan tidak ada manfaatnya, bukankah kakak hafal hadistnya bahwa berkata baik atau diam?” Nisa hanya terdiam mendengarkan. Akan berbeda responnya andai saja saya mengatakan “ aduh Nisaa..., kamu itu betul-betul menjengkelkan, selalu saja memicu pertengkaran dengan adik!”. Maka Nisa akan merasa bahwa dirinyalah yang negatif bukan kalimatnya.

Mengkritisi personal bisa menciptakan label negatif pada sang anak. Sehingga dia akan cenderung bersikap demikian meski secara sadar ia mengetahui bahwa hal itu keliru. Hal itu akan melekat di benaknya hingga ia enggan berusaha merubah sikap karena terlanjur berfikir “tak ada gunanya, toh tetap saja saya dianggap demikian”. Lebih parah jika merasa “memang saya begitu,kog”.

Maka jelas dalam memuji dan mengkritisi, insyaaAllah akan dikenang sang anak kelak sebagai sebuah pendidikan attitude yang akan melekat hingga dewasa.

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Kamis, 13 September 2018

Komunikasi Produktif #day 8: Keep Information Short and Simpel

Seharian beraktivitas membuat sang ibu kelelahan. Sepulang kantor dalam perjalanan pulang ke rumah, terbayang rentetan PR yang menunggu dieksekusi. Sedang jam 8 malam ini kembali ia akan piket di sekolah boarding. Selain sang suami, sang gadis, Nisa juga bisa ia andalkan nantinya membantu menyelesaikannya.

Sesampai di rumah, PR pertama adalah memandikan si baby 10m. Kali ini ia bisa meminta bantuan Nisa. Hanya saja ia terbayang penolakannya tersebab jadwal cuci piring juga menanti. Tapi sang ibu tetap mencoba.

"Nisa, anak Sholehah, tolong bantu nyiapin baskom mandi dede, yah". Diluar dugaan Nisa merespon positif. Ia langsung menyiapkan. Setelah siap, kembali sang ibu bertanya. "Bisa bantu mandiin Dede?". "Ookey!" Jawab Nisa mantap. Setelah selesai. Sang ibu menunggu sejenak sembari menyelesaikan masakan di dapur. Selanjutnya sang ibu melanjutkan instruksi.
"Sekalian dede dipakaikan baju, tanggung " kata ibu sambil mengenyitkan dahi menggoda nisa". "Siip!" Jawab Nisa.

Si Dede beres kini, kembali kesekian kalinya ibu memberi perintah. "Nisa belum cuci piring, ya?, Buruan tuh!, nanti kita mau keluar habis isya sedang piringnya belum beres". Tanpa ba bi bu Nisa langsung ke dapur bergumul dengan piring kotor.

Alhamdulillah, pekerjaan sang ibu akhirnya beres juga. Syukurnya Nisa mau melakukan rentetan instruksi sang ibu yang disampaikan terpisah. Andai saja sang ibu menggunakan kalimat majemuk dengan memberikan 3 instruksi sekaligus, mungkin babak baru drama ibu anak kembali akan mencuat.

Hanya saja sang ibu kali ini menerapkan komunikasi produktif KISS (keep information short and simple) yaitu memberi perintah dengan kalimat tunggal. Membiarkan satu pekerjaan selesai kemudian berpindah memberi instruksi pekerjaan lainnya. Sehingga Nisa tak merasa terbebani dengan rentetan tugas menanti yang memenuhi pikirannya.
PR beres, ibu bisa bernafas lega dan Nisa pun bahagia.


#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Rabu, 12 September 2018

Komunikasi Produktif #day 7: Mengganti Nasehat dengan Refleksi Pengalaman

Usai shalat shubuh, seperti biasa Nisa mengerjakan tugas rumah harian yang telah disepakati bersama. Biasanya ia langsung mandi pagi setelahnya. Tapi sang ibu mendengar sayup suara Nisa yang ia deteksi bukan dari kamar mandi.

Tak selang berapa lama, Nisa menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur. “Ibu, liat tidak botol air minumku?”. “Coba cari di kamar ibu” sahut ibu sambil memicingkan mata heran. “Saya kira Nisa sudah mandi, kog masih disitu?”. Tanya ibu. “ Saya sedang menyiapkan peralatan sekolah, Bu”. Jawab Nisa.
Ibu menghela nafas panjang, terlihat ia sedang berusaha menahan diri tak menyalahkan mengapa itu tak dilakukan tadi malam. Akhirnya ia bergumam “ ibu pernah telat ke kantor saat tak sempat menyiapkan peralatan yang dibutuhkan di malam hari. Itu karena waktu yang seharusnya dipakai untuk mandi dan beberes di dapur tersita. Ibu tak mau telat lagi ke kantor, tak enak rasanya datang terlambat. Sejak itu, malam sebelum tidur ibu pastikan barang-barang ibu telah siap untuk dibawa esoknya. Jadi waktu ibu lebih efesien. Alhamdulillah, kini ibu jarang telat".

Kali ini sang ibu menerapkan komunikasi produktif mengganti nasehat dengan merefleksikan pengalaman sendiri. Berharap hal itu mampu memberi pemahaman bagi Nisa bahwa seyogyanya segala kebutuhan sekolahnya harus dipersiapkan di malam hari, bahwa menunda pekerjaan akan menyebabkan pekerjaan lain ikut terpengaruh.

Nisa mendengar kisah ibu dalam diam tanpa ekspresi kemudian berlalu mencari botol minum di kamar ibunya. Sang ibu menghela nafas panjang, ada rasa lega menyelimuti. Ia menatap punggung sang gadis yang berlalu dihadapannya berharap ia menimba ilmu kehidupan baru yang kelak akan berguna dalam menjalani dunia yang semakin membuka diri seiring dengan pertambahan usianya.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



Selasa, 11 September 2018

Komunikasi Produktif #day 6 : Saatnya Anak Memilih

Jam dinding menunjukkan pukul 4.45 shubuh. Sang ibu seperti biasa membangunkan Nisa. Kemudian ia berwudhu untuk shalat sunnah sembari menunggu kedua gadisnya ikut shalat berjamaah.

Nisa belum juga beranjak dari tempat tidurnya. Sang ibu kembali membangunkan Nisa yang tertidur di ranjang bertingkat bagian atas. “ Nisa, ayo bangun, nak, sudah shubuh”
Nisa yang biasanya akan terbangun dengan beberapa panggilan, langsung menyahut.
Nisa: “iyaaa...Bu”.
Ibu:” Ayolah, anak sholehah. Ibu sudah mau shalat, nih”.
Sang ibu mencoba menerapkan komunikasi produktif mengendalikan intonasi dan bersuara ramah.  
Nisa beranjak dengan berat namun terlihat ia berupaya turun dari pembaringan agar tak masbuk shalat berjamaah.

Usai shalat, Nisa dan adiknya berencana main bulu tangkis. Percakapan keduanya didengar sang ibu.
ibu kemudian berkata:
“ Kalian boleh main bulutangkis tapi jangan lupa laksanakan tugas masing-masing sebelumnya, ya?” sang adik menyapu dan Nisa sendiri mengepel lantai. “Baik, Bu.” Jawab Nisa.
Usai mengepel lantai, Nisa kemudian menghampiri sang ibu.
“ Bu, ijin keluar, ya”.
Sang ibu kemudian menatap Nisa dan berkata dengan lembut, “ kalau keluar sekarang, nanti mainnya nggak puas, lho. Soalnya perut Nisa belum terisi sarapan sama sekali. Main bulutangkis butuh tenaga. Kalau sehabis sarapan, nanti bisa main sepuasnya tanpa terganggu perut keroncongan”. Bagaimana? Nisa pilih yang mana, sarapan atau main dulu?

Kali ini sang ibu menerapkan komunikasi produktif mengganti perintah dengan pilihan.

Nisa akhirnya memilih untuk sarapan dahulu sebelum bermain bulutangkis sambil menemani si dede bayi sembari menunggu sang ibu menyelesaikan masakan di dapur.

Alhamdulillah tanpa merasa diperintah, Nisa akhirnya bisa menentukan pilihan pada sarapan dahulu kemudian bermain bulutangkis tanpa merasa dipaksa yang sesungguhnya hal itu juga merupakan harapan sang ibu.


#hari6
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional




Senin, 10 September 2018

Komunikasi Produktif #day 5: Mengganti Perintah dengan Pilihan

Hari ini, Nisa punya raket baru untuk bermain bulu tangkis. Saking senangnya, jelang shalat magrib ia masih asyik bermain raket didalam rumah. Ruang tamu jadi korbannya. Meja dan kursi disingkirkan agar lapang untuk dijadikan lapangan mini.

Seperti biasanya, di keluarga kami, para wanita senantiasa menghidupkan shalat berjamaah di rumah. Apakah itu antara aku dengan anak-anak atau Nisa bersama adik perempuannya. Sedang sang ayah tentunya berjamaah di masjid. Ibu mengingatkan bahwa saatnya berwudhu untuk shalat magrib. Tetapi Nisa dan adiknya masih asyik bermain bulu tangkis.

Ibu: “ Nisa, ambil wudhu! Saatnya shalat”.
Nisa: “ iyaaa…” sembari tetap asyik bermain.
Belajar mengaji magrib-isya

Melihat situasi itu. Sang Ibu lalu mengganti perintah dengan pilihan.

”Kalau shalat sekarang nanti bisa main usai shalat dan mengaji. Ada banyak waktu, kan? Apalagi besok kan libur, jadi tidurnya boleh telat. Atau jika Nisa bermain sekarang, shalatnya telat, ngajinya telat juga nanti tak bisa main lagi. Ditambah pahalanya berkurang. Pilih mana?

Ia pun bergegas berwudhu dan menunaikan shalat berjamaah bersama. Hati ibu pun lega.


#hari5
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif #day 4 : Fokus Pada Solusi Bukan Masalah

Sepulang kantor, kegiatan daurah menyita waktu masak sore. Sampai rumah sudah hampir magrib. Sedang kebiasaan kami makan malam sebelum maghrib. Soalnya usai maghrib, kami isi dengan belajar bersama membaca Alquran.

Karena sampai rumah agak telat dibanding hari biasanya, otomatis tak sempat mengurus dapur. Akhirnya, lauk yang disantap adalah dari sisa makan siang tadi. Makan malam kali ini ditemani lauk seadanya, yang penting bisa menegakkan punggung. Lagi pula segelas jus alpukat hasil hunting ayah di pasar Malino setia menunggu untuk dieksekusi. Hanya saja saya mempersyaratkan makan dulu. Meski sebenarnya menurut teori harusnya buah duluan.  Tapi itu kulakukan agar anak-anak mau makan karena biasanya kalau minum jus sebelumnya, mereka malah tak mau makan terlebih dengan lauk yang sama sekali tak menggugah selera.

Nisa yang sariawannya meradang jadi kesulitan makan. Di detik terakhir saat nasi tersisa sekitar 2-3 suapan, lauk ludes. Nisa tak mau melanjutkan makan bermaksud berhenti dengan alasan kehabisan lauk. Aku mencoba membujuknya.

Aku: “ Nasinya tersisa sedikit, nak. Cobalah tuk menghabiskan meski tanpa lauk. Sesekali belajar makan tanpa lauk.”
Nisa: “tak enak, Bu saya tak mau makan”
Aku : “ cobalah, nak. Dibanding saudara kita di Suriah, mereka hanya bisa makan rerumputan disaat perang”.
Nisa :”Kondisi mereka lain, Bu”. Ia menjawab dengan cemberut.
Aku kemudian menyadari bahwa masalahnya adalah Nisa sedang sariawan dan tak berselera makan, lauk pun habis. Kucoba menawarkan solusi. Untuk nasi yang tersisa sekitar 2-3 suapan begitu, setengah telur bisa jadi solusi. Kebetulan di kulkas tersedia telur kocok sisa adonan nugget tadi pagi.
Akhirnya Nisa membuat dadar sisa telur itu dan akhirnya ia pun tak jadi mubazir. Hati ibu senang, Nisa pun kenyang.


#hari4
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



Komunikasi produktif #day 3: Menawarkan pilihan

Hari ini kembali aku mencoba mengendalikan diri dalam berkomunikasi dengan anak gadisku yang kini mulai beranjak remaja. Saat kemandirian mulai ia peroleh saat itu juga tantangan mendidik mulai terasa. Seolah keakuan gadis saya yang satu ini mulai terlihat. Tak ingin didikte juga tak mau dianggap anak kecil lagi.

Sepulang sekolah, seperti biasa karena hari ini adalah hari Sabtu, yang otomatis aku tak masuk kantor. Tapi entah mengapa pekerjaan di rumah rasanya tak ada habisnya. Termasuk tumpukan piring kotor sisa sarapan masih bergunduk di wastafel dapur. Tak terasa jam menunjukkan pukul 11.00 artinya saatnya anak2 pulang termasuk gadisku ini.

Sejam setelah kedatangannya. Aku menyodorkan puring kotor untuk dicuci. Wajah cemberut membalas permintaanku ini. Berkutat dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya, ditambah dengan mengurus bocah 10m membuat darah saya nyaris kembali bergolak panas. Syukurnya aku masih bisa menguasai diri.
Kucoba menawarkan pilihan antara menunda hingga habis shalat dhuhur atau mengganti dengan pekerjaan lainnya, yaitu mengangkat dan menjemur baju yang telah dicuci beronde-ronde dan menunggu untuk dijemur.  Nisa kemudian memilih untuk menjemur baju dan menunda sampai usai shalat dhuhur atau sejam kemudian. Aku bergumam “ okelah, tapi usai shalat, jemurnya tanpa diingatkan lagi, yah?” Gadisku mengangguk pelan. Baiklah, tak apa hari ini aku yang mengeksekusi gundukan piring dan panci sisa tadi pagi yang lumayan banyak tersebab usai dipakai menyiapkan bekal si ayah beserta semobil kawan-kawannya untuk dibawa Safar ke Malino.


#hari3
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Jumat, 07 September 2018

Tantangan Komunikasi Produktif #day 2


Seperti biasa, setiap shubuh sebelum berangkat ke mesjid, suami bertugas membangunkan anak-anak, sedang saya berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan bekal sekolah mereka. Satu kebiasaan Nisa adalah saat bangun dia akan berlama-lama di pembaringan, membuat saya tak henti-hentinya mengingatkan dari balik dapur untuk mengambil wudhu. Tak jarang drama perseteruan antara ibu anak bermula disini. Saat panggilan yang kesekian tak digubris, maka meluncurlah nasehat yang lebih mirip keluhan sang ibu bak air mengalir deras menuju lembah. Maka tak jarang wajah cemberut, hentakan kaki Nisa mewarnai langkahnya menuju tempat wudhu.  

Tapi pagi ini,
Saya berusaha mengendalikan emosi tak terpancing suasana. Saya mencoba berkomunikasi ramah. Mengendalikan intonasi dengan kalimat yang tak memantik emosi Nisa.
Akhirnya kami mampu melewati drama yang hampir saja terulang tanpa saya harus mengangkat suara. Dengan sedikit bujukan dan kalimat pujian tentunya.

Saat jadwal cuci piring yang biasanya ia lakukan sore hari, saya tak perlu bersitegang mengingatkan.
Kali ini  saya mengatakan apa yang saya inginkan. “Ibu ingin engkau mencuci piring sore ini agar esok pagi peralatan masak ini siap dipakai. Jika tidak kakak bisa telat ke sekolah karena sarapan juga terlambat tersedia bersebab ibu harus mencuci peralatan masak dulu baru kemudian memasak sarapan.
Meski diawal ia sempat menunjukkan penolakan dengan wajah cemberut. Tetapi tak sampai membantah dan berlama-lama menunggu instruksi yang sama lagi. Alhamdulillah, lumayan bisa menghindarkan drama ibu anak sore ini. Ia kemudian mencuci piring dengan wajah datar tak menampakkan kekesalan.

Di malam hari, Nisa mengeluhkan lidahnya yang perih akibat sariawan.

Saya mencoba berempati sekaligus mengganti nasihat dengan refleksi pengalaman dengan mengatakan “Sariawan memang rasanya perih, apalagi jika di lidah. Kakak perlu banyak asupan air dan minum madu agar sariawannya bisa sembuh. Ibu juga kadang sariawan, terlebih jika ibu sering membantah ayah. Mungkin Allah sedang menegur ibu. Jadi sebenarnya sakit itu bisa jadi sebuah teguran agar lisan lebih terjaga. Juga bisa menjadi penggugur dosa-dosa. Maka ibu bersabar dab perbanyak istighfar agar Allah menyembuhkan”.
Mendengar itu, Nisa tak berwajah cemberut seperti biasa jika dinasehati. Kali ini dia hanya terdiam tanpa menunjukkan wajah penolakan ataupun cemberut.   Seolah kalimat itu benar adanya dan baik baginya. Syukurlah. Hari ini terlewati dengan komunikasi minim teriakan dan juga wajah cemberut Nisa. Semoga dihari berikutnya peningkatan komunikasi produktif lebih terlihat.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif #day 1

Menjawab Tantangan 10 hari tentang komunikasi produktif di hari pertama ini, aku memilih anak keduaku Zahidatun Nisa 11y sebagai objek tantangan kali ini. Pemilihannya bukan tanpa alasan. Dikarenakan ia yang anak tertua saat ini menggantikan si sulung yang telah mondok. Otomatis frekuensi komunikasi saya lebih banyak ke dia. Sebab bebannya dibanding kedua adiknya lebih besar terutama saat dimintai bantuan mengurus adiknya. Selain itu, ia menjadi pusat percontohan sikap adiknya tentunya setelah kami selaku orang tua.

Satu hal yang mengganggu komunikasi kami selama ini adalah sikapnya yang kadang membuat darah saya mendidih. Menyela saat dinasehati, atau menunda pekerjaan yang telah menjadi kesepakatan bersama. Saya sadar jika selama ini penyebab utamanya adalah komunikasi saya ke dia yang kurang produktif. Setelah mendapat materi bagaimana berkomunikasi produktif  pada anak dan pasangan, Saya kemudian menyadari kesalahan komunikasi saya selama ini yang cenderung bossy. Sebuah pola komunikasi yang mirip antara bos dan bawahan. Tanpa pilihan suka atau tidak suka selama sang bos merasa itu benar dan baik. Padahal anak pun adalah individu yang memiliki preferensi sendiri yang layak dihargai.

Hari ini seperti biasa, malam Jumat adalah giliran saya piket malam di sekolah boarding. Seperti biasa anak-anak sudah menanti dan mempersiapkan diri untuk ikut mengantar saya piket malam ini. Maka dengan penuh semangat mereka memaksa diri tidur siang agar bisa tetap terjaga meski pulang jelang larut malam. Namun kemudian piket saya batal berhubung ada kegiatan lain di sekolah. Akibatnya, anak-anak dengan penuh kecewa menumpahkan kekesalan. Mulailah kata-kata rengekan dan komplain meluncur dari lisan-lisan mereka tak terkecuali Nisa yang saat itu sudah sangat antusias mempersiapkan segalanya.


Aku berusaha mendengar dan tetap tenang meladeni kalimat kekecewaannya. Biasanya amarahku akan tersulut jika ditodong seperti itu. Tapi...

Aku mencoba menenangkan diri, mengendalikan intonasi dan menggunakan suara ramah.
Kujelaskan secara gamblang dan kutawarkan alternatif pengganti. Dan Nisa menyarankan alternatif keluar ikut ayah ke dokter gigi menemani sang adik. Alhamdulillah, akhirnya drama berakhir aman dan damai tanpa amarah dan bentakan dari kedua belah pihak. Namun yang mengejutkan diakhir jelang keberangkatan, kakak Nisa membatalkan, katanya ingin menemani ibu dan Dede bayi di rumah, agar ibu tak kesepian ditinggal, duh...anak Sholehahku.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional


Roti (Sandwich) Dadar Telur



Sejak awal penciptaannya, roti telah dimakan dengan makanan lain. Sejarah mencatat orang bijak Yahudi kuno, Hillel, yang menyuruh untuk membungkus daging domba di antara 2 potong roti selama perayaan Paskah. Konsep sandwich diperbarui di abad pertengahan, yaitu lempengan tebal kasar dan biasanya roti basi, yang disebut “trenchers”, yang digunakan sebagai piring. Karena sudah basi, trencher tidak dimakan, biasanya diberikan kepada pengemis atau anjing. Trencher inilah cikal bakal open sandwich.

Nama “sandwich” sendiri baru ditemukan pada abad ke – 18 secara tidak sengaja oleh bangsawan Inggris, John Montagu, seorang Earl of Sandwich IV. Montagu sangat suka bermain kartu sehingga tidak memiliki waktu untuk makan. Ia menyuruh pelayannya untuk membawakan daging sapi yang disajikan di antara 2 potong roti, sehingga ia bisa makan sambil tetap bermain kartu. Pesanan ini diikuti oleh teman-temannnya, mereka memesan, “Yang sama seperti Sandwich”. (http://worldofhistories.blogspot.com/2011/09/sejarah-sandwich.html?m=1 )

Kebiasaan si Dede baby, jam 4 shubuh bangunin emaknya buat menyusu. Sekalian jadi alarm hidup buat emaknya agar bangun cepat buat masak di dapur meski si android dengan setia  bersahutan membangunkan dengan tanpa lelah.

Fajar sebelum azan saya sudah bangun buat nyiapain bekal anak-anak. Pas diwaktu mustajabnya do'a saat waktu terbaik buat shalat lail pada sepertiga malam terakhir. Tapi saya malah berkutat di sekitar dapur karena kalau telat dikit dijamin ngantornya jg telat. Hikz.

Kebetulan daging kurban masih tersisa sedikit di kulkas. Juga tersedia 2 butir telur. Saya coba campur aja biar jadinya banyak (resiko krucil2nya banyak, hehehe). Didadar dengan ditambahkan sedikit lada dan garam. Dengan tambahan daun bawang ataupun seledri juga pasti endeus. Hanya saja krucil pada gak doyan jadi..yah di skip aja. Sebenarnya telur mata sapi juga bisa. Hanya karena krucil2nya ada 3, jadi ya itu tadi... Ga cukup nantinya. Jadilah diolah menjadi dadar telur biar banyak, hahaha.

Sebenarnya si kakak Nisa ga doyan sama kudapan asin tapi si Syifa malah doyan, kl si d
ede Syafiq sepertinya dua2nya oke yang penting bisa dimakan, hahaha. Jadi... pagi ini saya buat dua versi. Manis dengan campuran susu SKM, coklat seres, keju dan rasa asin dengan sandwich telur dadar.

Untuk versi Sandwich manis rasanya udah jadi resep sejagad... Jadi kagak usah dipamer (eits). Nah kalau versi asinnya ini sih juga sudah mulai jadi resep sejagad alias viral. Awalnya dapet info resep dari kakak ipar yang katanya anaknya di pondok sering jajan roti isi telur dadar dengan garnish sambal doang. Katanya maknyus...wah jadi pengen nyobain. Tapi kali ini telurnya dimodif biar gak terkesan plagiat  (emang).

Wah kebanyakan cerita nih (biasalah emak2 harus mengeluarkan 20.000 kata perhari, hahaha). Buat emak2 pemula kayak gue (yang mahir ga usah dilirik yah, hihihi...) Yuk intip resep asal campur berikut:

Bahan:
Roti Tawar 6 lembar
Keju lembar/parut secukupnya
Daging ayam/sapi/seafood cincang  (bisa di skip)
Saus sambal secukupnya
Telur 2 butir
Lada 1/2 sdt
Garam secukupnya
Mentega/margarin

Cara membuat:
Kocok telur+daging cincang+ lada+garam. Buat dadar (usahakan selebar roti).sisihkan.

Oles roti dengan margarin/mentega, bakar kedua sisi roti di teflon hingga garing dan kecoklatan (saya suka kalau ada hangus-hangusnya dikit karena jadi krispi+wangi). Susun roti+saus+telur dadar+saus+keju. Bagi yang suka bisa ditambahkan irisan selada, tomat dan ditambahkan mayonais (anak2 dak suka jadi di skip aja). Sajikan hangat. Yummy...

Kamis, 06 September 2018

Dua Anak Lebih, Baik.


Aku termasuk perempuan yang katanya 80% ibu hamil akan merasakan sulitnya masa ngidam, juga lumayan sulit melahirkan dibandingkan cerita emak2 lainnya yang hanya 2-3 jam sakit trus brojol dibanding saya yang harus  begadang bahkan kadang sampai 2 malam kesakitan. Trus saat baby dah lahir, ia sudah harus dipersiapkan buat mandi jam 6 pagi karena profesi emaknya sebagai working mom. Maka tak heran jika tak sedikit yg greget melihat jumlah momongan saya makin bertambah. Udah badan pendek, ngidam sulit, melahirkan susah plus working mom tanpa asisten RT atau bahkan jauh dari bantuan pengasuhan ortu. “Gak kapok2 yah” gitu katanya. Yah wajar lah itu salah satu opini simpatik jg.

Memilih bersusah payah dengan jumlah dan jarak anak yang nyaris menyaingi anak tangga bukanlah tanpa alasan. Kerepotan demi kerepotan dalam masa pertumbuhan anak-anak seolah menjadi rutinitas yang biasa. Abai mencuci dalam sehari dijamin cucian numpuk sampai beronde-ronde. Belum terlipat sekeranjang datang sekeranjang lain menunggu cantik di jemuran. Kondisi rumah lebih sering mirip kapal pecah membuang jauh mimpi interior rumah serapi iklan2 di tv. Kegaduhan rumah jangan ditanya. Tidur siang pulas rasanya telah menjadi kenangan masa lalu seperti saat masih single. Maka tak heran hari gini masih memilih beranak banyak seolah hidupnya kurang modern.

Terlahir sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara dari pihak ibu dan ke 12 dari pihak ayah menjadi salah satu alasan. Bisa terbayang jika ibu memilih membatasi anaknya hanya sepasang maka hari ini mungkin aku tak sedang menghirup udara dunia. Tak akan berlanjut keturunan ayah ibuku dari  rahimku, maka menghargai posisi sebagai anak kesekian sekaligus bentuk kesyukuran bisa jadi alasan pertamaku.

Setelah mendapat hidayah melalui halaqah tarbiyah, mulai faham bahwa memperbanyak anak itu SUNNAH bukan sekedar minjem istilah tempo doeloe “banyak anak banyak rejeki”. Termaktub dalam beberapa hadist sahih bahwa salah satu rekomendasi Rasulullah wanita yang baik untuk dinikahi yang penyayang lagi banyak anak alias subur (alwaduud). Sebab Rasulullah akan berbangga di hadapan umat lain dengan jumlah umatnya yang banyak. Maka wajar mereka yang mengaku belajar mencintai Sunnah terkesan memilih berlelah memperbanyak anak. Selain juga sebagai aset kelak saat raga telah berkubang tanah yang do’anya diharapkan.  Akan berbeda do'a dari yang jumlah anaknya banyak dan didik sholeh. Tentu saja tanpa bermaksud menafikan mereka yang ditakdirkan berbeda diluar pilihannya.

Alasan lain yang kemudian semakin menyemangati pilihan ini adalah bahwa berketurunan banyak ternyata berkontribusi dalam mempertahankan kebudayaan islam. Indeks kelahiran dibawah 1,9 % pertahun diyakini akan menghapus sebuah kebudayaan bangsa dan hal inilah yang dikhawatirkan negara maju dimana indeksnya menurun dibawah standar, hanya saja imigrasi yang membuatnya stabil. Kalau di Indonesia bagaimana?  Semula, jumlah umat Islam di Indonesia mencapi 95 persen dari seluruh jumlah rakyat Indonesia. Secara perlahan terus berkurang menjadi 92 persen, turun lagi 90 persen, kemudian menjadi 87 persen, dan kini anjlok menjadi 85 persen. Saya yakin pembatasan jumlah kelahiran muslim berkonstribusi besar dalam menurunkan statistik ini selain dari kasus murtad.

Maka seyogyanya umat ini harusnya menghargai dan berterima kasih pada mereka yang rela berlelah memperbanyak anak bukan malah melihat sebagai sebuah pemandangan “aneh” plus  miring seolah intensitas jima’ mereka lebih sering dibandingkan mereka yg memilih membatasi, padahal saya yakin tak ada bedanya, toh masa subur setiap wanita seragam sekali sebulan. Mereka berjaza mempertahankan bahkan menstabilkan indeks kelahiran muslim agar kebudayaan Islam tak tergerus seperti prediksi yang menyatakan bahwa  di tahun 2035 muslim bukan lagi penduduk mayoritas di negeri ini tapi akan sejajar jumlahnya dengan umat lain. Berbanding terbalik dengan prediksi jumlah kelahiran muslim di negara barat yang semakin meningkat.

Maka terima kasih ibu ayah rahimahumaallah yang  telah memilih berlelah melahirkan dan mendidik kami ditengah keterbatasan ilmu dan ekonomi yang kemudian melahirkan keturunan dari rahim anak-anakmu yang keseluruhan jariku tak bisa lagi digunakan untuk menghitungnya (aku lupa sudah berapa jumlah ponakan saking banyaknya, yang Kutau kalau dikumpul muatnya lebih dari 1 bus, Alhamdulillah 'ala kulli hal).

*Ummu Zaki

Menghadirkan nuansa surga di rumah

Menghadirkan Nuansa Surga di Rumah


Suasana surga yang tak cukup  dideskripsikan dengan seluruh perbendaharaan kata indah bukan berarti mustahil dihadirkan dalam rumah kita. Baitii Jannatii rumahku adalah surgaku. Adalah sebuah ungkapan dari sang teladan hidup Muhammad Rasulullah shalallahu alayhi wasallam cukuplah menjadi bukti bahwa atmosfer damai nan bahagia sebagai salah satu nuansa surga bisa tercipta dalam rumah kita.

Namun rumahku surgaku akan terasa sulit bila jumlah anggota keluarga kita telah bertambah dengan kelahiran buah hati. Terlebih jika jumlahnya tak sedikit dengan jarak yang berdekatan. Maka bisa jadi pertengkaran dan teriakan mewarnai  keseharian bocah-bocah kita. Hal ini bisa membongkar kesabaran orang tua dan kemudian teriakan, ancaman atau bahkan pukulan tak jarang dianggap sebagai solusi. Bila hal ini telah menjadi perulangan maka bagaimana rumah kita bisa menjelma menjadi surga dunia?

Bertengkar, teriak atau saling usil diantara anak-anak kerap kali membuat kewarasan ibu ayah di rumah sedikit terganggu. Apalagi jika tema pertengkaran itu adalah hal sepele atau bahkan memperebutkan benda tak berguna yang kemudian setelahnya akan diabaikan. Terkadang kita sebagai orang tua hanya bisa menggeleng kepala menepikan benda yang baru saja diperebutkan berakhir di tempat sampah tanpa satupun dari mereka ingin meliriknya lagi.

Selain pertengkaran, polah tingkah anak-anak yang sedang masa pertumbuhan bisa memicu stress orang tua bila tidak cukup mental mempersiapkan diri akan kondisi demikian. Maka berbagai macam reaksi akan muncul. Mulai dari bentakan, teriakan atau bahkan cubitan dan pukulan mendarat di tubuh mungil sang anak yang kemudian akan berakhir dengan penyesalan mendalam saat mereka  terlelap dalam buaian.

Tak terkecuali keluarga kami. Hal serupa pun terkadang mewarnai kehidupan anak-anak kami yang tak sedikit. Meski teori parenting dasar telah dilahap saat mereka belum lahir atau bahkan sebelum ijab Qabul terucap, membekali diri dengan ilmu syar'i dasar dan beberapa adab harian, namun pada kenyataannya teori tak cukup mudah diaplikasikan. Teori tak seindah praktek. Dan selalu saja praktek melenceng dari teori yang kemudian berakhir dengan rasa bersalah mendalam.

Akhirnya kami berdiskusi mencoba mencari penyelesaian  dan metode untuk menciptakan rumah surgawi. Rumah minim pertengkaran dan suara teriakan. Rumah yang senantiasa akan  menjadi kenangan yang dirindukan saat mereka telah memilih jalan masing-masing. Kami tak ingin masa kecil mereka menjadi momen traumatis atau bahkan menyisakan dendam masa lalu yang kemudian akan dilampiaskan tanpa sadar pada generasi selanjutnya. Kami khawatir mendidik mereka merupakan pengalaman membentuk kebiasaan baik dengan cara yang salah sehingga meninggalkan kenangan yang menyesakkan dada. Jangan sampai hingga mereka dewasa dan telah berubah status menjadi orang tua namun mereka belum selesai dengan masa lalunya yang kemudian siklus sama kembali terulang.

Maka mulailah kami berburu ilmu parenting yang selama ini terabaikan oleh rutinitas yang cukup menguras perhatian.  Mengoleksi buku-buku pendukung dan mengeksekusi buku lama yang selama ini hanya menghias pustaka mini kami. Mengikuti akun yang memiliki visi dan misi yang sama, grup-grup parenting di medsos dan membaca artikel-artikel terkait yang bertebaran di dunia maya.  Meski praktek tak selamanya sesempurna teori namun setidaknya ada usaha kami demi perbaikan pola asuh anak yang kelak do'anya kami rindukan terlebih saat jasad telah berkubang tanah.

Selanjutnya evaluasi sebagai orang tua juga dilakukan. Muhasabah diri dalam mendidik mereka. Mengoreksi kesalahan-kesalahan pengasuhan yang selama ini kami anggap hal lumrah dan manusiawi yang sesungguhnya tak demikian bila merujuk pada teori parenting. Maka keteladanan kami mulai aktifkan kembali. Memulai dari diri kami sendiri untuk mengontrol emosi, suara dan bahkan meminimalisir pertengkaran yang bisa jadi merupakan model yang mereka tiru selama ini.

Selanjutnya kami  mencoba menerapkan metode Bintang Minus pada anak. Memberi reward bintang bila melakukan hal baik, dan minus bila sebaliknya. Tak lupa mengajak mereka merumuskan hal baik yang perlu dibiasakan dan hal tak baik yang perlu dipangkas. Hasil pengumpulan Bintang setiap anak akan dikurangi dengan total minus. Yang kemudian jika hasil akhirnya masih menyisakan banyak bintang pada jumlah tertentu, maka sebuah hadia menarik akan diberikan. Sebaiknya hadiah dibicarakan sebelum metode dijalankan agar bisa menjadi motivasi.

Saat ini Alhamdulillah metode ini cukup efektif menumbuhkan kebiasaan baik dan meminimalisir hal-hal yang tak kami harapkan.  Mereka mulai berlomba melakukan hal baik yang awalnya demi berburu bintang. Mengurangi aktifitas yang berada pada ranah tak baik sesuai item yang telah kami susun bersama. Setelah pola pembiasaan hal baik pada beberapa item terbentuk dan perilaku tak baik mulai lenyap maka dirumuskan kembali poin aktifitas baik dan tak baik sesuai kebutuhan berdasarkan rumusan bersama dengan melibatkan anak. Sehingga pada akhirnya akan menjadi kebiasaan permanen yang kemudian menjelma menjadi karakter dasar. Maka orang tua akan menuai hasil manis tanpa perlu memaksakan kehendak mengangkat suara atau bahkan melayangkan pukulan untuk membentuk generasi Sholeh dan Sholehah penyejuk mata. Pada akhirnya impian baitii jannatii, rumahku adalah surgaku bisa terwujud.

#ummu zaki
Bintang minus si krucil

Puding agar kopi

Puding Agar Kopi 

Hari ini bingung pengen nyiapain bekal puding buat si krucil. Tapi maunya puding yang belum pernah dicoba oleh customer cilik saya. Maklum mereka kadang sedikit cerewet soal rasa. Apalagi sudah setahun ini kami tak membekali mereka dengan uang jajan. Melihat varian jajanan diluar yang saya pun sendiri sebagai orang dewasa kadang tergoda dengan penampakannya yang menggoda iman namun sehat tidaknya masih tanda tanya bagiku. Berhubung yang tersedia cuma agar-agar plain jadi dieksekusi aja sesuai stok yang tersedia. Intip isi kulkas, ada semug santan cair tersisa dari olahan sayur kemarin. Juga tersedia putih telur sisa olahan bekal kemarin. Awalnya  pengen masak puding rasa coklat, tapi saya langsung teringat kalau si customer cilik saya kadang  suka bosan soalnya sudah keseringan buat bekal sekolah dengan rasa satu ini. Yah udah cari ide lain dan mata saya tertuju pada kopi kiriman paman yang terpampang manis di depanku. Hmm ...kenapa tidak saya mencoba nyemplungin ke puding saya nantinya. Beginilah, saat lagi masak ide kadang muncul sendiri. Yah saya termasuk yang kadang kreatif saat kepepet tak salah istilah the power of kepepet ternyata nyata adanya, hehehe. 

Yuk eksekusi pudingnya:

Bahan:
  1. Agar plain 2 bungkus
  2. Santan cair 5 gelas belimbing
  3. Gula pasir 5 sdm
  4. Kopi instan 1 sdm
  5. Susu kental manis sachet 1 bks (boleh diganti susu cair atau susu bubuk yang dicairkan)
  6. Putih telur 2 (saya pakai telur itik, bisa pakai telur ayam negeri). Kocok kaku.

Cara membuat:
Campur Agar+santan+gula+susu+ kopi dalam panci. Masak sambil diaduk. + Kocokan putih telur yang telah kaku sambil tetap diaduk . Matikan kompor. Tuang ke cup puding atau wadah lainnya. + Topping sesuai selera. 

Taraaa.... Ini dia penampakannya setelah jadi.

 

Pembelajaran Daring: Memanusiakan manusia dimasa pandemi

Istilah pembelajaran memanusiakan manusia telah kita kenal jauh sebelum terjadi pandemi global ini. Sebuah judul buku yang pernah menjadi be...